Posted on: 28 Agustus 2020 Posted by: admin Comments: 0

Daniel 8:22-25:

Dan bahwa tanduk itu patah dan pada tempatnya itu muncul empat buah, berarti: empat kerajaan akan muncul dari bangsa itu, tetapi tidak sekuat yang terdahulu (terjemahan lain: bukan dengan kekuatannya sendiri). Dan pada akhir kerajaan mereka, apabila orang-orang fasik telah penuh kejahatannya, maka akan muncul seorang raja dengan muka yang garang dan yang pandai menipu. Kekuatannya akan menjadi hebat, tetapi tidak sekuat yang terdahulu (terjemahan lain: bukan karena kekuatannya sendiri), dan ia akan mendatangkan kebinasaan yang mengerikan, dan apa yang dilakukannya akan berhasil; orang-orang berkuasa akan dibinasakannya, juga umat orang kudus. Dan oleh karena akalnya, penipuan yang dilakukannya akan berhasil; ia akan membesarkan dirinya dalam hatinya, dan dengan tak disangka-sangka banyak orang akan dibinasakannya; juga ia akan bangkit melawan Raja segala raja. Tetapi tanpa perbuatan tangan manusia, ia akan dihancurkan.

Segera kerajaan Yunani pecah menjadi empat ke antara empat para jenderalnya pada 322 SK, dan melibatkan perang selama dua puluh dua tahun. Pada 301 SK, sesudah kekalahan Antigonus dan putranya Demetrius di Perang Ipsus, muncullah empat tanduk yang lebih lemah menggantikan tanduk kuat sebelumnya. Perang dimenangi oleh konfederasi Cassander, Lysimichus, Ptolemius, dan Seleucus yang mendirikan empat kerajaan – Cassander atas Yunani dan Makedonia, Lysimichus Asia Kecil, Ptolemius Mesir, Siria dan Palestina, dan Seleucus Asia Utara.

Penglihatan Daniel kemudian berfokus pada salah satu tanduk yaitu pada raja dari garis Seleucus, yaitu pada raja ke delapan dari dinasti tersebut, Antiokhus Epifanes. Penjelasan tentang dia di pasal ini hanya singkat. Ia disebut sebagai “tanduk kecil” yang membesarkan diri ke selatan, timur, dan tanah permai. Semasa mudanya tidak seorang pun menduga bahwa di masa depan ia akan menjadi besar. Ia adalah anak lebih muda dari Antiokhus III (yang Agung). Antiokhus III kalah sangat parah di Perang Magnesia di kaki Gunung Sipylus (190 SK). Infanterinya 50,000 orang dan 4,000 kuda dibantai di medan perang itu, dan 1,400 ditawan. Singkatnya Antiokhus Epifanes ini naik takhta menggantikan Antiokhus III dengan secara licik dan kejam menyingkirkan yang berhak naik takhta, yaitu Seleucus Philopator. Antiokhus Epifanes ini menjadi berkuasa dengan cara licik, kejam, dan karena kegilaannya. Selanjutnya tanduk kecil membesar ini yang juga telah disorot di penglihatan pertama sebagai monster menakutkan melakukan berbagai kekejian dan kejahatan lain. Antaranya, meninggikan diri melawan bala tentara langit, melawan Raja atas segala raja, menajiskan penyembahan Bait, membunuh para orang kudus, dan banyak lagi kekejian dan kekejaman lain dibuatnya.

Ada beberapa catatan menarik dalam penjelasan Gabriel tentang tanduk kecil yang membesarkan diri itu. Pertama, menurut ayat 9 tanduk itu akan menanduk juga ke Tanah Permai. Tanah Permai adalah Tanah Perjanjian, artinya ia akan menyerang ke sana dan melakukan berbagai kejahatan, aniaya atas umat Tuhan dan kekejian terhadap praktik-praktik ibadah yang berlaku di Israel. Penyebutan Tanah Petrmai untuk Tanah Perjanjian itu antara lain di Yehezkiel 20:6, dan Daniel 11:16, 46, juga Mazmur 48:2-3. Ingat bahwa Tanah Perjanjian disebut sebagai tanah yang limpah susu dan madunya di era Keluaran.

Kedua, kekuatannya yang hebat menurut penjelasan malaikat / di mata Tuhan itu “bukan karena kekuatannya sendiri” atau dengan kata lain berasal dari luar dirinya, yaitu kekuatan iblis. Itu sebab Antiokhus Epifanes ini menjadi bayang-bayang dari antikristus, yang dalam kitab wahyu adalah binatang buas nabi dari naga atau ular tua.

Ketiga, penglihatan Daniel bahwa tanduk itu sampai menyerang bintang-bintang di langit yang berjatuhan dan diinjak-injak olehnya, dalam penjelasan malaikat itu adalah simbol dari aniaya yang disebabkan Antiokhus Epifanes IV atas umat Tuhan (orang-orang kudus diberikan sebutan bintang-bintang. Kelak Daniel menyebut lagi orang-orang benar akan menjadi seperti bintang-bintang bercahaya di langit) di tanah perjanjian. Tentang detail peristiwa-peristiwa sejak Alexander Agung sampai ke Antiokhus Epifanes IV ini bisa dilihat dalam tafsiran oleh David Guzik, Expositor’s Bible, Albert Barnes, dan John Gill di ESword Bible secara offline.

