Posted on: 19 November 2020 Posted by: admin Comments: 0

Dampak Tulisan dan Media Massa (bagian 5)

Radio dan Dampaknya

Radio membawa kita balik ke komunikasi era primitif / tribal / komunal dimana relasi dan komunikasi berlangsung secara lisan dalam kehidupan suku (tribal). Radio menghidupkan kembali pola pikir lisan dan pengalaman komunal. Radio menyebabkan suara mengisi ruang audio dan memungkinkan pengalaman lisan komunal dalam skala besar yang tidak pernah terjadi dan dimungkinkan melalui media lain. Tidak seperti media cetak yang dibatasi oleh margin, memerangkap, memfragmentasi ide-ide dan mengindividualisasi kita pemakainya, maka radio membalikkan semua itu menjadi tersebar, menjangkau bahkan mengumpulkan orang untuk mendengarkan sesuatu secara bersamaan dalam ruang audio. Seperti yang terjadi dalam komunikasi primitif radio membuat orang berbagi lagu, pengalaman, kisah kehidupan bahkan melebihi yang berlangsung di konteks masa lampau karena kini bukan lagi dilakukan di sekitar api unggun atau dapur tetapi ke mana-mana dan di mana-mana.

Media cetak mengutamakan kapasitas melihat yang difokuskan dan di-“perangkap” pada kolom-kolom buku. Oleh radio fungsi mata diganti dengan fungsi telinga, fokus sempit direntang-luaskan ke ruang akustik. Dengan buku kita dapat mengalihkan fokus kepada yang lain; dengan radio kita tidak dapat memblokirnya total. Itu alasan mengapa visi-misi-strategi penginjilan yang dilakukan oleh antara lain FEBC sangat efektif. Radio membalikkan kita ke cara mengetahui primitif melalui pengalaman, lisan dan komunal ketimbang rasional, visual dan individual.

Pembalikan ini menjadi semacam perbaikan atas dampak yang timbul di era media cetak / modern. Namun demikian radio tidak sepenuhnya mengubah manusia modern. Radio – terutama bagi yang banyak memakai dan memanfaatkan radio – menjadikan kita manusia hibrid paradoxal. Kita mengalami ketegangan ditarik dari dua arah, dua kekuatan – individual dan komunal, visual dan lisan, rasional dan eksperiential secara bersamaan. Dan dampak pada gereja dan pembentukan komunitas ini perlu kita tinjau lebih jauh nanti.

Fotografi dan Dampaknya

Pernah dengar ucapan “A Picture is worth a thousand words?” Tidak dapat disangkal bahwa temuan foto-grafi adalah satu lagi tonggak penting perubahan kebudayaan. Ketika di abad 19 fotografi, teknologi telegraf dan mesin cetak rotari bergabung, maka ikon dan imej dimungkinkan untuk diproduksi masal dan disebarluaskan dengan dampak luar biasa yang perlu kita telusuri berikut ini.

Silakan lihat ke sekeliling Anda ketika pergi ke pusat-pusat perbelanjaan. Atau coba Anda perhatikan logo yang saya pasang untuk kegiatan PELIHAT (Pelayanan Literatur untuk Hamba Tuhan) di profil WA saya. Kita kini hidup dalam kebudayaan ikon-ikon, simbol-simbol. Ada simbol M-nya McD, simbol H-nya Honda atau Hyundai, ada apel yang sudah tergigit untuk produk-produk dari McIntosh / Apple, dlsb. M dan H dalam tulisan biasa tidak mengandung arti tetapi ketika jadi logo McD, Honda, Hyundai huruf rupa logo itu menyiratkan sesuatu. Tidakkah ini mirip dengan dunia ikonnya kebudayaan abad pertengahan? Bagaimana dengan kegemaran orang ber-selfie-ria dan memfoto apa saja dari pemandangan ke makanan di restoran? Dari merk dagang ke simbol gereja ke corak kita mengidentifikasi diri kini menjadi makin bersifat ikonik, pencitraan.

