Posted on: 23 Januari 2020 Posted by: admin Comments: 0

Gila demi Injil

Paulus mengemukakan semuanya itu untuk mempertanggungjawabkan pekerjaannya, berkatalah Festus dengan suara keras: “Engkau gila, Paulus! Ilmumu yang banyak itu membuat engkau gila.” Tetapi Paulus menjawab: “Aku tidak gila, Festus yang mulia! Aku mengatakan kebenaran dengan pikiran yang sehat! Raja juga tahu tentang segala perkara ini, sebab itu aku berani berbicara terus terang kepadanya. Aku yakin, bahwa tidak ada sesuatupun dari semuanya ini yang belum didengarnya, karena perkara ini tidak terjadi di tempat yang terpencil. Percayakah engkau, raja Agripa, kepada para nabi? Aku tahu, bahwa engkau percaya kepada mereka.” Jawab Agripa: “Hampir-hampir saja kauyakinkan aku menjadi orang Kristen!” Kata Paulus: “Aku mau berdoa kepada Allah, supaya segera atau lama-kelamaan bukan hanya engkau saja, tetapi semua orang lain yang hadir di sini dan yang mendengarkan perkataanku menjadi sama seperti aku, kecuali belenggu-belenggu ini.” Lalu bangkitlah raja dan wali negeri serta Bernike dan semua orang yang duduk bersama-sama mereka. Sementara mereka keluar, mereka berkata seorang kepada yang lain: “Orang itu tidak melakukan sesuatu yang setimpal dengan hukuman mati atau hukuman penjara.” Kata Agripa kepada Festus: “Orang itu sebenarnya sudah dapat dibebaskan sekiranya ia tidak naik banding kepada Kaisar.” — Kisah Para Rasul 27:24-32
Sejauh ini Paulus oleh hikmat Allah bekerja dalam segala sesuatu telah mendapat kesempatan untuk bersaksi tentang Injil Yesus Kristus kepada para petinggi Romawi dan Yudea — Feliks dan Drusila yang direbutnya dari orang lain, Festus, dan Agripa dan Bernike yang adalah kakak-adik tetapi kemudian hidup Bersama. Reaksi orang-orang ini terhadap Paulus dan pemberitaannya berbeda. Feliks menjadi takut, Festus menuduh Paulus gila, dan Agripa enggan terpengaruh meski akhirnya mengakui bahwa Paulus seharusnya sudah bias dibebaskan.
Mengapa keluar tuduhan bahwa ia gila? Mungkin karena perubahan hidup sedemikian drastis dan bertolak belakang dari yang umumnya orang anggap wajar dan waras. Paulus menganggap semua kehormatan, pengetahuan kjeagamaan, kuasa yang ia punyai dulu di luar Kristus adalah kotoran semata disbanding pengenalannya akan Kristus sesudah berjumpa Dia (Lihat Filipi 3). Mungkin sikap tenangnya dan sama sekali tanpa mementingkan keselamatan diri sendiri dalam menyampaikan pembelaan sekaligus mempersaksikan Yesus Kristus membuat Festus merasa hal itu luar biasa aneh. Dalam ucapan Paulus sendiri (2 Korintus 5) demi Allah dan kebenaran Injil Yesus Kristus ia memang tampak memiliki dorongan, semangat, gairah, keberanian, yang luar biasa yang bias ditafsir sebagai tidak waras alias gila. Lebih-lebih bahkan ia sedemikian “gila”-nya sampai dalam konteks persidangan ini pun ia berharap dan berdoa agar semua para petinggi di siding itu boleh diyakinkan akan Yesus Kristus.
Menjadi “gila” oleh-demi-karena Allah dan kebenaran Yesus Kristus serta demi kasih kepada semua jenis manusia ini — ini yang saya dan kita semua perlu kobarkan, bukan? Mengapa demi harta, kedudukan, nama, kuasa begitu banyak orang bersedia menjadi “gila” sedangkan demi Tuhan dan kebenaran Injil-Nya kita‚Ķ?
Kalau kami memang nampaknya sudah gila, itu adalah demi kepentingan Allah. Dan kalau kami nampaknya waras, itu demi kepentinganmu. — 2 Korintus 5:13 (IBS)
Mari memberkati sesama melalui pelayanan literasi Yay. Simpul Berkat. Kirim dukungan Anda ke: BCA 0953882377
Categories:

Leave a Comment