Posted on: 14 November 2020 Posted by: admin Comments: 0

Apa dan Siapa Media (bagian 2)

Kedua, kita beralih ke Antropologi alkitabiah. Saya ajak kita membahasakan “manusia adalah gambar dan rupa Allah” dengan “manusia adalah media Allah”? Allah berkenan menjadikan manusia menjadi media sekunder-Nya – gambaran dan cerminan diri-Nya. Dalam berbagai tradisi tafsir tentang arti gambar dan rupa Allah pada manusia, itu diartikan sebagai potensi / kapasitas / panggilan, dalam: 1) relasi vertikal / spiritual dengan Allah, 2) relasi horisontal / sosial antar manusia mulai dari hubungan suami-istri, dan 3) pewujudan dari daya kreatifitas yang Allah tanamkan dalam manusia yaitu mandat budaya – mengurus, menggali, mengembangkan potensi dan kapasitas. Ia mencipta manusia menjadi media-Nya supaya manusia berbagian dalam relasi spiritual dengan Allah – dalam komunikasi-relasi-komunitas Allah yaitu kasih-Nya, dan memancar dari situ “menggambar / merupa” Allah dengan ikut serta dalam rencana dan karya Allah untuk tatanan horisontal / sosial dan natural. Sebagaimana dalam perichoresis trinitarian Pribadi-pribadi Allah adalah media primer-Nya sendiri, manusia sebagai gambar dan rupa Allah, secara inheren dalam dirinya dicipta Allah untuk menjadi media primer yang berpotensi mengeluarkan media sekunder dalam relasi spiritual, sosial dan naturalnya. Sebagai media primer Allah, manusia dalam relasi serasi dengan Allah akan melahirkan media sekunder yang serasi dengan maksud-maksud Allah.

Manusia dan alam yang di dalamnya manusia hidup ini penuh pesona / potensi / untuk dikelola, ditumbuh-kembangkan menjadi beragam media yang merupakan ungkapan kemuliaan Allah. Manusia dan alam sebagai ciptaan Allah semestinya tidak boleh diposisikan dalam dualisme berkonflik. Demikian juga kerohanian dan kejasmanian, vertikal dan horisontal, kerohanian dan kebendaan manusia tidak untuk dibenturkan. Segala sesuatu yang Allah ciptakan “baik adanya,” bahkan di puncak penciptaan “sungguh amat baik adanya.” Sayangnya pada ajaran atau penghayatan Kristen tertentu ada kecenderungan melihat manusia terdiri dari beberapa bagian – trikotomi atau dikotomi – dalam hirarki atau bahkan dalam keadaan konflik. Dalam kisah Penciptaan, bukan roh dan jiwa saja yang gambar dan rupa / media Allah. Kejasmanian manusia pun gambar dan rupa / media Allah. Tanpa kejasmanian tidak mungkin mengalami kejiwaan atau kerohanian baik dalam diri kita sendiri maupun dalam interaksi komunitas kita. Karena itu kita harus aktif mengingat dan berlatih mengembangkan realitas diri kita seutuhnya – komprehensif, holistik – yang penuh potensi ini menjadi media Allah yang riil. Seluruh dan sepenuh kemanusiaan – jiwa, hati, pikiran, kekuatan / tindakan – simultan, harmonis mengasihi Tuhan Allah; demikian juga dalam relasi sosial, pun dalam tindakan budaya kita. Sebagai contoh, bicara kita harus koheren dengan intonasi, gerak-gerik, mimik, sorot mata, intensi, passion, presensi dan seutuhnya menjadi media Allah. Semua tindakan eksternal kita terhubung dan menyatu dengan sumber internal kemediaan kita yaitu passion / afeksi, rasio, intuisi, imajinasi, memori, dan banyak lagi lainnya sehingga semua media sekunder kita serasi dengan maksud Allah mencipta manusia. Kita adalah media Allah dalam relasi vertikal, horisontal, eksternal. Ini perlu kita ingat terus menerus agar media apa pun yang kita pakai tidak mereduksi potensi kemediaan inheren diri kita, tidak membuat kita menjadi alat dari media kita, melainkan benar-benar kita sebagai media Allah hadir, berbagi dan mengendali penuh semua media sekunder kita.

Sebelum kita masuk ke poin ketiga tentang prinsip media dari Inkarnasi, kita tinjau lebih jauh bagaimana komunikasi dan relasi Allah dengan manusia pascaKejatuhan. Di era praKejatuhan Tuhan Allah tidak memakai media dalam berelasi dengan manusia dan mengkomunikasikan kehendak-Nya. Presensi-Nya, Bicara-Nya yaitu manifestasi diri-Nya menjadi “media” dalam berkomunikasi dengan manusia praKejatuhan. Bicara adalah Presensi sekaligus Media orisinal Allah. Dalam Alkitab “Bicara,” “Sabda,” “Firman,” “Kata” dari Allah dikaitkan dengan Allah sedemikian erat – sehingga Bicara-Kata-Firman Allah adalah perpanjangan diri Allah sendiri. Allah mencipta segala sesuatu dengan “Bicara” / ber-Firman. Sebelum aksi-Nya mencipta manusia Allah saling Bicara satu sama lain – “Marilah Kita mencipta manusia menurut gambar dan rupa Kita (menjadi Media Kita).” Bicara-Nya tidak keluar dan kembali kepada-Nya dengan sia-sia sebab dalam Bicara itu Tritunggal berkarya mewujudkan yang Ia Katakan. Sebagaimana Allah Bicara dengan Sesama Diri-Nya, demikian juga Ia Bicara dengan yang dimaksud-Nya menjadi Media Dia, Gambar dan Rupa Dia dalam tatanan spiritual, sosial dan natural. Maka Bicara adalah Media paling asali, paling signifikan, paling berdampak. Juga itu pola komunikasi internal trinitarian, dan pola awal komunikasi-relasi-komunitas Tritunggal dengan Adam yaitu manusia pada praKejatuhan.

Dalam catatan Alkitab Presensi dan Penyataan Tuhan Allah di samping dalam Bicara langsung juga mengambil beragam bentuk dalam proses progresif yang panjang – sejarah penyelamatan sejak dari protoeuangelium di Kejadian 3:15 sampai ke Inkarnasi dan Karya Yesus Kristus di Kedatangan Pertama, Pencurahan Roh, dan Kedatangan Yesus Kristus Kedua kelak. Tuhan Allah memediasikan maksud-maksud-Nya untuk manusia melalui bentuk dan tahap, sbb.: 1) Bicara langsung. Ia bicara langsung kepada Adam dan Hawa, kepada Abraham dan para bapa leluhur, kepada Musa dan para pemimpin Israel awal, kepada para nabi, melalui Yesus Kristus, dan kepada para rasul. 2) Tanda dan Mukjizat. Sejak dari Penciptaan, Air Bah dan Bahtera Nuh, Kisah Keluaran, Nubuatan, Penglihatan, dlsb., Allah melakukan banyak tanda dan mukjizat untuk menyatakan diri, karya dan kehendak-Nya. 3) Dari era ke era, terjadi ragam media Allah menyatakan diri dan karya-Nya. Dari bicara secara langsung, ke penulisan Dasa Titah atas loh batu, ke pencatatan dalam gulungan kitab, ke narasi, drama / peragaan (Yehezkiel), ujaran hikmat, puisi, dlsb. Kita beralih ke poin Inkarnasi Yesus Kristus sebagai sumber, model dan daya untuk keber-media-an kita.

Categories:

Leave a Comment