Apa dampak dari kebudayaan fotografis / ikonik / visual masa kini? Kebangkitan budaya citra (pencitraan) ini memperlemah kecenderungan kita pada pola pikir abstraksi, linear, rasional. Selera masa kini beralih ke wawasan dunia yang konkrit, holistik, dan non-linear. Terlepas dari apa yang dimuat dalam fotografi, bentuk citra itu sendiri membangkitkan pola pencerapan yang lebih holistik, intuitif dan emosional. Citra mengkomunikasikan informasi secara lebih efisien dan efektif ketimbang kata-kata tercetak. Benarkah demikian? Bayangkan berikut ini: Teks: JEMAAT BERSUKACITA – lalu di sebelahnya foto suasana jemaat sedang mengangkat tangan. Yang mana yang lebih jelas? Yang mana yang lebih menyimpulkan? Dilepas sendiri-sendiri dua macam komunikasi itu – media cetak dan fotografi – tidak bisa sepenuhnya menampung apa yang ingin disampaikan. Realitas tidak bisa ditampung hanya dengan media cetak atau hanya dengan media fotografi. Kendati sifat dan dampaknya saling berbeda kedua media itu saling melengkapi. Bayangkan, mungkinkan seluruh pesan Injil Markus dijadikan komik tanpa kata-kata? Atau adegan kehidupan Yesus difilmkan tanpa ada teks atau suara? Itu akan memungkinkan tafsiran liar tentang Yesus. Sebaliknya pemaparan tekstual saja bila tidak memakai juga cara membaca yang imajinatif dan menyelami konteks menjadi pembacaan yang dangkal.

Mengapa memisahkan media cetak dan media citra itu berdampak memiskinkan pengalaman dan pengertian kita atau potensial menyesatkan? Karena yang satu beresonansi ke otak kiri (rasional, linear, analitis – media cetak) dan yang satu lagi beresonansi ke otak kanan (intuitif, sirkular, komprehensif – media visual). Media cetak beroperasi sejajar dengan peradaban modern / era rasional, sementara media visual beroperasi serasi dengan peradaban postmodern / era intuitif. Media citra menggeser apa yang kita sukai dan bagaimana cara kita menerima sesuatu. Digabungkan dengan program pemodifikasi fotografi seperti PhotoShop dan sejenisnya media sosial kini sering dibanjiri dengan foto dan film rekayasa yang bisa dipakai untuk bermain-main atau untuk memalsukan sesuatu. Lalu foto atau film tersebut menjadi hoax – posttruth melalui media foto dan film. Dampak mengerikan dari limpahnya foto dan film bernilai limbah adalah orang kehilangan kemauan untuk percaya bahwa kebenaran itu ada. Dan di ujung dari hoax (dusta) menurut Dostoevsky (The Brothers Karamazov) adalah orang kehilangan kemampuan untuk mengasihi baik diri sendiri maupun orang lain. Karena mengasihi adalah esensi terdalam dari gambar dan citra Allah dalam diri manusia, maka permainan kebohongan dalam media fotografi dan film menyebabkan ke-media-an manusia menjadi rusak parah.

Kita kini hidup di zaman yang mengutamakan intuisi, atraksi, fakta dan tampilan, visual dan kejasmanian. Itu jelas pada iklan-iklan, pada pemilu, pada ibadah gereja masa kini. Iman dalam era modern didasarkan atas fakta objektif, dalam era postmodern dikaitkan dengan pengalaman subjektif. Ibadah modern menggeser altar dan sakramen sambil memusatkan mimbar, ibadah postmodern menggeser-mengecilkan mimbar menjadi hanya podium dan membuat panggung berisi berbagai atraksi visual dan musikal.

Seperti telah dijelaskan di atas kebudayaan citra semata rentan menjadi penghayatan dan penafsiran yang liar bahkan sampai menjadi irrasional. Sebaliknya kebudayaan rasional semata rentan menjadi kering dan tanpa dinamika kehidupan. Nanti kita akan lihat pentingnya bukan saja bermedia yang saling melengkapi, juga disiplin melatih ke-media-an diri kita yang sepenuhnya memakai kapasitas yang telah Tuhan karuniakan di dalam otak kiri-dan-kanan kita, rasio-afeksi-volusi-imajinasi-intuisi secara komprehensif dan utuh.

Categories:

Leave a Comment