Posted on: 11 Mei 2020 Posted by: admin Comments: 0

Perspektif Kristen (5)

9.       Tanya: Supaya maksud penyelamatan dari Tuhan boleh terjadi proses apa saja yang harus menjadi respons dan pengalaman manusia?

Jawab: Pertama, para saksi Kristen sendiri perlu mengalami pemurnian terus menerus. Pribadi dan keluarga Kristen, gereja perlu secara kasat mata, progresif memperlihatkan gaya hidup murid Yesus Kristus dalam kehidupan kesehariannya secara menyeluruh dan utuh – pertimbangan, percakapan, pergaulan, pertetanggaan, kelakuan dalam lingkungan bisnis / kerja, kehidupan dan kegiatan kegerejaan. dlsb. Harus memperlihatkan bermanifestasinya sifat-sifat Yesus Kristus, buah Roh secara aktif. Jika gaya hidup murid tidak beroperasi maka dengan sendirinya daya hidup bersaksi tidak saja lemah dan tidak menarik ke luar tetapi juga lesu di dalam orang Kristen sendiri.

Gaya hidup orang Kristen, keluarga Kristen, gereja Kristen harus menjadi garam – masuk, terlibat bukan menjadi sama tetapi menggarami membawa dampak pengawetan dan penyedapan, dan terang – hadir membawa dampak pencerahan, penguatan, penghiburan, pengharapan, transformatif. Kedua metafora tentang pemuridan dari Tuhan Yesus itu memperlihatkan panggilan untuk hidup terlibat nyata di dalam dunia tetapi bukan sebagai bagian dari dunia ini. Dengan kata lain pribadi, keluarga, gereja adalah kekuatan “counter culture” – dalam pimpinan Roh yang terus menerus memperbarui akal budi dan mengerahkan proses pengudusan seluruh kapasitas kemanusiaan kita.

Maka, sebelum gaya hidup Kristen memiliki kekuatan untuk mengkonter berhala-berhala dan dosa-dosa kita sendiri harus terus menerus dikuduskan, dimurnikan dari berbagai dosa dan berhala pribadi, keluarga, generasional, sosial dan kultural. Seperti garam dan terang Kekristenan kita tidak saja harus mampu mengkonter yang salah dan jahat di mata Tuhan tetapi juga harus kreatif memberikan solusi, alternatif yang berasal dari hikmat Roh Allah yang Mahakudus dan Mahabenar adanya.

Kesalahan Kristen seringkali adalah salah satu dari dua ekstrim: 1) menjadi garam yang kehilangan asin dan pelita yang menjelang padam – alias menjadi sama dengan dunia ini, berbagai dosa dan berhala juga kita cintai meski mungkin dengan cara yang munafik. Kita sama mencintai uang, rakus, tidak mendisiplin keinginan mata, mulut dan tubuh, tidak sungguh menggumuli dalam terang firman dan Roh gaya hidup, tata liturgis dan nafas ibadah, pola kekeluargaan yang berkenan kepada-Nya dan bukan yang mencontoh dunia ini. 2) menjadi garam yang disimpan dalam botol dan pelita di bawah gantang – alias menjadi eksklusif, legalistis, dogmatis, super spiritualis, tidak menjangkau dan terlibat tetapi mengkritik berlebihan, menghakimi, mengurung diri.

Bukan kedua alternatif ini yang Tuhan ingin berdayakan dalam Kekristenan kita, melainkan pribadi, keluarga, gereja yang terus menerus menghidupi ke-garam-an dan ke-terang-an Injil Yesus Kristus, sambil sungguh hadir menggarami dan menerangi sesuai arahan firman dan Roh. Dan, apabila dalam sikon biasa dwisifat dan dwidampak Kristen ini hadir, kita niscaya oleh pertolongan Roh juga dimampukan menyatakan dwisifat dan dwidampak Kristen dalam sikon bencana dan wabah. Kita dimampukan Roh menjadi Injil yang hidup, murid Kristus yang ber-aksi di tengah sikon berbeda-beda, baik atau tidak baik kenyataannya. (Bersambung)

Mari memberkati sesama melalui pelayanan literasi Yay. Simpul Berkat.

Kirim dukungan/persembahan kasih Anda ke: BCA 0953882377

Categories:

Leave a Comment