Posted on: 14 Juli 2020 Posted by: admin Comments: 0

Daniel 3: 8 – 18

Pada waktu itu juga tampillah beberapa orang Kasdim menuduh orang Yahudi. Berkatalah mereka kepada raja Nebukadnezar: “Ya raja, kekallah hidup tuanku! Tuanku raja telah mengeluarkan titah, bahwa setiap orang yang mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, harus sujud menyembah patung emas itu, dan bahwa siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. Ada beberapa orang Yahudi, yang kepada mereka telah tuanku berikan pemerintahan atas wilayah Babel, yakni Sadrakh, Mesakh dan Abednego, orang-orang ini tidak mengindahkan titah tuanku, ya raja: mereka tidak memuja dewa tuanku dan tidak menyembah patung emas yang telah tuanku dirikan.” Sesudah itu Nebukadnezar memerintahkan dalam marahnya dan geramnya untuk membawa Sadrakh, Mesakh dan Abednego menghadap. Setelah orang-orang itu dibawa menghadap raja, berkatalah Nebukadnezar kepada mereka: “Apakah benar, hai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, bahwa kamu tidak memuja dewaku dan tidak menyembah patung emas yang kudirikan itu? Sekarang, jika kamu bersedia, demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, sujudlah menyembah patung yang kubuat itu! Tetapi jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?” Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”

Selain mencatat tentang kembalinya sifat gila kuasa pada Nebukadnezar, pasal ini juga memperlihatkan akar kejahatan para bijak Babilonia. Ketika gagal memberi tahu isi dan arti mimpi Nebukadnezar, nyawa mereka telah diselamatkan melalui permintaan Daniel untuk menunda hukuman mati dan yang dengan pertolongan Tuhan berhasil memenuhi permintaan Nebukadnezar. Kini, mereka mengambil posisi menghendaki Sadrakh, Mesakh dan Abednego untuk dilempar ke dapur api yang menyala-nyala. Perbuatan baik orang yang setia kepada Tuhan tidak dengan sendirinya akan menghasilkan terima kasih dan keberpihakan mereka yang telah ditolong.

Perhatikan ungkapan yang diulang-ulang dalam pasal ini di ayat 2, 3 dan 27: Semua unsur kepemimpinan, politik, pemerintahan Babilonia berkumpul, yaitu “para wakil raja, para penguasa, para bupati, para penasihat negara, para bendahara, para hakim, para ahli hukum dan semua kepala daerah.” Juga ritual penyembahan kepada patung itu dengan iringan musik disebutkan berulang empat kali – “demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka haruslah kamu sujud menyembah patung yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu” (ay. 5, 7, 10, 15). Demikian juga ungkapan “orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa” (4, 7, 29) diulang-ulang, Apa arti semua ini bila bukan menegaskan bahwa Nebukadnezar sedang membangun kekuatan dan kekuasaan dengan lingkup geografis, suku-bangsa, para tokoh pemerintahan melalui penggabungan unsur agama, politik dan budaya (enam alat musik) – 6 x 60 pada patung itu dengan dukungan 6 alat musik yang disebutkan di nas ini. Dan dengan menulis secara berulang-ulang tentang peristiwa ini, terasa penulisnya hendak memberikan gambaran tentang kesewenangan, pemaksaan yang Nebukadnezar lakukan dengan cara mengejek, semacam parodi. Nebukadnezar justru terkesan lemah dan tidak aman tentang pengaruh dirinya atas seluruh sistem kerajaan Babilonia.

Terkesan jelas bahwa para kasdim itu membawa Sadrakh, Mesakh dan Abednego ke hadapan raja dengan cepat dan gembira menyampaikan tuduhan tentang ketidaktaatan tiga sekawan itu kepada raja. Sadrakh, Mesakh, Abednego tertangkap basah oleh orang Kasdim tidak menyembah patung tersebut. Mereka bodoh, bandel, keras kepala, fanatik, atau apa? Bukankah luar biasa demonstratif bahwa 3 orang tetap berdiri di antara begitu banyak orang yang bertelut menyembah patung? Tokoh-tokoh Kasdim menyebut mereka “orang Yahudi” dengan nada mengejek (ay. 8, 12 – seperti 2:25 dan 6:14 dengan sebutan “orang buangan dari Yehuda”). Perhatikan juga bahwa nama mereka kini menggunakan nama penggantian identitas dengan unsur para dewa Babil – Sadrakh, Mesakh, Abednego. Ini menegaskan tuduhan bahwa kendati sudah diharapkan berubah identitas, ternyata mereka masih membandel bertahan dalam keyakinan lain mereka sendiri. Tekanan tuduhan: “mereka tidak menyembah dewa tuanku, tidak mengindahkan titah tuanku” (3.12; 6.14). Di sini jelas tersirat permainan politik: seolah meninggikan raja, sambil menguji kesungguhan raja akan bertindak. (Hal ini terlihat lagi dalam pasal 6, peristiwa Darius yang di awal seakan ditinggikan melalui pembuatan hukum larangan menyembah kepada apa / siapa pun kecuali raja, tetapi sebenarnya adalah upaya memperalat Darius untuk menjebak Daniel).

