Posted on: 18 April 2020 Posted by: admin Comments: 0

Pendidikan Iman

Lalu berkatalah Musa kepada bangsa itu: “Peringatilah hari ini, sebab pada hari ini kamu keluar dari Mesir, dari rumah perbudakan; karena dengan kekuatan tangan-Nya TUHAN telah membawa kamu keluar dari sana. Sebab itu tidak boleh dimakan sesuatupun yang beragi. Hari ini kamu keluar, dalam bulan Abib. Apabila TUHAN telah membawa engkau ke negeri orang Kanaan, orang Het, orang Amori, orang Hewi dan orang Yebus, negeri yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepadamu, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya, maka engkau harus melakukan ibadah ini dalam bulan ini juga. Makanlah roti yang tidak beragi tujuh hari lamanya dan pada hari yang ketujuh akan diadakan hari raya bagi TUHAN. Roti yang tidak beragi haruslah dimakan selama tujuh hari itu; sesuatupun yang beragi tidak boleh dilihat padamu, bahkan ragi tidak boleh dilihat padamu di seluruh daerahmu. Pada hari itu harus kauberitahukan kepada anakmu laki-laki: Ibadah ini adalah karena mengingat apa yang dibuat TUHAN kepadaku pada waktu aku keluar dari Mesir. Hal itu bagimu harus menjadi tanda pada tanganmu dan menjadi peringatan di dahimu, supaya hukum TUHAN ada di bibirmu; sebab dengan tangan yang kuat TUHAN telah membawa engkau keluar dari Mesir. Haruslah kaupegang ketetapan ini pada waktunya yang sudah ditentukan, dari tahun ke tahun. Apabila engkau telah dibawa TUHAN ke negeri orang Kanaan, seperti yang telah dijanjikan-Nya dengan sumpah kepadamu dan kepada nenek moyangmu, dan negeri itu telah diberikan-Nya kepadamu, maka haruslah kaupersembahkan bagi TUHAN segala yang lahir terdahulu dari kandungan; juga setiap kali ada hewan yang kaupunyai beranak pertama kali, anak jantan yang sulung adalah bagi TUHAN. Tetapi setiap anak keledai yang lahir terdahulu kautebuslah dengan seekor domba; atau, jika engkau tidak menebusnya, engkau harus mematahkan batang lehernya. Tetapi mengenai manusia, setiap anak sulung di antara anak-anakmu lelaki, haruslah kautebus. Dan apabila anakmu akan bertanya kepadamu di kemudian hari: Apakah artinya itu? maka haruslah engkau berkata kepadanya: Dengan kekuatan tangan-Nya TUHAN telah membawa kita keluar dari Mesir, dari rumah perbudakan. Sebab ketika Firaun dengan tegar menolak untuk membiarkan kita pergi, maka TUHAN membunuh semua anak sulung di tanah Mesir, dari anak sulung manusia sampai anak sulung hewan. Itulah sebabnya maka aku biasa mempersembahkan kepada TUHAN segala binatang jantan yang lahir terdahulu dari kandungan, sedang semua anak sulung di antara anak-anakku lelaki kutebus. Hal itu harus menjadi tanda pada tanganmu dan menjadi lambang di dahimu, sebab dengan kekuatan tangan-Nya TUHAN membawa kita keluar dari Mesir.” —¬†Keluaram 13:3-16
Di Sukot (ay. 20) titik perhentian pertama perjalanan Keluaran Israel dari Mesir, Musa memberikan arahan tentang perayaan yang menjadi pewujud keberadaan dan pembentuk jatidiri Israel seterusnya. Ini menyangkut tentang masa diadakannya perjamuan Pesakh yaitu selama tujuh hari di bulan Abib, tentang roti tidak beragi, tentang kepemilikan TUHAN Allah atas semua anak sulung, tentang penebusan sulung binatang, dan tentang tugas dan tanggungjawab para orangtua untuk membentuk kesadaran tentang karya tangan kuat Tuhan dan jatidiri keumatan mereka melalui cerita, tanda dan berbagai ritual kreatif. 
Apa yang Musa lakukan ini — meneruskan firman Tuhan, mengajar, memberi petunjuk, membuat berbagai cara instruktif yang kreatif, menjadi sumber dan model untuk diteruskan oleh para orangtua Israel kepada generasi-generasi penerusnya, Hal ini kemudian Musa nyatakan lagi, misalnya dalam Ulangan 6:6; 11:19. Tujuan dari semua aksi, ritual, tradisi ini adalah supaya tertanam kesadaran mengakar tentang karya anugerah TUHAN yang dahsyat, yang harus mewujud ke dalam seluruh aspek kenangan, pengertian, perasaan, kemauan, imajinasi antar generasi seterusnya. (baca Ulangan 11:18).
Tradisi ini kita jumpai terus dalam pelayanan Tuhan Yesus yang membimbing, memuridkan para pengikut-Nya, dalam pelayanan Paulus yang memuridkan Timotius cs dan memerintahkan Timotius untuk memuridkan lebih lanjut kepada orang-orang yang pantas dan cakap memuridkan lagi — dihitung dari Paulus terbentang visi pemuridan 4 generasi paling sedikitnya.
Dalam sejarah gereja yang kemudian kita dapatkan terbentuknya tradisi katekisasi kepada anak-anak yang beranjak dewasa. Akan lebih tepat jika tradisi katekisasi gerejawi ditempatkan segaris dengan tradisi pembentukan keumatan oleh Musa dan para orangtua Israel, pemuridan oleh Tuhan Yesus dan para rasul. Antara lain yang perlu untuk dipertimbangkan adalah sbb.:1) keluarga harus menjadi tempat untuk rangkaian katekisasi sampai di usia tertentu (tradisi yahudi di usia 12 anak dianggap pindah ke usia dewasa) katekisasi gerejawi yang diberikan oleh pejabat gereja. Tanggungjawab membimbing anak-anak menyadari dan mengimani anugerah Allah serta memiliki kesadaran sebagai umat pilihan tidak boleh diserahkan ke sekolah Minggu, Pendidikan agama di sekolah, dll. Ini harus mengakar di keluarga-keluarga. 2) tujuan Utama tradisi, ritual, katekisasi, dlsb. bukan semata untuk pembentukan pengetahuan dan penyesuaian perilaku lahiriah, tetapi untuk penanaman anugerah Allah di dalam hati sanubari tiap orang supaya benar-benar mengakar dan tumbuh ke fase dan aspek berikutnya.3) pemuridan, tradisi, ritual, katekisasi perlu melibatkan keseluruhan aspek kemanusiaan kita sehingga terjadi proses pembelajaran yang penuh sukacita, kreatif dan menarik, melibatkan sebanyak mungkin kapasitas kemanusiaan kita.

Mari memberkati sesama melalui pelayanan literasi Yay. Simpul Berkat. Kirim dukungan Anda ke: BCA 0953882377

Categories:

Leave a Comment