Posted on: 12 Agustus 2020 Posted by: admin Comments: 0

Daniel 7:1-8

Pada tahun pertama pemerintahan Belsyazar, raja Babel, bermimpilah Daniel dan mendapat penglihatan-penglihatan di tempat tidurnya. Lalu dituliskannya mimpi itu, dan inilah garis besarnya: Berkatalah Daniel, demikian: “Pada malam hari aku mendapat penglihatan, tampak keempat angin dari langit mengguncangkan laut besar, dan empat binatang besar naik dari dalam laut, yang satu berbeda dengan yang lain. Yang pertama rupanya seperti seekor singa, dan mempunyai sayap burung rajawali; aku terus melihatnya sampai sayapnya tercabut dan ia terangkat dari tanah dan ditegakkan pada dua kaki seperti manusia, dan kepadanya diberikan hati manusia. Dan tampak ada seekor binatang yang lain, yang kedua, rupanya seperti beruang; ia berdiri pada sisinya yang sebelah, dan tiga tulang rusuk masih ada di dalam mulutnya di antara giginya. Dan demikianlah dikatakan kepadanya: Ayo, makanlah daging banyak-banyak. Kemudian aku melihat, tampak seekor binatang yang lain, rupanya seperti macan tutul; ada empat sayap burung pada punggungnya, lagipula binatang itu berkepala empat, dan kepadanya diberikan kekuasaan. Kemudian aku melihat dalam penglihatan malam itu, tampak seekor binatang yang keempat, yang menakutkan dan mendahsyatkan, dan ia sangat kuat. Ia bergigi besar dari besi; ia melahap dan meremukkan, dan sisanya diinjak-injaknya dengan kakinya; ia berbeda dengan segala binatang yang terdahulu; lagipula ia bertanduk sepuluh. Sementara aku memperhatikan tanduk-tanduk itu, tampak tumbuh di antaranya suatu tanduk lain yang kecil, sehingga tiga dari tanduk-tanduk yang dahulu itu tercabut; dan pada tanduk itu tampak ada mata seperti mata manusia dan mulut yang menyombong.

Ayat pembuka bagian ini menegaskan bahwa Daniel sendiri kini menjadi penutur dan pencatatnya, dan penglihatan yang dicatat itu ia sendiri yang mengalaminya. Dengan merujuk ke pembahasan pendahuluan di awal explorasi Daniel ini, maka dapat kita ketahui bahwa peristiwa ini terjadi antara tahun 556 SK (ketika Nabonidus naik takhta lalu memindahkan pusat kegiatannya ke Taima) dan tahun 539 SK (peristiwa kejatuhan Babilonia ketika Belsyazar dibunuh dengan didahului peristiwa tangan menulis di dinding).

Sekilas kita mendapat kesan bahwa penglihatan Daniel ini sebenarnya menyampaikan pesan dan memaparkan perjalanan sejarah seperti yang dilihat dalam mimpi Nebukadnezar di Daniel 2. Hanya saja kita melihat ada beberapa perbedaan signifikan antara keduanya. Pertama, yang paling mencolok ialah dua penglihatan ini berbeda perspektif atau penilaian. Mimpi Nebukadnezar adalah penglihatan tentang kerajaan-kerajaan dunia dari perspektif dan penilaian dirinya sendiri. Maka, meski dibanding Media-Persia, Babilonia jauh lebih kecil, atau dibanding Yunani dan Romawi, Babilonia tidak sekuat dua kerajaan itu, tetapi Babilonia dan khususnya Nebukadnezar dilihat (oleh Nebukadnezar) sebagai bagian paling atas – kepala, dan dengan logam paling mulia – emas. Kontras dengan penglihatan manusiawi itu, semua kerajaan-kerajaan dunia dalam perspektif dan penilaian Tuhan Allah bukan bersosok manusia dengan bahan-bahan yang bergradasi dari paling mulia sampai paling hina, melainkan bersosok binatang-binatang buas. Dalam perspektif yang Tuhan Allah bukakan kepada Daniel, semua kerajaan dunia ini entah bagaimana pun hebatnya kekuatan militer, sistem politik atau berbagai faktor kejayaan lainnya, apabila tidak memihak dan berbagian dalam Kerajaan Allah tidak lebih dari binatang-binatang buas berbahaya dan menakutkan serta membawa kecelakaan. Selain menelanjangi sifat kerajaan dunia ini, penglihatan ini juga membangkitkan kewaspadaan umat Tuhan untuk tidak menaruh harap pada kemuliaan dunia yang bukan saja fana tetapi juga berpotensi jahat tetapi pada sumber kemuliaan dan kuasa sejati, kendati sementara hidup di dunia ini umatw Tuhan masih harus ada dan berperan di dalam beragam kerajaan dunia ini.

