Radio SB

BAGIAN IMAM DARI KORBAN SAJIAN

“Inilah hukum tentang korban sajian. Anak-anak Harun haruslah membawanya ke hadapan TUHAN ke depan mezbah. Setelah dikhususkan dari korban sajian itu segenggam tepung yang terbaik dengan minyak, serta seluruh kemenyan yang di atas korban sajian itu, maka haruslah semuanya dibakar di atas mezbah sehingga baunya menyenangkan sebagai bagian ingat-ingatannya bagi TUHAN. Selebihnya haruslah dimakan oleh Harun dan anak-anaknya; haruslah itu dimakan sebagai roti yang tidak beragi di suatu tempat yang kudus, haruslah mereka memakannya di pelataran Kemah Pertemuan. Janganlah itu dibakar beragi. Telah Kuberikan itu sebagai bagian mereka dari pada segala korban api-apian-Ku; itulah bagian maha kudus, sama seperti korban penghapus dosa dan korban penghapus salah. Setiap laki-laki di antara anak-anak Harun haruslah memakannya; itulah suatu ketetapan untuk selamanya bagi kamu turun-temurun; itulah bagianmu dari segala korban api-apian TUHAN. Setiap orang yang kena kepada korban-korban itu menjadi kudus.” – Imamat 6:14-18

Di pasal 2 YHWH telah mengatur tentang persembahan sajian ini. Sebenarnya apa yang dimaksud dengan korban atau persembahan sajian ini? Apa tujuan dari korban sajian sebenarnya?

Dalam beberapa terjemahan Alkitab Inggris digunakan kata: – meat offering, – food offering, – meal offering, – grain offering, – present (YLT), – sacrifice to give thanks (CEV). Kata Ibrani yang sama, minkhah, dipakai juga dalam kisah Yakub mengirimkan iring-iringan hadiah untuk Esau (Kejadian 32:13), Yakub mengirimkan hadiah untuk Yusuf penguasa logistik di Mesir (Kejadian 43:11), dan bani Moab mengirimkan upeti kepada Daud (2 Samuel 8:2). Jadi istilah korban sajian, korban makanan, korban biji-bijian ini menunjuk kepada bahan yang dipakai untuk korban persembahan itu; sedangkan “present” atau hadiah dan “sacrifice to give thanks” menunjuk kepada maksud atau tujuan korban itu diberikan, yaitu untuk bersyukur dan mengungkapkan komitmen umat kepada YHWH.

Meski bagian ini mengulang pengaturan yang telah diberikan di pasal 2, namun perikop ini mengandung beberapa keunikan. Pertama, Tuhan Allah mengatur bahwa korban sajian itu dibagi dua: – segenggam yang terbaik dengan minyak dan kemenyan dibakar sebagai ungkapan komitmen dan syukur kepada Tuhan. Sisanya – meski sisa, tentu logis dibayangkan bahwa sisa dari yang hanya segenggam diambil untuk korban syukur pasti jauh lebih banyak jumlahnya, dan ini ditujukan untuk para penyelenggara korban persembahan yaitu para imam / Harun dan anak-anaknya. Kita pasti ingat bahwa ketika umat Israel sudah menduduki tanah perjanjian, setiap suku mendapatkan bagian tanah untuk diolah menjadi sumber nafkah mereka. Perkecualian adalah kaum Lewi yang harta dan sumber hidupnya adalah Tuhan sendiri. Dengan aturan YHWH bahwa para imam mendapatkan sebagian besar yang tidak dibakar habis untuk Tuhan menjadi santapan mereka, kita melihat perhatian kasih Allah kepada para pelayan-Nya.

Kedua, korban sajian yang ditujukan sebagai syukur kepada Tuhan sama seperti korban bakaran dan korban pendamaian harus dibakar, harus yang terbaik, harus tanpa hal-hal yang tidak layak. Tetapi ada perbedaan penting: – korban sajian tidak melakukan upacara simbolik penumpangan tangan, menunjukkan bahwa ini bukan tindakan perpindahan posisi untuk pengampunan dosa. Pihak yang memberikan korban syukur memberikan yang terbaik sebagai tanda terima kasih kepada Tuhan; – korban binatang adalah persembahan nyawa sebab binatang tersebut ditumpahkan darahnya, sedangkan korban sajian adalah hasil bumi yang merupakan hasil karya manusia mengolah tanah. Untuk menebus nyawa kita harus nyawa juga – dalam hal ini Yesus Kristus mempersembahkan darah-nyawa-Nya sebagai korban penebus dan pengganti nyawa kita. Sedangkan korban persembahan syukur adalah hasil jerih payah kita yang diberkati Tuhan, yang sebagian diberikan sebagai simbol syukur kepada Tuhan, sisanya adalah untuk menopang kehidupan para pekerja Tuhan. Jika kita meluaskan prinsip ini ke persembahan Kristen, memberi kolekte, donasi, persepuluhan dlsb. intinya adalah simbol hormat dan komitmen kepada Tuhan, dengan cakupan makna berbagi hidup dan sumber yang kita miliki dengan sesama.

Terakhir, mengapa orang yang tersentuh korban-korban akibatnya menjadi kudus? Apa maksudnya? Ini menegaskan bahwa ibadah adalah hal yang kudus, dan harus dilayankan waktu itu hanya oleh kaum Lewi yang dikuduskan / dikhususkan Tuhan bagi pekerjaan bait dan korban-korban. Maka, orang yang tersentuh korban-korban harus mewujudkan kekudusan dalam kehidupannya seperti halnya kaum Lewi harus kudus.

DOA: O Tuhan Allah, kerjakanlah dalam hati kami komitmen untuk menjadikan tubuh (hidup seutuhnya) kami ini menjadi korban yang hidup, kudus, dan berkenan kepada-Mu supaya kami boleh menjadi berkat bagi sesama. Amin.

 

Dukung pelayanan literasi Yayasan Simpul Berkat | E-mail: simpulberkat@gmail.com |
Bank BCA – No. Rekening: 0953882377 – a.n. Philip H. S

Be the first to comment

Leave a Reply