Posted on: 17 Desember 2019 Posted by: admin Comments: 0

Rencana Ilahi Vs Rusuh

Ketika masa tujuh hari itu sudah hampir berakhir, orang-orang Yahudi yang datang dari Asia, melihat Paulus di dalam Bait Allah, lalu mereka menghasut rakyat dan menangkap dia, sambil berteriak: “Hai orang-orang Israel, tolong! Inilah orang yang di mana-mana mengajar semua orang untuk menentang bangsa kita dan menentang hukum Taurat dan tempat ini! Dan sekarang ia membawa orang-orang Yunani pula ke dalam Bait Allah dan menajiskan tempat suci ini!” Sebab mereka telah melihat Trofimus dari Efesus sebelumnya bersama-sama dengan Paulus di kota, dan mereka menyangka, bahwa Paulus telah membawa dia ke dalam Bait Allah. Maka gemparlah seluruh kota, dan rakyat datang berkerumun, lalu menangkap Paulus dan menyeretnya keluar dari Bait Allah dan seketika itu juga semua pintu gerbang Bait Allah itu ditutup.

Sementara mereka merencanakan untuk membunuh dia, sampailah kabar kepada kepala pasukan, bahwa seluruh Yerusalem gempar. Kepala pasukan itu segera bergerak dengan prajurit-prajurit dan perwira-perwira dan maju mendapatkan orang banyak itu. Ketika mereka melihat dia dan prajurit-prajurit itu, berhentilah mereka memukul Paulus. Kepala pasukan itu mendekati Paulus, menangkapnya dan menyuruh mengikat dia dengan dua rantai, lalu bertanya siapakah dia dan apakah yang telah diperbuatnya. Tetapi dari antara orang banyak itu ada yang meneriakkan kepadanya ini, ada pula yang meneriakkan itu. Dan oleh karena keributan itu ia tidak dapat mengetahui apakah yang sebenarnya terjadi. Sebab itu ia menyuruh membawa Paulus ke markas. Ketika sampai ke tangga Paulus terpaksa didukung prajurit-prajurit karena berdesak-desaknya orang banyak, yang berbondong-bondong mengikuti dia, sambil berteriak: “Enyahkanlah dia!” — Kisah Para Rasul 21:27-36

Tuduhan, kerusuhan, penangkapan atas Paulus terjadi tepat seusai masa nazar yang ia tempuh. Tidak bisa kita hindari mendapat kesan kemiripan peristiwa ini dengan yang dialami Stefanus bahkan yang lebih dulu dialami oleh Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.

1. Beberapa tuduhan yang dilemparkan orang Yahudi asal Efesus itu jelas adalah pemelintiran, prasangka dan semua tidak benar. Paulus dituduh menentang bangsanya sendiri, Taurat dan Bait. Jelas semua ini tidak benar dan merupakan pemelintiran dari apa yang Paulus ajarkan dan sikapnya tentang keselamatan untuk semua dan bukan melalui Taurat. Tuduhan terakhir adalah prasangka cepat tanpa cek, bahwa Paulus mengajak Trofinus masuk Bait. Kalau sudah niat jahat dan keras hati menolak Injil, apa pun dipakai untuk menghancurkan pihak yang tidak disukai.

2. Cukup kata-kata fitnah, putar balik fakta untuk membangkitkan amarah masa. Lebih lagi, mengingat atmosfir sedang kental suasana hari raya Yahudi, tuduhan mereka segera bagaikan api yang menyukut mesiu. Seluruh Yerusalem menjadi gempar, rusuh, hiruk pikuk penuh dengan masa liar tak terkendali. Motif keagamaan bukannya mencipta kecerdasan, keadilan dan kedamaian malah sebaliknya yang dimanfaatkan.

3. Pintu Bait ditutup — tentu itu atas prakarsa para imam pengelola Bait Allah. Dengan menutup pintu, berarti nasib Paulus sepenuhnya diserahkan ke para pengacau dan perusuh itu. Dan memang itu yang terjadi, Paulus sempat menerima berbagai bentuk aniaya jasmani di samping perundungan mental spiritual yang mendahului. Para pemimpin agama sengaja memakai tangan-tangan para penuduh dan perusuh itu untuk menyingkirkan pihak yang mereka anggap ancaman. Mereka sendiri cuci tangan.

4. Seperti di beberapa kota Asia ketika Paulus ditolak dan dianiayya, kini kembali kepala pasukan Romawi yang mengamankan keadaan dan menyingkirkan Paulus dari amukan masa. Jika kita bandingkan sengsara Yesus, aniaya Stefanus dan kini Paulus, kita melihat di balik tangan-tangan keji orrang Yahudi, penguasa agama, militer Roma ada tangan yang tidak terlihat yaitu rencana Allah membawa Paulus ke jantung peradaban sosial-politik-ekonomi-budaya zaman itu yaitu kota Roma.

5. Ini secara mengagumkan terlihat dari betapa tenangnya Paulus menghadapi semua huru hara itu. Ia bahkan dengan berani meminta kesempatan untuk berbicara kepada para perusuh. Ia yang pastinya mengalami luka-luka jasmani dan tekanan psikologi massa, sama sekali tidak terlihat menjadi takut, ciut atau menghindar.

 

Mari memberkati sesama di banyak daerah melalui pelayanan literasi Yay. Simpul Berkat. Kirim dukungan Anda ke: BCA 0953882377
Categories:

Leave a Comment