Untuk kita pembaca masa kini detail penglihatan Daniel ini sukar dipahami maksudnya. Tetapi untuk pembaca Perjanjian Lama gambaran yang dilihat Daniel itu cukup familiar. Maka dengan mencoba merujuk ke berbagai wawasan yang dibukakan dalam dunia Alkitab kita dapat meraih pengertian memadai. Dalam penglihatan itu Daniel melihat binatang-binatang buas yaitu kerajaan-kerajaan dunia itu keluar dari dalam lautan karena guncangan yang disebabkan oleh angin dari empat penjuru. Dari kisah penciptaan dan sebagaimana digemakan di banyak kitab Perjanjian Lama, lautan adalah lambang kekacauan dan di dalamnya terkandung makhluk jahat yaitu lewiatan atau naga besar (lihat Mazmur 74:12-14, 89:9; Yesaya 57:20; Yeremia 49:36; Nahum 1:4; Wahyu 17:15). Sedangkan empat angin yang dari langit – dengan merujuk juga ke kisah penciptaan di Kejadian 1 ketika Roh Allah melayang-layang di atas air, dan banyak nas seperti Ayub 38:8-11; Mazmur 24:1-2; 29:10; 35:5, 48:8, 107:25; Amsal 8:22-24; Yesaya 27:8; Wahyu 7:1 – kemungkinan besar menunjuk pada tindakan dahsyat dari Allah yang peran-Nya diwakilkan kepada Roh Allah. (Kesimpulan ini tentu karena kini di era dan dengan wahyu Perjanjian Baru kita melihat secara trinitarian). Ingat juga bahwa dalam bahasa Ibrani maupun Yunani, angin dan roh memakai kata yang sama – Ibrani: ruah. Dengan kata lain, dunia yang kacau dengan berbagai kekuatan jahat, buas dan najis di dalamnya sepenuhnya dibawah pengawasan bahkan pengendalian kuat kuasa Allah.

Mengingat penglihatan ini diberikan kepada Daniel, maka pesannya adalah untuk Daniel dan untuk umat saat itu meskipun mengingat paparan kejadiannya menyangkut masa depan dekat dan jauh dari Daniel, maka pesan ini khususnya ditujukan untuk umat di masa-masa berikut yang berada dalam pencobaan, penindasas, ancaman dan penganiayaan. Yaitu, semua gejolak dalam dunia ini, kemunculan kerajaan-kerajaan dengan kekuatan militer-ekonomi-kebudayaan yang mengancam umat Tuhan, ada dalam kendali Tuhan Allah. Karena itu umat Tuhan dapat bertahan, boleh berharap, percaya dan mengasihi Ia yang mengendalikan sejarah sepenuh hati untuk akhirnya masuk dalam Kerajaan Mulia dan Damai Tuhan Allah.

Sesudah empat angin mengguncangkan lautan, keluarlah empat binatang bergantian. Pertama, singa dengan sayap rajawali, sayap itu tercabut dan diberi kaki serta hati manusia; kedua, beruang yang berdiri miring ke salah satu sisi sambil melahap tiga tulang dan suara yang menganjurkan dia untuk melahap lagi sebanyak-banyaknya; ketiga, macan tutul bersayap empat dan berkepala empat; terakhir, binatang keempat, yang “menakutkan dan mendahsyatkan, sangat kuat, bergigi besar dari besi; ia melahap dan meremukkan, dan sisanya diinjak-injaknya dengan kakinya; ia berbeda dengan segala binatang yang terdahulu; lagipula ia bertanduk sepuluh. Lalu di antara tanduk-tanduk itu tumbuh tanduk kecil yang mencabut tiga tanduk sebelumnya, kemudian tampak pada tanduk kecil itu mata dan mulut yang menyombong.”