Keempat, meski tanduk kecil itu digenapi dalam pemerintahan keji Antiokhus Epifanes, si monster di pasal 7, ternyata malaikat menjelaskan bahwa peristiwa itu adalah yang akan terjadi di “akhir masa” (ay. 17), akhir murka dan akhir zaman (ay. 19). (Dalam terjemahan harfiah LITV – “the time of the end (17), — “the last time of the indignation” dan “the time appponted for the end” (19). Tidak jelas apakah ini bicara tentang akhir dari masa pembuangan umat Tuhan, atau akhir dari aniaya-aniaya oleh Antiokhus, atau akhir zaman nanti. Apabila kita merujuk ke penglihatan tentang batu gunung oleh Nebukadnezar, pemerintahan Kerajaan Kekal oleh yang seperti Anak Manusia, maka boleh jadi domba dan kambing ini bukan saja digenapi di era Media-Persia, Yunani dan Romawi, tetapi akan berulang lagi di zaman-zaman berikut sampai ke akhir zaman saat Maranatha! Yang Lanjut Usia dan Yang Seperti Anak Manusia mengadili semua manusia, kerajaan, pemerintahan, penguasa, dan mengakhiri kekuasaan, penindasan, dan aniaya yang dilakukan oleh antikristus, lalu Langit Baru dan Bumi Baru pun mulai.

Pelajaran untuk masa kini:

1) Salah satu komentar penting dari malaikat Gabriel tentang kekuasaan dunia yang makin jahat dan mengerikan ialah bahwa kekejian dan kebahayaan semacam Antiokhus Epifanes, ternyata bukan semata karena kegilaannya melainkan datang dari si iblis. Secara hakiki, kekuatan hebat yang menindas dan menganiaya umat bahkan sampai melawan Tuhan adalah satanik. (Ingat kisah Hitler? Juga berbagai tokoh penyebab penderitaan umat Tuhan di negara tirai besi, tirai bambu, tirai hijau?) Yang menganggap / dianggap mulia, indah, kuat, dahsyat, dlsb. ternyata dalam perspektif Allah adalah hina, buruk, jahat, bahkan mungkin sekali menjadi kaki tangan si iblis. Maka kita di sini didorong untuk melihat ke sekeliling, ke kejadian-kejadian dunia, ke kebudayaan, ke panggung politik, ke segala sesuatu dengan teliti, tajam menurut perspektif dan penilaian Allah. Kita perlu berdoa memohon hikmat kearifan bukan saja untuk mengeksegesis Alkitab tetapi juga untuk mengeksegesis kebudayaan kekinian dunia sekeliling kita.

2) Sampai di pasal 8 ini saya menjadi yakin bahwa kebanyakan kita salah memahami kitab-kitab apokaliptik HANYA sebagai penyingkapan tentang kapan akhir zaman, negara atau tokoh mana saja, atau chip/robotkah yang akan tampil sebagai antikristus, dlsb. James K. A. Smith seorang karismatik yang profesor Philosophy and Applied Reformed Theology di Calvin College menulis bahwa literatur apokaliptik adalah penelanjangan (unmasking). Kita diberitahu, dibukakan, penglihatan demi penglihatan terpampang di hadapan kita secara telanjang tentang hakikat sejati dari kekuasaan, pemerintahan, kerajaan, para penguasa yang bukan bagian dari Kerajaan Allah. Di hadapan Allah, mereka yang mulia sejatinya hina, yang kaya sejatinya miskin, yang berkuasa sejatinya lemah, yang menjadi pemain utama di panggung sejarah sejatinya adalah patung metal / tanah, binatang buas, tanduk-tanduk mengerikan dan membawa banyak bencana belaka. (Poin ini, saya diinspirasi oleh James K. A. Smith, “Practicing Apocalypse: Recpgnizing Rival Liturgies,” You Are What You Love, khususnya hlm. 38-46).

3) Maka, marilah kita membaca kitab Daniel ini dengan perspektif ilahi ini, jangan hanya berfokus pada soal meramal zaman. Selain menghibur dan menguatkan, kitab apokaliptik juga memperingatkan umat Tuhan supaya jangan tergoda dengan kepalsuan para binatang dan monster itu. Bukankah Israel dan Yehuda dibuang karena mereka tertipu menginginkan yang dimiliki binatang-binatang buas itu? Kitab Daniel menyadarkan kita agar kita menjadi manusia, gambar Allah seturut dan karena memercayai serta meneladan sang Anak Manusia bukan menjadi binatang.

Dukung pelayanan literasi Yayasan Simpul Berkat | E-mail: simpulberkat@gmail.com |
Bank BCA – No. Rekening: 0953882377 – a.n. Philip H. S

Categories:

Leave a Comment