Posted on: 9 Mei 2020 Posted by: admin Comments: 0

Perjuangan Manusiawi-Ilahi

Musa berkata kepada Yosua: “Pilihlah orang-orang bagi kita, lalu keluarlah berperang melawan orang Amalek, besok aku akan berdiri di puncak bukit itu dengan memegang tongkat Allah di tanganku.” Lalu Yosua melakukan seperti yang dikatakan Musa kepadanya dan berperang melawan orang Amalek; tetapi Musa, Harun dan Hur telah naik ke puncak bukit. Dan terjadilah, apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek. Maka penatlah tangan Musa, sebab itu mereka mengambil sebuah batu, diletakkanlah di bawahnya, supaya ia duduk di atasnya; Harun dan Hur menopang kedua belah tangannya, seorang di sisi yang satu, seorang di sisi yang lain, sehingga tangannya tidak bergerak sampai matahari terbenam. — Keluaran 17:9-12
Siapa sebenarnya yang berperang melawan pasukan Amalek¬† ini — Yosua dan pasukan pilihannya atau Musa, Harun dan Hur? Sesungguhnya perang tersebut hanya tentang otot, senjata, keberanian dan strategi otak atau lebih daripada itu? Faktor yang membuat Yosua dan pasukannya menang itu pedang, lembing dan perisai atau tongkat Allah?
Perang tersebut perang riil — benar-benar melibatkan pasukan darah dan daging, senjata dengan berbagai bentuk dan fungsinya, orang-orang dengan otot, keberanian, pikiran yang terlibat penuh. Namun dengan adanya paparan tentang pengaruh tongkat Musa terhadap kekuatan pasukan Israel — apabila tongkat Allah diacungkan tinggi oleh Musa mereka menang, sebaliknya apabila Musa lelah dan acungan tongkat Allah menurun pasukan Yosua pun kalah — membuat kita harus menyimpulkan bahwa ini perang riil yang selain melibatkan hal-hal kasat mata juga melibatkan hal-hal lain yang bekerja di balik yang kasat mata itu. Ini adalah perang jasmani-rohani sepenuhnya, ini adalah perang nyata berdimensi dalam dan luas, ini adalah perjuangan untuk maju dalam rencana Allah mewujudkan territorial, komunitas, atmosfir Kerajaan-Nya di tengah dunia yang dikuasai oleh kuat kuasa kegelapan.
Tongkat Musa itu bukan tongkat tukang sulap. Tongkat itu adalah simbol yang menunjuk dan mengingatkan untuk memberlakukan panggilan Allah, otoritas dan urapan Allah, penyertaan Allah dan pengerahan kuat kuasa-Nya untuk mewujudkan kehendak-Nya dan menyingkir-buyarkan semua rencana dan kuat kuasa jahat yang menghalangi kemajuan Kerajaan-Nya di bumi ini. Masalahnya tongkat itu — pengerahan kuat kuasa otoritas ilahi itu — melibatkan juga bentuk partisipasi jasmani tertentu. Musa harus berdiri, mengangkat dan mengacung-tujukan tongkat itu kepada pasukan Israel agar kuat kuasa Allah menjadi nyata dalam perjuangan mereka. Maka ketika pihak yang mempraktikkan aliran kuasa ilahi itu menjadi lelah, pasukan yang ditopangnya pun kalah. Pekerjaan Musa — karya mendukung, menguatkan, memberikan kebernian, mendoakan dalam syafaat — ini tidak kalah beratnya ketimbang yang berperang darah dan daging. Bahkan dalam pengalaman kita akui bahwa berdoa yang tekun, yang sungguh konek dengan kehendak dan strategi Allah, yang sungguh menaklukkan diri kepada sang Tuan dan sang Panglima sejatinya, adalah perkara yang kita sering jatuh bangun, gagal berhasil, terus menerus harus belajar dan berjuang. Itu sebab, bukan saja dalam karya nyata darah dan daging kita membutuhkan pasukan dan sekutu dalam perang rohani, doa, pelayanan, pemuridan pun lebih lagi kita tidak bisa bekerja sebagai jagawana tunggal (lone ranger) tetapi harus berbagi beban dan sumber rohani — perlu ada persekutuan yang hidup dan riil.
Sisi ganda yang terlibat dalam semua pergumulan rohani kita, pemuridan kita, penginjilan dan misi kita, kesaksian dalam kata dan karya kita, kualitas pengabdian kita dalam dunia nyata, pertumbuhan gereja kita, keutuhan dan keserasian keluarga kita, keberhasilan dalam pengasuhan anak, dst., seringkali tidak disadari dan diberlakukan secara konsekuen. Seringnya yang terjadi adalah bila kita menekankan faktor-faktor yang manusiawi kita lupa atau paling tidak meringankan faktor yang ilahi, atau sebaliknya jika kita sangat peka tentang hal-hal rohani adikodrati lalu kita lengah bahkan malas tentang keharusan untuk mengerahkan semua kapasitas manusiawi terbaik kita juga.
Perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi…¬† — Efesus 6:12-13 dst.
Jangan lalai dalam mempergunakan karunia yang ada padamu, yang telah diberikan kepadamu oleh nubuat dan dengan penumpangan tangan sidang penatua. — 1 Timotius 4:14
Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu. — 2 Timotius 1:6

 

Mari memberkati sesama melalui pelayanan literasi Yay. Simpul Berkat.

Kirim dukungan/persembahan kasih Anda ke: BCA 0953882377

Categories:

Leave a Comment