Penyingkapan binatang-binatang yang muncul bergantian itu menarik untuk dikaji dalam terang wawasan dunia Perjanjian Lama dan paparan tentang karakteristik masing-masingnya. Dalam peraturan imamat Lewi (19:19), semua binatang yang bersifat atau berciri hibrid dianggap najis. Maka pelukisan tentang singa bersayap rajawali, macan tutul bersayap empat berkepala empat jelas melukiskan hal-hal yang najis dan kebencian di mata Tuhan Allah yang Mahakudus. Sedangkan beruang yang sedang melahap tiga tulang jelas meski tidak digambarkan sebagai hibrid yang najis, menggambarkan kebuasan, lalu kebuasan serta kengerian sekaligus kenajisan paling dahsyat digambarkan pada binatang keempat yang adalah monster tidak mirip binatang normal sebagaimana lazimnya dikenal dalam dunia binatang. Seperti itulah perspektif dan penilaian Tuhan Allah tentang kerajaan dan kekuasaan jahat yang merajalela di dunia ini.

Pelajaran untuk masa kini:

1. Daniel mendapatkan penglihatan yang menjadi karunia Tuhan untuknya melihat peristiwa-peristiwa yang tidak begitu jauh dan yang masih jauh di depannya sesudah ia berusia lanjut, sekitar 50 – 60 tahun sesudah kisah di awal ketika ia dan kawan-kawannya bertekad memelihara kekudusan politis dan disanggupkan Tuhan mengartikan mimpi Nebukadnezar. Perlu waktu untuk pengujian komitmen dan kesetiaan hamba Tuhan sampai membuatnya beroleh perkenan dipakai bagi tugas yang lebih besar lagi.

2. Tujuan penglihatan tersebut adalah: 1) menegaskan kedaulatan dan pengendalian Tuhan Allah atas dunia ini, 2) meneguhkan iman, harap dan kasih umat kepada Tuhan Allah sejati, 3) membangkitkan kewaspadaan bagi semua umat yang masih dalam masa antara menuju tahap terakhir sejarah yaitu sementara Kerajaan Allah mewujud berdampingan dengan kerajaan-kerajaan dunia ini.

3. Di balik gemerlap kemajuan ekonomi, teknologi, militer, kebudayaan yang terjadi dalam progres sejarah umat Tuhan perlu kearifan rohani dari Roh Kudus untuk tidak terpesona dan jeli melihat kenajisan, kebuasan, kejahatan yang menjadi karakteristik kerajaan-kerajaan dunia ini. Dan dalam semua paparan ini baik yang dilihat Nebukadnezar maupun Daniel, perjalanan sejarah kekuasaan dunia akan makin jahat, membahayakan orang beriman, sekaligus mengalami degenerasi / dekadensi dilihat dari perspektif dan penilaian Tuhan Allah. Maka sejalan dengan kedaulatan Tuhan dan janji pemeliharaan-Nya, adalah tugas umat untuk hidup berjaga-jaga dan waspada dengan mata tertuju kepada sang Raja atas segala raja.

4. Kewaspadaan, kesetiaan, ketahanan umat di segala zaman hanya dapat dibangun dengan melatih habit terus menerus mengingat, melihat ke kemuliaan Allah, ke fakta Ia adalah Hakim yang Adil, Kudus, Kekal, dan Ia adalah Raja sejati, serta bertindak sesuai dengannya.

Dukung pelayanan literasi Yayasan Simpul Berkat | E-mail: simpulberkat@gamil.com |
Bank BCA – No. Rekening: 0953882377 – a.n. Philip H. S

Categories:

Leave a Comment