Posted on: 17 November 2020 Posted by: admin Comments: 0

Dampak Tulisan dan Media Cetak (bagian 4)

Anda yang menyukai film silat pasti ingat salah satu bintang silat terkenal, Bruce Lee. Dalam film Enter the Dragon dikisahkan Bruce Lee melawan jaringan narkoba dan perdagangan manusia. Kepala gang tersebut, Han berhasil memancing Bruce Lee memasuki sebuah ruang yang dipenuhi dengan cermin. Begitu memasuki ruang itu Lee mengalami “kebutaan” – ia melihat begitu banyak refleksi Han di cermin-cermin itu hingga tidak tahu yang mana Han sebenarnya. Sementara itu Han mendapatkan keuntungan dan menyerang Lee yang dalam keadaan dibingungkan oleh begitu banyaknya refleksi. Pada satu kesempatan Lee memukul “Han” yang ternyata adalah refleksi di cermin. Tetapi Lee lalu mendapat ide. Cermin demi cermin dihancurkannya sampai sisa sedikit dan dia mulai dapat mengidentifikasi Han yang sesungguhnya lalu menyerang sampai menaklukkan Han.

Kisah di ruang cermin itu menggambarkan kesukaran kita dalam mengevaluasi beragam media elektronik / digital / virtual dan dampaknya. Sejak ditemukannya telegraf, fotografi, radio, televisi, dan seterusnya akhir-akhir ini internet, smart phone dengan banyak media sosial seperti FB, IG, Twitter, dlsb., bukankah kita seperti berada di ruang dengan banyak sekali cermin seperti adegan dalam film Enter the Dragon itu. Media-media elektronik itu tanpa kita sadari membuat kita seakan “memiliki mata tetapi tidak melihat, memiliki telinga tetapi tidak mendengar.” Kita tanpa sadar dilumpuhkan daya ke-media-an kita sendiri serta tidak sanggup mengenali, menyikapi dan memperlakukan realitas dengan tepat. Bahkan gereja pun terpapar dampak media elektronik dalam banyak segi penghayatan dan praktisnya – iman, Injil, ibadah, kepemimpinan, dst. Kebudayaan modern dengan pengaruh tulisan dan media cetak oleh media elektronik seakan dibalikkan kembali ke kebudayaan pramodern yaitu menjadi lebih komunal secara virtual, lebih seremonial / selebritas seperti dalam gereja sakramental, lebih emosional dan sirkular dalam pencerapan realitas, lebih jasmani daripada rohani.

Supaya kita dapat menilai dengan tepat, kita perlu “menghancurkannya” satu per satu dengan menerapkan empat hukum media Marshall McLuhan pada beragam media elektronik, mulai dari Telegraf, dst.

Telegraf dan Dampaknya

Telegraf adalah tonggak revolusi media elektronik untuk komunikasi. Yang tadinya informasi dan komunikasi melalui media cetak harus bergantung pada kecepatan kendaraan (kira-kira 60 km/jam kecepatan KA) tiba-tiba berubah menjadi arus denyut listrik yang kecepatannya tidak terbatasi ruang dan waktu. Data yang ditransmisikan oleh telegraf juga berubah bentuk. Dari bentuk tulisan ke bentuk poin-poin data yang terlihat tidak seperti susunan arti dalam bahasa lazimnya. Bahkan dengan telegram dihargai menurut panjang berita dan jarak tempat, telegram seolah berubah menjadi semacam komiditas. Inti kapasitas telegraf adalah meneruskan / memindahkan informasi dan bukan mengumpulkan, menjelaskan, atau menganalisis informasi. Sifat telegraf yang diturunkan lebih lanjut ke media elektronik lain seperti internet dengan berbagai lamannya mengandung ciri telegraf juga. Kita beroleh “manfaat” percepatan yang luar biasa, tetapi dengan harga yang harus dibayar yaitu kita menjadi tidak sabar, tidak tekun, tidak siap mengalami kesulitan. (Saya sering berpikir bahwa kebiasaan menyingkat kata-kata seenaknya sejajar dengan kebiasaan nyerobot aturan jalan dan perilaku korupsi. Sama-sama ingin cepat dan memintas bahkan dengan melanggar konsensus sosial). Kita menjadi makin tidak sosial dengan makin bermedsos, makin tidak terkoneksi dengan makin terlibat dengan gawai yang “getting people connected.” Media elektronik memberi peluang untuk kita customize dengan harga bahwa kesan komunal yang disiratkan sesungguhnya semu dan kita tetap menjadi pribadi yang individualis dan otonom (semaunya sendiri). Kita diuntungkan dengan luapan informasi yang menimbulkan rasa “berkuasa” tetapi dengan membayar harga kita menjadi dangkal. Kedangkalan memengaruhi baik kapasitas maupun selera kita. Kita menjadi penyuka hal-hal dangkal, rendah, tidak bernilai, tidak penting. Kita dibombardir oleh judul-judul berita seperti: PSSI kalah lagi – Ledakan di Pelabuhan Libanon – Trump enggan menerima kalah – USD menguat Rp anjlok – Reuni 212 Des yad… Cek saja posting-posting di laman Google gawai kita, segala macam kabar, peristiwa, dan kerap dengan bahasa dan struktur yang ngawur ada di sana. Menghadapi begitu banyak informasi kita tidak tahu lagi bagaimana menyusun prioritas dan memiliki penilaian di dalam kemajemukan yang sedemikian melimpah. Akhirnya arti dan nilai menjadi tidak penting. Media memengaruhi wawasan kita tentang realitas. Kita menjadi apa yang kita lihat. Sejarah dan bingkai kebenaran (meta narasi) menjadi tidak relevan. Kebenaran tidak lagi dilihat dalam struktur foundasional dengan dasar. objektivitas, normativitas dan kesan absolut-relatif. Kini dengan media elektronik semua menjadi serba relatif. Semua dampak ini jelas membuat kita ada (larut? hanyut?) dalam posisi bertentangan dengan nilai dan kondisi yang dituntut dalam Injil, pemuridan, ibadah, dst. Jarang kita pikirkan konsekuensi di ujung dari dampak media ini yaitu kita menjadi manusia yang bukan sebagaimana Allah rencanakan ketika mencipta kita sebagai media-Nya. Lebih lagi Gereja dipanggil bukan untuk menjadi sama dengan dunia ini.

