Radio SB

Rangkaian Korban Pada Penahbisan Imam

Sebaiknya kita lebih dulu melihat apa saja unsur dalam rangkaian penahbisan imam sesudah perikop di atas:

Pertama, Korban Penghapus Dosa (Imamat 8:14-17)

Kedua, Korban Bakaran (Imamat 8:18-21)

Ketiga, Persembahan Pentahbisan (Korban Pendamaian) dan Unjukan (Imamat 8:22-30)

Keempat, Masa Penahbisan (Imamat 8:31-32)

Pertama, Korban Penghapus Dosa: Disuruhnyalah membawa lembu jantan korban penghapus dosa, lalu Harun dan anak-anaknya meletakkan tangannya ke atas kepala lembu jantan korban penghapus dosa itu. Lembu itu disembelih, lalu Musa mengambil darahnya, kemudian dengan jarinya dibubuhnyalah darah itu pada tanduk-tanduk mezbah sekelilingnya, dan dengan demikian disucikannyalah mezbah itu dari dosa; darah selebihnya dituangkannya pada bagian bawah mezbah. Dengan demikian dikuduskannya mezbah itu dan diadakannya pendamaian baginya. Diambillah segala lemak yang melekat pada isi perut, umbai hati, kedua buah pinggang serta lemaknya, lalu Musa membakarnya di atas mezbah. Tetapi lembu jantan itu dengan kulit, daging dan kotorannya dibakarnya habis di luar perkemahan, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa. – Imamat 8:14-17

Sesudah dimandikan bersih mengapa imam masih harus melakukan berbagai korban persembahan ini? Terutama, mengapa sesudah pembersihan tubuh lambang pemurnian hati itu masih perlu dilakukan korban penghapus dosa? Dan dari tata cara korban penghapus dosa itu dilakukan, makna apa saja yang dilambangkan melaluinya?

Korban-korban Perjanjian Lama menunjuk kepada berbagai dampak dari korban sempurna Yesus Kristus yang menghasilkan keselamatan sempurna. Kita tahu dari petunjuk Perjanjian Lama dan Baru tentang berbagai istilah dosa bahwa dosa mengandung sifat dan dampak yang jamak – berontak, melenceng, bersalah, lemah, tidak memenuhi target – maka penyelesaian terhadap dosa juga bersifat jamak. Dalam Perjanjian Baru digunakan berbagai istilah untuk penyelesaian dosa dan akibat dosa itu. Antara lain ciptaan baru / lahir baru / dibangkitkan dari kematian rohani, pengampunan, pembenaran, pengangkatan sebagai anak-anak Allah, pengudusan, dst. Pengampunan dan pembenaran tidak membuat orang menjadi benar dalam hakikat dirinya melainkan hanya membereskan status dan kebersalahan orang tersebut. Sebaliknya pembaruan hidup orang juga merupakan tindakan Allah memperbarui hakikat diri orang tetapi tidak mengurus kebersalahan yang pernah atau akan dibuatnya. Pemandian adalah lambang dari kelahiran baru. Tidak ada orang yang dapat masuk Kerajaan Sorga atau layak terlibat dalam Kegiatan Sorga tanpa mengalami kelahiran baru. Namun demikian kebersalahan dan konsekuensi dosa masih harus diurus oleh korban penghapus dosa. Itulah sebab sesudah pemandian imam, mereka masih harus memberikan korban penghapus dosa.

Imam juga harus menjalani penghapusan dosa dengan memberikan korban penghapus dosa dengan semua tata caranya – penumpangan tangan tanda pertukaran posisi, penyembelihan lembu (korban paling mahal adalah korban penghapus dosa), darah dicurahkan, semua bagian korban tersebut harus dibakar habis – persis seperti yang juga dilakukan untuk umat biasa. Korban penghapus dosa harus ditumpas api sampai habis, tidak boleh dimakan bahkan oleh imam pun yang dari korban lainnya diberi persediaan Tuhan untuk memakannya. Ini menunjukkan bahwa imamat Perjanjian Lama dilakukan oleh orang berdosa juga jauh kurang dibanding Imam Besar Agung yang tidak perlu memberi korban penghapus dosa bagi diri-Nya sendiri. Korban Yesus Kristus bukan saja sempurna, luas cakupannya untuk seluruh umat, Ia juga adalah korban yang mahal. Inilah alasan Ibrani memberi peringatan untuk tidak menganggap enteng korban keselamatan dalam Yesus Kristus.

Darah korban ternyata harus dioleskan juga ke mezbah. Mengapa? Bukankah mezbah berfungsi sebagai alat kudus untuk tempat dilakukannya semua korban persembahan kudus? Mezbah yang adalah benda dari bumi dan dunia ini harus disucikan dari kecemaran dosa yang telah menyebar ke seluruh makhluk, bumi, dunia ini. Kejadian 3 menegaskan bahwa bumi pun terkutuk oleh dosa manusia; Roma 8 menggemakan lagi bahwa bumi dan segenap makhluk berkeluh kesar di bawah penantian penyelamatan; Kolose 1:20 membukakan visi mulia bahwa Yesus Kristus juga menghasilkan dampak pemurnian, pembaruan kepada segenap bumi, dunia dan makhluk di dalamnya – penebusan kosmis. Perintah tentang pengudusan mezbah ini menegaskan prinsip bahwa pelayanan menuntut bukan saja orang-orangnya harus melalui proses pengudusan, tata caranya (liturgi, tradisi), alat-alatnya, unsur-unsurnya, semua juga harus melalui proses “dikuduskan dan dilayakkan” sebagaimana mezbah tersebut.

DOA: Ya Allah Sumber Keselamatan, sungguh sempurna semua sifat Kasih-Kebenaran-Kekudusan-Mu dalam diri-Mu, dalam sang Mediator Urapan-Mu, dalam Jalan Keselamatan-Mu, dan juga Kau inginkan itu pun nyata dalam semua kami para pemercaya, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan-Mu. Kuatkan komitmen kami untuk hidup sesuai kehendak-Mu. Amin.

 

Dukung pelayanan literasi Yayasan Simpul Berkat | E-mail: simpulberkat@gmail.com |
Bank BCA – No. Rekening: 0953882377 – a.n. Philip H. S

Be the first to comment

Leave a Reply