Posted on: 13 Februari 2020 Posted by: admin Comments: 0

Berjumpa Kemuliaan

Musa, ia biasa menggembalakan kambing domba Yitro, mertuanya, imam di Midian. Sekali, ketika ia menggiring kambing domba itu ke seberang padang gurun, sampailah ia ke gunung Allah, yakni gunung Horeb. Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api. Musa berkata: “Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?” Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: “Musa, Musa!” dan ia menjawab: “Ya, Allah.” Lalu Ia berfirman: “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.” Lagi Ia berfirman: “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.” Lalu Musa menutupi mukanya, sebab ia takut memandang Allah.  — Keluaran 3:1-6
Kapankah orang sungguh siap dan patut menjadi instrumen Allah bagi pewujudan rencana-Nya? Bercermin pada peristiwa kehidupan Musa khususnya momen yang dicatat dalam nas ini dapat ditarik beberapa pedoman berikut:
1. Musa di Sinai sudah bukan lagi Musa di Mesir — ia sudah kehilangan segala sesuatu yang menjanjikan di sana — ilmu dan falsafah Mesir, kedudukan, masa depan, kesenangan dosa (Ibrani 11:25). Kini ia tidak punya apa-apa kecuali domba-domba gembalaan, itu pun bukan punya dia melainkan mertuanya. Namun dalam kegersangan padang belantara tentu ia banyak belajar dan terbentuk dalam banyak segi lain — dalam kesunyian sadar diri dengan segala ketidakberdayaannya dan lebih banyak waktu untuk berdialog dengan batinnya sendiri, dalam tugas penggembalaan tentang kesabaran, ketekunan, kasih sayang dan pengharapan.
2. Di satu momen penggembalaan itu Malaikat TUHAN menampakkan diri di dalam api yang menyala di tengah semak belukar tanpa membakar semak itu. Ini pasti bukan malaikat ciptaan, melainkan dalam terang bagian Alkitab lainnya inilah penyataan diri sang Firman, Yesus Kristus sang Firman kekal yang kelak berinkarnasi menjadi manusia. Wujud dari penyataan-Nya adalah Api yang menyala-nyala — kesucian, kemurnian, kekuat-kuasaan kekal, yang tidak bergantung atau bersumber pada bahan ciptaan, sebab semak belukar itu tidak terbakar, tidak memasok dan menyebabkan Api itu menyala. Secara bersamaan semak belukar yang adalah akibat dari kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam ketidaktaatan, kini boleh menerima kehadiran Api suci-murni-dahsyat itu. Ini sekaligus menyatakan anugerah dan rahmat Allah.
3. Musa hanya tertarik untuk datang mendekat. Baru sesudah Malaikat TUHAN Api itu berfirman, ia tahu bahwa itu adalah penampakan Allah, ia mengerti bahwa Allah yang memanggil Abraham, meneruskan rencana-Nya ke Ishak, dan membentuk Yakub sungguh setia dan terus hadir mengerjakan perjanjian-Nya menjadikan umat itu bangsa yang besae, bahkan penggenapan janji itu terjadi bukan saja di dalam masa baik tetapi juga di masa mereka mengalami tekanan hebat di Mesir. Allah Abraham-Ishak-Yakub, telah melipatgandakan keturunan leluhur itu menjadi umat yang sangat besar jumlahnya.
4. Musa disadarkan dan diminta untuk menghormati TUHAN dengan tidak datang mendekat lebih jauh lagi dan dengan melepaskan kasutnya. Tanda dari kerohanian dan pertumbuhan kerohanian yang sehat adalah menyadari jarak yang ada antara kita sebagai manusia entah sehebat apapun aspek kapasitas manusiawi dan mutu kerohanian kita. Kita adalah manusia yang diampuni, disucikan, dilayakkan, dipanggil, diperlengkapi, dikaruniai — kerendahhatian adalah bukti adanya kerohanian yang sejati dan sehat. Dan semakin sadar diri, semakin berkurang pamer dan andal diri, semakin memuliakan dan mengandalkan TUHAN semata. Dan, takut akan TUHAN membuat Musa menutupi wajahnya. Kelak, sesudah menyadari semua ini, Musa dilayakkan untuk bercakap-cakap dengan Allah dengan bertatapan muka.
Ringkasnya, semua yang ingin menjadi agen Kerajaan perlu: 1) mengalami up-down kehidupan, 2) ada interes akan hal rohani, 3) mengalami penampakan kemuliaan Tuhan dalam berbagai bentuk dan cara sesuai hikmat dan kedaulatan-Nya sendiri, 4) menerima firman-firman yang kini tertulis dalam Alkitab sebagai pedoman, 5) sadar diri dan hormat-takut akan TUHAN. Baru kemudian dalam nas berikut datang panggilan TUHAN untuk terlibat dalam karya Kerajaan.
Mari memberkati sesama melalui pelayanan literasi Yay. Simpul Berkat. Kirim dukungan Anda ke: BCA 0953882377
Categories:

Leave a Comment