Posted on: 26 Mei 2020 Posted by: admin Comments: 0

Tujuan, Syarat, Realitas Rohani

Menjelang hari ketiga mereka harus bersiap, sebab pada hari ketiga TUHAN akan turun di depan mata seluruh bangsa itu di gunung Sinai. Sebab itu haruslah engkau memasang batas bagi bangsa itu berkeliling sambil berkata: Jagalah baik-baik, jangan kamu mendaki gunung itu atau kena kepada kakinya, sebab siapapun yang kena kepada gunung itu, pastilah ia dihukum mati. Tangan seorangpun tidak boleh merabanya, sebab pastilah ia dilempari dengan batu atau dipanahi sampai mati; baik binatang baik manusia, ia tidak akan dibiarkan hidup. Hanya apabila sangkakala berbunyi panjang, barulah mereka boleh mendaki gunung itu.” Lalu turunlah Musa dari gunung mendapatkan bangsa itu; disuruhnyalah bangsa itu menguduskan diri dan merekapun mencuci pakaiannya. Maka kata Musa kepada bangsa itu: “Bersiaplah menjelang hari yang ketiga, dan janganlah kamu bersetubuh dengan perempuan.” Dan terjadilah pada hari ketiga, pada waktu terbit fajar, ada guruh dan kilat dan awan padat di atas gunung dan bunyi sangkakala yang sangat keras, sehingga gemetarlah seluruh bangsa yang ada di perkemahan. Lalu Musa membawa bangsa itu keluar dari perkemahan untuk menjumpai Allah dan berdirilah mereka pada kaki gunung. Gunung Sinai ditutupi seluruhnya dengan asap, karena TUHAN turun ke atasnya dalam api; asapnya membubung seperti asap dari dapur, dan seluruh gunung itu gemetar sangat. Bunyi sangkakala kian lama kian keras. Berbicaralah Musa, lalu Allah menjawabnya dalam guruh. Lalu turunlah TUHAN ke atas gunung Sinai, ke atas puncak gunung itu, maka TUHAN memanggil Musa ke puncak gunung itu, dan naiklah Musa ke atas. — Keluaran 19:11-20
Aku (Paulus) meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya,  yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga… — Efesus 1:17-20 dst.
Allah ingin tidak saja melepaskan Israel dari perbudakan Mesir, juga lebih lagi membentuk mereka menjadi bangsa yang istimewa dalam jatidiri, pengalaman relasi dengan Tuhan, realitas keseharian sebagai umat. Ini diungkapkan dengan ucapan Tuhan Allah sendiri dalam bahasa yang sarat bobot dan semarak keindahan teologis berikut ini — membawa kepada-Ku, harta kesayangan-Ku sendiri, kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Renungkan itu dalam latar belakang israel tadinya adalah kaum budak di Mesir, bahwa di seluruh muka bumi bangsa-bangsa lain menyembah dan allah-allah benda, lokal, yang merupakan representasi berbagai bagian dari alam sehingga sejatinya palsu bukan Allah Pencipta, Pemelihara dan Penyelamat. Bahwa dalam bangsa lain tidak ada priviles akses untuk mengenal, menyembah, menerima otoritas TUHAN Allah yang telah turun untuk menyatakan diri dan mengerahkan kuasa pembebasan dan pembentukan-Nya.
Supaya berbagai rencana mulia Allah ini sungguh terbentuk, terwujud dalam jatidiri, pengalaman dan kenyataan keseharian Israel diperlukan langkah-langkah karya Allah selanjutnya yang harus direspons positif oleh Israel. Langkah berikut anugerah Tuhan Allah adalah pemberian Sepuluh Hukum (pasal 20). Sepuluh Hukum adalah ekspresi sifat-sfat Allah dan bagaimana Ia ingin agar sifat-sifat itu juga tercermin di dalam umat tebusan-Nya. Sepuluh Hukum bukan sekadar peraturan tetapi bingkai di yang di dalamnya semua tujuan pembentukan Allah atas Israel boleh beroperasi — yaitu dengan menaati aturan yang mencerminkan sifat-sifat Allah mereka akan menjadi makin memiliki sifat-sifat ilahi sebagai harta kesayangan Tuhan, imamat kerajaan, bangsa yang kudus.