Reaksi Nebukadnezar adalah bertanya, memberi kesempatan dan mengancam. Pertama ia bertanya, “Apakah benar…” Apa makna yang terkandung dalam pertanyaan itu? Apakah ia tidak tahu bahwa dari begitu banyak orang yang menyembah patungnya, ada tiga yang tetap berdiri? Dimana Nebukadnezar waktu itu? Apakah ia heran bahwa tiga orang itu tidak menaati perintah yang disertai petunjuk dan ancaman begitu jelas? Atau, ia sebenarnya mempertanyakan apa motif ketiga orang itu – kesengajaan, menentang, ingin melawan? Bagaimana mungkin tiga yang telah dididik, diubah nama, ditaruh di posisi dan sikon yang membudayakan penyembahan para “dewaku dan patungku” ternyata tidak juga dapat diubahkan? Tidak dapat diubah baik dengan posisi, bujukan, kebudayaan, maupun paksaan. Pertanyaan itu sebenarnya ditujukan juga kepada dirinya sendiri.

Kedua, ia memberi kesempatan dengan membuka kesempatan agar ritual enam alat musik dan perintah penyembahan diulang kembali, agar Sadrakh, Mesakh, Abednego boleh berubah pikiran, sikap dan tindakan. Ketiga, Nebukadnezar mengancam Sadrakh, Mesakh dan Abednego untuk melempar mereka ke dapur api yang panas mematikan itu. mengatakan “allah manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?” Ucapan luar biasa sombong dan memutlakkan diri sendiri yang bertolak belakang dari pengakuannya di akhir pasal 2 kepada Daniel bahwa Allah Daniel (yang juga adalah Allah Hananya, Misael dan Azarya) adalah Allah atas segala allah, Tuan atas segala raja.

Jawaban Sadrakh, Mesakh dan Abednego luar biasa – pendirian teguh, komitmen iman yang sepenuhnya meninggikan dan memercayai Tuhan Allah, dan tidak ada sedikit pun rasa takut, sesal, goyah dan memohon dispensasi kepada Nebukadnezar. ketiga orang ini memang tidak bersedia menaati perintah siapa pun bahkan dengan ancaman kehilangan nyawa sebab telah tertanam dalam hati sanubari mereka: ”dengarlah Israel, Tuhan Allah itu Esa. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, jiwamu, kuatmu.” (shema Ulangan 6:4-5). Tuhan Allah adalah segala2nya bagi mereka, lebih dari kemasyhuran, pangkat, bahkan keselamatan (bdk. Kisah Rasul 20: 24). Mereka menjawab serempak (sehati): “tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini”. Tidak perlu membela diri, memohon dispensasi dlsb. sebab mereka bertindak karena iman akan Tuhan, Tuhan Allah sendiri yang akan membela mereka. Lalu mereka menegaskan kuasa dan kedaulatan Allah atas mereka dan komitmen teguh mereka. Baik hidup atau mati, setia dan puja mutlak mereka bukan pada pemerintahan, penguasa, sistem manusia tetapi pada Allah. Hidup atau mati setia kepada Allah, tolak murtad apa pun konsekuensinya! Ucapan mereka tentang keberadaan dan kuasa Allah seolah terbuka, jika Allah sanggup… seandainya tidak… mereka tetap tidak akan memberikan penyembahan kepada patung yang mati. Mereka bukan meragukan kekuasaan Allah tetapi menempatkan komitmen mereka kepada Allah di bawah kedaulatan-Nya dan meletakkan patung mati itu di tempat yang tidak berarti untuk diberikan komitmen. Keberadaan dan kuasa Allah bukan pada kontrol mereka atau Nebukadnezar tetapi Allah sendiri seperti yang akan terjadi segera. Mereka masih hormat pada raja, mereka bahkan taat datang ke upacara, tetapi nurani dan iman mereka mengatakan “Stop. Sampai di sini saja. Tidak lebih lagi!”

Pelajaran untuk masa kini:

1) Orang percaya harus siap menerima risiko dari komitmen imannya – dianiaya, disingkirkan, dirampas haknya, dlsb. – meski dalam peristiwa Hananya, Misael, Azarya, juga dalam peristiwa Daniel di zaman Darius perlindungan Tuhan jelas menaungi mereka. Baik yang diluputkan Tuhan dalam aniaya, maupun yang diizinkan Tuhan menanggung derita sampai mati, di dalam keduanya komitmen iman dan kedaulatan Tuhan beracara.

2) Iman yang hidup pasti bertahan dan menang. Komitmen dan fokus penuh kepada Tuhan Allah memampukan orang percaya untuk tidak takut terhadap ancaman maut sekalipun, tidak terbujuk oleh rayuan harta, kuasa, atau kenikmatan jasmani lainnya.

3) Orang percaya perlu selalu mengusahakan hubungan baik dan positif dengan sesama di berbagai tatanan pergaulan, namun tidak kecewa atau tawar hati bahwa ada kemungkinan pihak yang sudah menerima budi baik kita malah mencari kesalahan, melawan dan ingin mencelekakan kita.

4) Orang percaya harus berusaha untuk berkontribusi konstruktif dalam berbagai tatanan kehidupan termasuk pada bidang sosial politik, tetapi tetap waspada akan kecenderungan nikah campur najis antara hasrat politis, kekuasaan, agama dan alat budaya.

5) Ketiga sekawan itu meski tanpa Daniel, dalam kesempatan genting itu tetap memelihara persekutuan sehingga dapat teguh dalam komitmen mereka kepada YHWH. Bagaimanakah membangun hubungan saling menguatkan yang berkelanjutan kendati kita telah bertumbuh, berperan lebih besar dan kemungkinan terpencar secara geografis?

Dukung pelayanan literasi Yayasan Simpul Berkat | E-mail: simpulberkat@gamil.com |
Bank BCA – No. Rekening: 0953882377 – a.n. Philip H. S
Categories:

Leave a Comment