Sifat dan dampak telegraf ini nanti akan menjadi lebih nyata dan kuat dalam media-media elektronik / digital berikutya – TV, PC, dan Internet. Semua media baru ini menjadi tanah subur bagi kebangkitan relativisme dan kematian kepercayaan akan kebenaran absolut. Beberapa kali saya sempat berdiskusi via WA dengan generasi jauh lebih muda. Mereka dengan santai merujuk ke Yesus Kristus, Buddha, reinkarnasi, dlsb. Ketika menyinggung adanya gap antara manusia dan Allah karena dosa, mereka menyatakan tidak ada gap sama sekali. Mereka mengalami “allah” di alam, pesta, makanan, dll. Mereka mengutip Alkitab tetapi dengan tafsiran Hindu… Ketika saya mencoba ber-apologetika dengan mereka, terasa tidak masuk sebagaimana saya harapkan karena saya memakai epistemologi modern, sedangkan mereka menghayati epistemologi pascamodern. Dalam contoh ini jelas bahwa berkomunikasi dengan generasi gawai, menginjili mereka, menyampaikan bahwa Alkitab adalah norma absolut dari Tuhan adalah sia-sia sebab pluralitas adalah kebenaran, kemutlakan adalah kemutlakan kemajemukan.

Kita sering mendengar istilah post-truth – apa maksudnya? Ini akan lebih dimengerti dengan membayangkan sistem pemastian kebenaran dalam dua pola pikir. Budaya / teologi modern melihat kebenaran seperti bangunan. Ada fondasi yaitu Alkitab, ada teologi dan misi yang dibangun di atas fondasi Alkitab, dan di atasnya lagi dibangun moral dan spiritualitas. Inilah epistemologi Kristen modern. Bagaimana dengan epistemologi Kristen postmodern? Bayangkan sarang laba-laba atau jejaring. Ada banyak simpul-simpul dan ada banyak benang antar simpul itu. Tidak ada fondasi, yang ada hanya simpul-simpul yang satu dengan lain berhubungan (relatif) dan satu sama lain menjadi fondasi bagi lainnya. Pengetahuan atau kebenaran dilihat sebagai jejaring dari banyak poin yang setara, sama pentingnya dan berelasi satu sama lain saling menopang. Maka kebenaran bergantung pada pengalaman atau pilihan atau keyakinan kepercayaan masing-masing dan keputusan mau mulai dari simpul mana. Tidak ada yang lebih benar, lebih penting, apalagi mutlak. Akibatnya kita sering berjumpa dengan yang seperti saya paparkan dalam sharing di atas. Di FB, IG, Twitter, orang memposting segala macam “kebenaran” yang dalam sistem modern bertolakbelakang tetapi dalam post truth benar semua. Maka hoax dan berbagai kebenaran yang di-benar-benar-kan bukan sekadar karena orang iseng membuat kabar bohong. Melainkan main-main, iseng-iseng, mau-maunya itu dimungkinkan oleh sifat media yang kehilangan sifat objektif, normatif dan absolut seperti dalam media cetak. Dalam situasi seperti ini mewartakan Injil Yesus Kristus menjadi sesuatu yang sangat sukar – kecuali Roh bekerja membuat kita arif dan memberdaya firman yang kita bagikan pada yang kita bagikan Injil..

Dalam zaman pascamodern posttruth ini, kita harus sadar untuk tidak berusaha mengubah orang menjadi pengikut pola kebenaran modern, berusaha mengubah orang dari wawasan pascamodern ke wawasan modern. Melainkan, tanggungjawab kita adalah menjadi alat Roh memperkenalkan Yesus Kristus yang hidup kepada orang ybs. Juga jangan sampai pola pemuridan, khotbah, liturgi, himne dlsb. yang kita anggap paling alkitabiah sebenarnya adalah menurut pola budaya modern semata. Dalam budaya postmodern relasi dan pengalaman riil menjadi kata kunci melebihi argumentasi.

Categories:

Leave a Comment