Radio SB

Pengendalian Diri dan Kekudusan

TUHAN berfirman kepada Harun:

“Janganlah engkau minum anggur atau minuman keras, engkau serta anak-anakmu, bila kamu masuk ke dalam Kemah Pertemuan, supaya jangan kamu mati. Itulah suatu ketetapan untuk selamanya bagi kamu turun-temurun. Haruslah kamu dapat membedakan antara yang kudus dengan yang tidak kudus, antara yang najis dengan yang tidak najis, dan haruslah kamu dapat mengajarkan kepada orang Israel segala ketetapan yang telah difirmankan TUHAN kepada mereka dengan perantaraan Musa.” – Imamat 10:8-11

Firman dari Tuhan ini kini datang kepada Harun. Ini dinyatakan Tuhan tepat sesudah api-Nya membakar-matikan kedua anak Harun, Nadab dan Abihu yang telah menyalakan dupa ukupan dengan “api asing” yang “tidak diperintahkan Tuhan,” Bahwa firman ini secara spesifik disampaikan langsung oleh Tuhan kepada Harun, ayah dari dua imam yang lancang itu, dan bahwa firman larangan minum minuman fermentasi ini diberikan tepat sesudah peristiwa tindakan salah kedua imam tersebut, menyiratkan kemungkinan besar mereka melakukan dosa tersebut akibat berada di bawah pengaruh alkohol.

Apakah ini berarti firman Tuhan menyatakan bahwa anggur dan semua makanan / minuman yang difermentasi adalah jahat, dosa dalam dirinya, atau dianggap najis / tidak halal seperti dalam pemahaman Islam atau yang menjadi sikap dalam agama Buddha? Perlu kita ketahui bahwa Alkitab Perjanjian Lama maupun Baru tidak pernah menajiskan atau mengidentikkan hasil fermentasi apa pun sebagai najis atau dosa. Bahkan bagian-bagian firman Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru menjadikan anggur sebagai gambaran dari sukacita yang wajar dialami dalam berbagai perayaan, perjamuan dan suasana syukur tertentu. Kita bisa temukan itu bahkan dalam perayaan nikah di Kana ketika Yesus sendiri membuat mukjizat pertama dengan mengubah air basuhan menjadi anggur terbaik, atau dalam nasihat Paulus untuk Timotius agar memakai sedikit anggut untuk manfaat penyehatan.

Jadi larangan atau lebih tepatnya peringatan yang Alkitab berikan terhadap anggur dan minuman fermentasi adalah agar digunakan secara terkendali dan untuk tujuan baik serta tidak sampai mengganggu kesadaran dan pertimbangan benar dan salah, suci dan najis, serta tidak mengganggu kemampuan para rohaniwan dalam mengajarkan kebenaran kepada umat.

Berikut adalah beberapa kutipan dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru untuk kita memiliki sikap, penilaian dan pemakaian yang tepat tentang minuman / makanan fermentasi:

Setelah ia (Nuh) minum anggur, mabuklah ia dan ia telanjang dalam kemahnya. – Kejadian 9:21

Melkisedek, raja Salem, membawa roti dan anggur; ia seorang imam Allah Yang Mahatinggi. – Kejadian 14:18

Korban sajiannya dari dua persepuluh efa tepung yang terbaik, diolah dengan minyak, sebagai korban api-apian bagi TUHAN yakni bau yang menyenangkan, serta dengan korban curahannya dari seperempat hin anggur. – Imamat 23:13

Anggur yang menyukakan hati manusia, yang membuat muka berseri karena minyak, dan makanan yang menyegarkan hati manusia. – Mazmur 104:15

Anggur adalah pencemooh, minuman keras adalah peribut, tidaklah bijak orang yang terhuyung-huyung karenanya. – Amsal 20:1

Orang yang suka bersenang-senang akan berkekurangan, orang yang gemar kepada minyak dan anggur tidak akan menjadi kaya. – Amsal 21:17

Baiklah engkau jangan makan daging atau minum anggur, atau sesuatu yang menjadi batu sandungan untuk saudaramu – Roma 14:21

Janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh – Efesus 5:18

Demikian juga diaken-diaken haruslah orang terhormat, jangan bercabang lidah, jangan penggemar anggur, jangan serakah – 1 Timotius 3:8

Janganlah lagi minum air saja, melainkan tambahkanlah anggur sedikit, berhubung pencernaanmu terganggu dan tubuhmu sering lemah. – 1 Timotius 5:23

Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik. –Titus 2:3

Segala berkat alami maupun hasil rekayasa manusia boleh kita syukuri sebagai karunia baik Tuhan. Namun demikian kita harus selalu mawas diri agar semua karunia baik Tuhan tidak sampai mengendali, menyebabkan kemampuan kita untuk hidup benar, waras dan kudus terkikis. Peringatan dari berbagai nas di atas kiranya cukup untuk semua orang percaya dan para pelayan Tuhan bersikap bijak dalam perilaku konsumsi keseharian.

DOA: Ya Yesus Pemimpin Hidup Sempurna, tolong kami menghargai semua karunia-Mu dengan sikap menatalayan yang benar, supaya dalam peran apa pun yang Engkau percayakan kami sungguh melakukannya dengan tanggungjawab. Amin.

 

Dukung pelayanan literasi Yayasan Simpul Berkat | E-mail: simpulberkat@gmail.com |
Bank BCA – No. Rekening: 0953882377 – a.n. Philip H. S

Be the first to comment

Leave a Reply