Posted on: 19 Desember 2019 Posted by: admin Comments: 0

Jangan ada Marginalisasi

Namun Tuhan berfirman kepadanya, “Pergilah, karena orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan Nama-Ku kepada bangsa-bangsa dan raja-raja serta anak-anak Israel. Dan Aku akan menunjukkan kepadanya betapa banyaknya penderitaan yang harus dideritanya demi Nama-Ku.” Rakyat mendengarkan Paulus sampai kepada perkataan itu; tetapi sesudah itu, mereka mulai berteriak, katanya: “Enyahkan orang ini dari muka bumi! Ia tidak layak hidup!” Mereka terus berteriak sambil melemparkan jubah mereka dan menghamburkan debu ke udara. Karena itu kepala pasukan memberi perintah untuk membawa Paulus ke markas dan menyuruh memeriksa dan menyesah dia, supaya dapat diketahui apa sebabnya orang banyak itu berteriak-teriak sedemikian terhadap dia. — Kisah Para Rasul 22:21-24 lihat juga 9:15-16

Kesaksian tentang riwayat hidup Paulus didengar orang banyak itu tanpa reaksi negatif. Tentang kelahirannya di Tarsus, berguru pada Gamaliel, menjadi orang Yahudi garis keras yang menganiaya pengikut Yesus — ini jelas tidak mengungkit kemarahan orang banyak itu, Bahkan ketika ia menceritakan tentang perjumpaannya dengan Yesus Kristus yang sampai membuat ia berubah radikal menjadi penganjur Jalan Yesus, orang banyak itu masih diam menyimak, Tetapi, begitu Paulus menyatakan bahwa ia ditetapkan untuk membawa berita tentang Yesus kepada bangsa-bangsa lain — “ethnos” (lihat juga Matius 28:19) — yaitu semua bangsa yang tidak termasuk / tergolong berdarah Yahudi, bukan yang dipilih Allah menjadi umat pilihan-Nya — mendidih lagi amarah besar mereka.

Mengapa umat keturunan Abraham, yang dalam penegasan YHWH tentang tujuan Ia memilih Abraham yaitu menjadi Abraham dan keturunannya berkat bagi bangsa-bangsa di seluruh bumi malah sikap dan kelakuan mereka membatalkan maksud kekal Allah itu? Mengapa pilihan, berkat, anugerah keumatan yang dimaksud menjadi daya dorong memberkati seisi dunia dibalikkan menjadi seperti laut mati yang kadar kegaramannya sedemikian tinggi sampai membuat tidak ada makhluk dapat hidup di dalamnya; atau bagaikan “Black Hole” di angkasa raya yang se,ua cahayanya diserap-tarik balik ke dalam dirinya sampai ia menjadi bintang gelap?

Masa Advent yang sebentar lagi memuncak di Ibadah Natal adalah masa untuk kita bersyukur akan tindakan dan teladan Allah yang menghampiri manusia berdosa dan bukan menjauhi apalagi membuang, akan tindakan Pribadi Kedua Allah Tritunggal yang mengosongkan diri menjadi hamba demi memungkinkan yang terpinggir menjadi bagian dalam keluarga Allah, warga kerajaan kekal Allah. Advent adalah masa menyiapkan diri untuk kita lebih menghayati sifat memberi, berbagi, mencari, berkorban, menjadi miskin, memperkaya pihak lain, dst. Maka, dengan pertolongan Roh Allah kiranya semangat mencari, berbagi, membuka diri untuk menyambut yang termarjinalkan, yang bukan kita, yang jauh dari kita, boleh mewujud. Kiranya masa ini menjadi masa kita merayakan yang kebalikan dari yang dunia dengan segala kekuatannya sedang menginfiltrasi umat dan gereja yaitu Natal komersial, Natal kemewahan, Natal keakuan, Natal golongan sendiri. Anugerah Allah selalu bersifat mencari, memberi, berkorban dan meruntuhkan sekat-sekat penghalang yang diakibatkan oleh keberdosaan manusia.

Mari memberkati sesama di banyak daerah melalui pelayanan literasi Yay. Simpul Berkat. Kirim dukungan Anda ke: BCA 0953882377

 

Categories:

Leave a Comment