Duri

Ada kebersyukuran untuk “duri dalam daging.” Duri menimbulkan sakit dan menyebabkan air mata. Paulus mengalami duri dalam daging yang melemahkan dia. Meskipun Paulus memohon agar duri tersebut diangkat — disembuhkan — jawaban Allah adalah, “Anugerah-Ku cukup untukmu.” Duri itu berfungsi mengingatkan Paulus tentang kelemahannya dan kebergantungannya pada Kristus.

Terkadang tusukan rasa sakit dari duri mengingatkan kita bahwa kita masih hidup. Orang yang menderita penyakit Hanson, atau kusta, tidak dapat merasa sakit. Sekali waktu, Paul Brand, dokter kusta terkenal, menanyai seorang pasiennya apa pemberian terbesar yang ia harap dapat terima dari Allah. Pasien itu menjawab, “Berikan saya rasa sakit.”

C.S. Lewis mengajarkan kita bahwa rasa sakit adalah pengeras suara Allah, yang memperbesar suara Allah. Dalam saat kesakitan, kita dapat mendengar suara Allah lebih jelas ketimbang yang kita dengar dengan cara lain.

Bergerak terlalu cepat adalah kenekatan, tetapi rasa sakit dapat memperlambat kita. Kecepatan memang penting, tetapi juga bisa membawa bahaya. Nilai dari mobil yang bagus tidak bergantung pada kecepatannya, tetapi pada keamanannya, dan keamanan bergantung pada pengendalian kecepatan. Duri dalam daging dapat menolong kita mengendalikan kecepatan kehidupan kita.

Duri dalam daging juga menolong kita menjaga jarak tepat dari orang lain. Kita dapat belajar misteri kasih dari dilema landak. Jika landak terlalu dekat satu sama lain untuk menghangatkan badan dalam musim yang dingin, mereka akan saling melukai dengan duri-duri tajam mereka. Tetapi jika mereka tetap terpisah jauh, mereka akan beku dalam kedinginan yang menusuk. Mereka saling membutuhkan, tetapi mereka harus menjaga jarak tertentu agar terhindar dari saling menyakiti. Demikian juga, duri-duri kita menolong kita menjaga jarak yang tepat satu dari lain, menarik garis batas.

Spiritualitas menyangkut pengendalian jarak. Menemukan keseimbangan antara menjaga kesedirian dan berada bersama orang lain merupakan kuncinya. Jika kita sepanjang waktu berdekatan, kita menjadi bosan satu kepada lain. Untuk keintiman kita perlu jarak tertentu dari waktu ke waktu. Ketika kita menjauh dari orang yang kita perhatikan, kita merasa kehilangan orang itu. Mengasihi seseorang mencakup merindukan orang itu. Bersyukurlah untuk duri dalam kehidupan Anda. Tetapi janganlah menjadi duri untuk orang lain. Terluka oleh duri landak lebih baik ketimbang melukai orang lain.

Yesus dilukai oleh mahkota duri dan ditikam oleh tombak di salib. Darah-Nya menyembuhkan banyak orang yang menanggung derita duri. Kita kerap bertanya-tanya bagaimana vaksin yang diproses dari hal berbahaya dapat melindungi kita dari dampak merusak yang berasal dari hal sama itu juga. Seperti itu, luka-luka Yesus yang menyembuhkan luka-luka banyak orang, sebab Ia adalah penyembuh yang terluka.

Mirip dengan bunga mawar yang menyertai kecantikannya dengan duri-duri, kita tahu bahwa kehidupan ini mengandung keajaiban dan rasa sakit. Mari kita bersyukur untuk duri dalam daging dan untuk keajaiban perkenan Allah yang dimungkinkannya. Allah memakai duri-duri untuk maksud baik-Nya, mengajarkan kita kerendahhatian dan kebergantungan pada Dia, mengubahkan kita menjadi orang yang sesuai dengan yang Ia inginkan.

(Joshua Choonmin Kang, Spiritualitas Kebersyukuran, psl. 8)

Be the first to comment

Leave a Reply