Posted on: 12 Juli 2020 Posted by: admin Comments: 0

Daniel 2:46-49

Lalu sujudlah raja Nebukadnezar serta menyembah Daniel; juga dititahkannya mempersembahkan korban dan bau-bauan kepadanya. Berkatalah raja (harfiah: raja menjawab) kepada Daniel: “Sesungguhnyalah, Allahmu itu Allah yang mengatasi segala allah dan Yang berkuasa atas segala raja, dan Yang menyingkapkan rahasia-rahasia, sebab engkau telah dapat menyingkapkan rahasia itu.” Lalu raja memuliakan Daniel: dianugerahinyalah dengan banyak pemberian yang besar, dan dibuatnya dia menjadi penguasa atas seluruh wilayah Babel dan menjadi kepala semua orang bijaksana di Babel. Atas permintaan Daniel, raja menyerahkan pemerintahan wilayah Babel itu kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego, sedang Daniel sendiri tinggal di istana raja.

Respons raja Nebukadnezar keoada Daniel atas pemaparan mimpi dan arti mimpi itu luar biasa! Mengejutkan! Ia melakukan dua hal kepada Daniel: 1) sujud menyembah, dan 2) memberikan persembahan serta ukupan. Di peradaban purba dulu dan sampai kini di timur juga memang ada ungkapan pemberian hormat kepada pihak yang dianggap lebih tinggi kedudukan, lebih tua usia seperti kepada orangtua dalam bentuk menunduk sampai dalam. Dalam kebudayaan tertentu seperti budaya Jawa hanya kepada orangtua atau raja diberikan ungkapan sungkem. Bayangkan, raja yang di mimpinya ia melihat dan bahkan Allah sendiri menilai dirinya ada di bagian patung paling atas, kepala emas, kini menyembah sujud kepada seorang muda, hamba sahayanya, orang buangan dari Yehuda. Apalagi bahwa anak muda itu membeberkan artian yang sebenarnya menyiratkan kritik dan peringatan tentang kesementaraan Nebukadnezar dan kerajaannya yang digdaya pasti akan berlalu dan bukan saja digantikan oleh kerajaan lain tetapi juga akan lenyap tak berbekas oleh kedatangan kerajaan “batu yang bukan dari manusia dan membesar memenuhi bumi” itu.

Mengapa bisa begitu reaksinya? Apa yang menyebabkan raja besar, haus kuasa, dan kejam kini tersungkur sujud menyembah Daniel? Lebih lagi, ia malah sampai memberikan persembahan dan ukupan. Semua ini pasti karena ia disadarkan bahwa ada hikmat, kejelian melihat, kuasa dan kehadiran ilahi yang besar dalam diri Daniel sampai mampu melakukan hal yang mustahil dilakukan oleh semua orang berhikmat Mesopotamia.

Nebukadnezar tidak segan bukan saja untuk memberi hormat dan pengakuan secara manusiawi tetapi – dua ungkapan ini menyiratkan ia tersungkur, menyatakan diri sebagai abdi dari pihak yang ke hadapannya ia tersungkur, mencurahkan ukupan wewangian yang biasa dilakukan dalam upacara keagamaan. Lalu, bagaimanakah sikap Daniel merespons sembah sujud dan ukupan tersebut?

Meski tidak disebutkan bagaimana reaksi Daniel, dari kata kerja yang dipakai di ayat 46 – raja “menjawab,” – berarti sesudah reaksi raja itu, Daniel pasti menyatakan penolakan. Sebagaimana dalam kisah-kisah selanjutnya, Daniel selalu menunjuk kepada sang sumber hikmat, kuasa, kedaulatan, yaitu Tuhan Allah, dan hormat, sujud, syukur dan persembahan senantiasa diberikannya kepada Dia. Itu sebab dikatakan, raja menjawab. Pasti Daniel kembali mengungkapkan sikap dan prinsip hidupnya yang elok – mengandalkan Tuhan, dan mengembalikan kemuliaan kepada Tuhan saja – lalu menyadarkan raja bahwa sembah sujud hanya untuk Tuhan, dan bahwa Tuhan sendiri sajalah yang telah berkarya begitu dahsyat dalam diri Daniel. Itu sebab, jawaban raja kini adalah mengakui “Allahmu itu Allah yang mengatasi segala allah dan Yang berkuasa atas segala raja, dan Yang menyingkapkan rahasia-rahasia, sebab engkau telah dapat menyingkapkan rahasia itu.”

Kembali kita belajar tentang sikap elok Daniel. Ia mendapatkan pemberian harta dan dua kedudukan penting dari raja, yaitu 1) kepala atas semua wilayah Nebukadnezar – semacam wakil raja atau perdana menteri, 2) kepala atas semua orang berhikmat di Babilonia. Dari bukan apa-apa, orang buangan, anak bawang di mata algojo Babil dan mungkin juga di pertimbangan para bijak Babil, terancam dibunuh bersama semua yang dianggap gagal, kini karena mencari hadirat Tuhan Allah beserta hikmat dan kuasa-Nya, lalu mengembalikan kemuliaan hanya kepada Tuhan, Daniel kini mendapatkan kekayaan, kekuasaan politik, dan bahkan menjadi kepala yang berpotensi untuk memengaruhi, mengarahkan, mengubahkan, meluruskan para jawara ilmu-ilmu Babil. Ajaib-Nya Tuhan, bukan?!

Tetapi, Daniel tidak lupa tiga sekawannya yang sejauh ini telah bertumbuh bersama dia dalam kekudusan, komitmen, doa. Daniel meminta raja untuk mengangkat Hananya, Misael dan Azarya yang menjadi penguasa wilayah Babilonia. artinya mungkin kekuasaan politis yang diberikan raja kepadanya, dialihkan atas permintaannya kepada tiga kawan setianya itu.

Pelajaran untuk masa kini:

1) Keluarga Kristen, sekolah Minggu gereja, kelas katekisasi, sekolah-sekolah Kristen kiranya sungguh menjadi instrumen Tuhan di Indonesia zaman ini untuk mendampingi proses pemuridan para Daniel baru! Kisah Daniel, menjaga kekudusan, membina hubungan dengan Tuhan dan persekutuan dengan saudara seiman, komitmen dan keberanian serta kebijaksanaan dalam berbagai tatanan pergaulan sampai berdampak sedemikian besar, kiranya perlu ditanamkan pada generasi muda Kristen kita.

2) Fokus, Dana, Strategi, Rencana pelayanan gerejawi jangan hanya ke orang dewasa saja, harus lebih ke generasi muda.

3) Nilai-nilai apa dalam diri Daniel saat ia diperhadapkan pada ketakjuban raja, dan saat terbuka kesempatan untuk mendapatkan harta, kuasa dan pengaruh, yang perlu kita jaga dan praktikkan terus menerus di momen-momen perjalanan hidup kita?

Dukung pelayanan literasi Yayasan Simpul Berkat | E-mail: simpulberkat@gamil.com |
Bank BCA – No. Rekening: 0953882377 – a.n. Philip H. S
Categories:

Leave a Comment