Posted on: 4 Desember 2019 Posted by: admin Comments: 0

Kejadian di Troas

Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat pada keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam. Di ruang atas, di mana kami berkumpul, dinyalakan banyak lampu. Seorang muda bernama Eutikhus duduk di jendela. Karena Paulus amat lama berbicara, orang muda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia diangkat orang, ia sudah mati. Tetapi Paulus turun ke bawah. Ia merebahkan diri ke atas orang muda itu, mendekapnya, dan berkata: “Jangan ribut, sebab ia masih hidup.” Setelah kembali di ruang atas, Paulus memecah-mecahkan roti lalu makan; habis makan masih lama lagi ia berbicara, sampai fajar menyingsing. Kemudian ia berangkat. Sementara itu mereka mengantarkan orang muda itu hidup ke rumahnya, dan mereka semua merasa sangat terhibur. — Kisah Para Rasul 20:7-12

1. Ibadah Kristen — merujuk ke nas ini dan nas-nas di KPR sebelumnya — diadakan pada hari Minggu, yaitu untuk merayakan hari kebangkitan Yesus Kristus dari kematian.
2. Pada hari ibadah tersebut gereja melakukan pemecahan roti yaitu yang kini kita sebut Eukaristi, Komuni, Meja Tuhan, Perjamuan Kudus. Peristiwa ini terjadi antara Hari Raya Roti tak Beragi (Paskah, yang sudah lewat — ay. 6) dan Har Raya Pentakosta (yang masih akan dating dan ingin Paulus hadiri di yerusalem — ay. 16). Perjamuan Kudus menempatkan orang percaya dalam tiga dimensi waktu kehidupan dan karya Yesus — pengorbanan dan kemenangan-Nya, perajaan-Nya kini du surge dan kehadiran-Nya untuk gereja-Nya kini dan di sini di bumi, dan antisipasi dalam perjamuan dengan-Nya kelak dalam kedatangan-Nya kedua kali. Maka mengingat petunjuk faktual di ayat 6 dan 16, serta pertimbangan arti teologis alkitabiah Perjamuan Kudus, sangat beralasan bahwa gereja merayakan Ekaristi dalam setiap pertemuan ibadah mereka dan bukan sebagai peristiwa langka sekali-sekali.
3. Ibadah tersebut menjadi kesempatan untuk Paulus memberikan pesan-pesan perpisahan penuh keakraban sampai larut malam. Ini menunjukkan perhatian Paulus sebagai gembala, juga kehausan jemaat akan wejangan yang rasuli, serta spiritualitas mereka yang riil dan kental.
4. Ibadah di adakan di ruang atas (lantai tiga) dengan banyak penerangan dan jendela terbuka. Mereka ingin menyatakan kepada lingkungan sekitar yang bukan Kristen bahwa pertemuan ibadah Kristen bukan pertemuan rahasia yang diisi dengan ritual aneh dan aib atau ngeri. Ibadah Kristen adalah ibadah terang dan terbuka.
5. Pemuda bernama Eutikhes duduk di jendela, dalam usia itu ia belum memiliki kesanggupan jiwani-jasmani orang dewasa untuk terlibat dalam diskursus panjang tanpa akhirnya terserang kantuk dan terjatuh. Jatuh dari lantai tiga, pastinya seperti tegas Lukas, ia mati. Bisa dibayangkan akibat kejatuhan itu pada daging dan tulangnya. Tetapi Paulus segera turun, mengklaim dalam otoritas yang berasal dari Roh Yesus Kristus bahwa Eutikhes hidup. Dan ternyata benar itu terjadi. Mukjizat pembangkitan orang mati terjadi, dilakukan oleh Paulus seperti yang juga dilakukan oleh Tuhan Yesus atas anak Yairus, atas Lazarus.
Pertemuan Kristen ditandai oleh keakraban, oleh keterbukaan dan kekudusan, oleh sukacita yang berpusat pada kehiduoan-karya penyelamatan-kehadiran Yesus Kristus, oleh penyataan tanda-mukjizat.

Mari memberkati sesama di banyak daerah melalui pelayanan literasi Yay. Simpul Berkat. Kirim dukungan Anda ke: BCA 0953882377
Categories:

Leave a Comment