Posted on: 26 Maret 2020 Posted by: admin Comments: 0

Tulah Kesembilan

Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Ulurkanlah tanganmu ke langit, supaya datang gelap meliputi tanah Mesir, sehingga orang dapat meraba gelap itu.” Lalu Musa mengulurkan tangannya ke langit dan datanglah gelap gulita di seluruh tanah Mesir selama tiga hari. Tidak ada orang yang dapat melihat temannya, juga tidak ada orang yang dapat bangun dari tempatnya selama tiga hari; tetapi pada semua orang Israel ada terang di tempat kediamannya. Lalu Firaun memanggil Musa serta berkata: “Pergilah, beribadahlah kepada TUHAN, hanya kambing dombamu dan lembu sapimu harus ditinggalkan, juga anak-anakmu boleh turut beserta kamu.” Tetapi Musa berkata: “Bahkan korban sembelihan dan korban bakaran harus engkau berikan kepada kami, supaya kami menyediakannya untuk TUHAN, Allah kami. Dan juga ternak kami harus turut beserta kami dan satu kakipun tidak akan tinggal, sebab dari ternak itulah kami harus ambil untuk beribadah kepada TUHAN, Allah kami; dan kami tidak tahu, dengan apa kami harus beribadah kepada TUHAN, sebelum kami sampai di sana.” Tetapi TUHAN mengeraskan hati Firaun, sehingga dia tidak mau membiarkan mereka pergi. Lalu Firaun berkata kepadanya: “Pergilah dari padaku; awaslah engkau, jangan lihat mukaku lagi, sebab pada waktu engkau melihat mukaku, engkau akan mati.” Kemudian Musa berkata: “Tepat seperti ucapanmu itu! Aku takkan melihat mukamu lagi!” — Keluaran 10:21-29
Tanpa didahului firman peringatan, selama tiga hari Mesir mengalami tulah kesembilan. Sedangkan Israel lagi-lagi akan luput dari tulah tersebut. Tiga hari terjadi kegelapan total. Apa yang sebenarnya terjadi sampai bukan saja orang tidak dapat saling melihat atau melihat apa pun, bahkan gelap itu sendiri dapat dirasakan, bahkan diraba? Mungkin ada penjelasan naturalnya yaitu angin gurun meniupkan pasir secara susul menyusul selama tiga hari penuh menyebabkan kegelapan pekat itu teraba sebagai udara yang berat dan menyesakkan. Atau ada penjelasan supernaturalnya yaitu Allah menghentikan atau menyebabkan pancaran cahaya matahari tertutupi, sambal menarik hadirat penyataan umum dan penyelenggaraan-Nya dari Mesir dan mengirimkan tanda ajaib kehadiran kegelapan sampai dapat dirasa dan diraba. Jika diingat ucapan Tuhan Yesus bahwa kepada orang jahat pun Allah Bapa masih memberikan matahari yang sama, berarti saat itu ada pengalaman awal akan murka Allah dialami oleh Firaun dan rakyatnya. Dewa utama yang paling dipuja Mesir, Ra — dewa matahari — dilumpuhkan total oleh Allah sejati. 
Firaun masih berusaha tawar menawar dengan Musa. Musa menolak, Firaun mengusir dan mengancam akan membunuh Musa Musa mewakili TUHAN Allah menyatakan pernyataan final — tidak akan lagi melihat Firaun.
Sembilan tulah terdiri mdari tiga rangkaian — dua dengan peringatan satu terakhir tanpa peringatan — telah ditimpakan TUHAN Allah ke atas Foraun / Mesir supaya:1. Jelas siapa TUHAN Allah yang Firaun pertanyakan itu.2. Nyata bahwa Ia sungguh berdaulat, benar, berkuasa.3. Sehingga Israel zaman Musa dan generasi Israel berikutnya sadar bahwa TUHAN Allah yang mereka sembah sungguh Allah sejati. Dan, supaya mereka dan semua umat tebusan-Nya hidup dalam syukur, takut dan taat kepada YHWH.4. Bahkan bangsa-bangsa lain menyadari kekuasaan dan kesejatian TUHAN Allah. Empat ratus tahun lebih sesudah ini orang Filistin berkata: “Celakalah kita! Siapakah yang menolong kita dari tangan Allah yang maha dahsyat ini? Inilah juga Allah, yang telah menghajar orang Mesir dengan berbagai-bagai tulah di padang gurun.” (1 Samuel 4:8).5. Manusia sadar akan dahsyatnya penghukuman TUHAN Allah baik atas segala bentuk pemberhalaan, dewa-dewi, takhayul, kepercayaan, ideologi, isme-isme yang sia-sia yang dijunjung dan dipuja setara Dia, maupun semua yang menganut, mengandalkan dan mempraktikkannya. 

Mari memberkati sesama melalui pelayanan literasi Yay. Simpul Berkat. Kirim dukungan Anda ke: BCA 0953882377

Categories:

Leave a Comment