Namun ada syarat untuk hadirat penyataan Allah itu boleh dialami Israel, yaitu menjaga jarak — menyadari ruang Allah lain dari ruang umat, memiliki rasa gentar, takut dan takjub akan kedahsyatan Allah, dan menyucikan diri — menyadari ketidaklayakan diri umat baik secara jasmani maupun rohani. Dengan kata lain, untuk dapat mengalami hadirat Allah, menerima penyataan kehendak dan karya-Nya berkelanjutan, dituntut kerjasama dalam bentuk kesadaran perbedaan kualitatif antara manusia dan Allah, menumbuh-kembangkan sikap takjub, hormat, gentar, takluk kepada Allah, dan berbagai perjuangan untuk menyucikan diri.
Sesudah kita masuk ke dalam Pribadi dan karya-karya hidup-mati-bangkit-naik Yesus Kristus yang menyelamatkan, kita juga dimaksudkan untuk boleh bertumbuh-kembang dalam kekayaan anugerah penyelamatan Allah. Bahkan melebihi Israel Allah menginginkan kita mengalami hal-hal yang menjadi isi doa Paulus — menerima roh hikmat dan wahyu, mengenal Allah dengan benar, mengerti pengharapan yang terkandung dalam panggilan-Nya: mengerti betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya,  yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di sorga.
Dalam bahasa spiritualitas masa kini Tuhan ingin kita — mengalami hadirat-Nya secara nyata, — kita bertumbuh akrab dengan-Nya, — mengalami karya Roh yang memperbarui dan mengerjakan kerinduan akan firman sampai mengerti, menyimpan dan mempraktikkannya dalam keseharian, mengalami berbagai karya ajaib Allah berkelanjutan baik mukjizat keseharian yang kita anggap biasa maupun mukjizat tidak biasa untuk momen kebutuhan kritis kita.
Tetapi sadarkah kita bahwa ada kerjasama dan harga yang harus kita lakukan supaya semua pengalaman mulia ini boleh kita terima. Setiap kita berdoa untuk mukjizat apakah kita mempersiapkan pikiran-perasaan-kemauan untuk sungguh beriman dan layak menerimanya? Setiap kita berdoa untuk lebih bertumbuh rohani melalui pergaulan dengan firman, apakah kita mengembangkan disiplin dan waktu baca-doa isi Alkitab yang cukup dimana kita membaca ulang, mengendapkan, merenung-renung sampai Roh membukakan arti dan maknanya ke dalam kehidupan kita? Setiap kita berdoa untuk pengalaman Roh makin kuat dan nyata di dalam kehidupan kita, apakah kita siap membayar harga dalam sikap menanti-nantikan dengan penuh harap dan iman taat dan kasih? Bersyukur bahwa bahkan semua syarat dan tindakan yang perlu kita lakukan itu berasal bukan dari kekuatan manusiawi kita melainkan “Allahlah yang mengerjakan di DALAM kita, sampai kita MAU mengerjakan itu KELUAR” secara nyata (Filipi 2:13).
Mari oleh bantuan Roh kita manfaatkan momen pandemic ini menjadi kairos untuk menanamkan kesadaran hormat akan Allah, daya juang untuk pengudusan diri dengan menyatu Bersama salib dan kebangkitan Yesus, haus dan lapar akan kebenaran-Nya, rindu akan hadirat-Nya. terbuka akan kehadiran dan karya-karya pelanjutan Yesus Kristus oleh Roh Kudus.

 

Mari memberkati sesama melalui pelayanan literasi Yay. Simpul Berkat. Kirim dukungan/persembahan kasih Anda ke: BCA 0953882377

Categories:

Leave a Comment