Posted on: 10 April 2020 Posted by: admin Comments: 0

Lemah Namun Kuat

Kemudian dari darahnya haruslah diambil sedikit dan dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas, pada rumah-rumah di mana orang memakannya… darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir. — Keluaran 12:7, 13
Cara Allah tidak terpikirkan, jauh melampaui hitung-hitungan nalar dan strategi manusia. Bagaimanakah membebaskan umat Israel dari perbudakan di Mesir? Dengan perhitungan dan pengertian kita tentang kuat dan kuasa maka Mesir — bangsa super power pada zamannya — harus ditaklukkan, dilumpuhkan oleh kekuatan besar yang melampaui kekuatan militernya. Tetapi TUHAN Allah menaklukkan Mesir dengan tanda-tanda mukjizat yang dalam perhitungan manusia adalah zat dan makhluk lemah tidak berarti. Air dijadikan darah, nyamuk, lalat pikat, penyakit yang menyerang binatang, penyakit sampar, belalang, dlsb. Semua ini dalam hitung-hitungan umum manusiawi tidak masuk hitungan bahwa dapat menjatuhkan sebuah bangsa digdaya seperti Mesir. Tetapi, nyatanya itulah yang terjadi. Itulah perbuatan-perbuatan besar Allah.
Lebih di luar prakiraan manusia adalah terpaan terakhir yang mekumpuhkan Mesir — maut atas semua yang sulung — dilalukan, tidak diberlakukan, dikecualikan dari Israel dengan cara pengolesan darah di ambang pintu kediaman mereka, Bagaimanakah melawan maut? Hampir pasti tidak mungkin ada cara atau kuat dan kuasa dapat melawan maut. Paling mungkin adalah menghindar, mengelak darinya. Tetapi ada cara yang TUHAN Allah sendiri berikan dan karuniakan kepada umat-Nya yaitu dengan maut juga. Kematian anak domba Paskah, pencurahan darah anak domba Paskah, pengolesan darah anak domba itu di kerangka pintu-pintu rumah mereka menjadi tanda yang membuat maut berlalu. Tanda darah — tanda nyawa telah dicabut oleh maut menjadi cara TUHAN Allah melalukan maut. Maut mengalahkan maut. 
Betapa mudahnya kita seperti orang Yahudi zaman Yesus yang mengikuti cara pikir manusiawi-duniawi tentang kuat dan kuasa. Mesias tidak mungkin mati, Allah beserta dia. Mesias pasti kuat dan kuasa dan menang. Itu sebabnya Yesus yang mengajarkan dan menggenapi prinsip kuat-kuasa Allah, kemenangan dari Allah, kemuliaan ilahi dengan menjalani jalan perendahan diri, penderitaan dan kematian mereka tolak. Kita pun meski mengaku pengikut Yesus sering hanya menekankan aspek kebangkitan, kemenangan, kenaikan Yesus saja — dan dengan demikian kita menjadi sama dengan dunia ini dalam meyakini tentang kuat-kuasa dan kemenangan tanpa penderitaan. Kita lupa bahwa tidak ada semua itu tanpa sebelumnya ada penundukan diri, perendahan diri, pengosongan diri sampai menjadi hamba dan mati disalib. Tanpa salib tidak ada kubur kosong, tidak ada mahkota kemenangan.
Wabah yang akhir-akhir ini memporakporandakan dunia menyadarkan kita betapa semu dan salah konsep dunia dan juga lembaga-lembaga keagamaan termasuk gereja tentang kuasa, keberhasilan dan kemuliaan. Ternyata berbagai hal yang selama ini menjadi andalan dan kebanggaan dalam sistem penataan hidup di dunia ini menjadi goncang ke akar-akarnya — bahkan tumbang! Inilah saat untuk kita secara pribadi, keluarga, gereja, komunitas dan bangsa-negara menyadari dan mempraktikkan hal-hal basic yang selama ini diabaikan seperti perendahan diri, doa, membaca-menyimpan-melakukan firman Tuhan dalam Alkitab, berlindung dalam dan mempraktikkan janji hadirat Tuhan Yesus dalam Roh Kudus, danbanyak kebenaran lain dalam spiritualitas Kristen yang kita biarkan tertidur selama ini. Mari kita tidak terus mengilahikan yang fana yang bukan Allah sejati. Mari kita belajar mengejar perilaku dan karakter yang bernilai kekal dan yang sungguh mulia di mata Tuhan dan bukan mengejar kemuliaan yang sejatinya lemah bahkan hina. Dan mari kita terima bahwa jalan-jalan Allah yang menghadirkan kuat-kuasa-Nya kadang bahkan kebanyakannya datang melalui kelemahan dan ketidakberdayaan. 
Mari kita para pengikut Yesus memiliki komitmen menapaki Jalan Sengsara — Via Dolorosa yang Dia telah lebih dulu jalani dan contohkan bagi kita, supaya sepanjang hidup ini kita mengalami keajaiban kuat-kuasa-Nya yang melampaui bijaksini manusia, dan pada waktu-Nya kita sampai di kemenangan dan kemuliaan kekal kelak. Amin. 
Renungkan lebih jauh: Filipi 2:5-8; 2 Korintus 12:9; Lukas 1:51-52; 1 Korintus 12:22-24.

Mari memberkati sesama melalui pelayanan literasi Yay. Simpul Berkat. Kirim dukungan Anda ke: BCA 0953882377

Categories:

Leave a Comment