Posted on: 30 Juni 2020 Posted by: admin Comments: 0

Pembahasan Kitab Daniel (serial)

Jenis Sastra, Bahasa, dan Struktur:

Sastra:

1. 6 pasal pertama adalah kisah historis Daniel dkk., dan tentang pengalaman para penguasa Babilonia sampai ke masa Media-Persia. Baik jalan kisah maupun pesannya cukup sederhana dan mudah ditangkap: – Tuhan Allah berdaulat, memerintah mengatasi segala kejadian di muka bumi ini. 6 pasal berikutnya adalah visi-visi simbolis penglihatan teleskopik yang sangat mungkin menyangkut masa depan dekat, menengah dan jauh dari masa kehidupan Daniel sendiri. Enam pasal ini banyak kesamaan dengan visi-visi Kitab Wahyu (kemungkinan Daniel menjadi semacam sumber untuk Wahyu) dan sangat sulit dimengerti oleh pembaca modern. Bagian kedua ini tentu ada maksud dan pesan dari Tuhan untuk kita meski pertama kali ditujukan bukan kepada kita tetapi kepada zaman Daniel maka penting untuk kita tidak melewatinya saja karena sukar, juga tidak cepat dan sembrono mengartikannya menurut bingkai pengertian dan pergumulan kita masa kini.

2. 6 pasal pertama adalah kisah-kisah historis – maksudnya peristiwa riil historis namun diceritakan sebagai kisah – jadi bukan dongeng mirip sejarah tetapi sejarah dalam gaya sastra kisah. Kisah-kisah ini adalah pengalaman empat anak muda yang ditawan dari Yehuda ke Babilonia dan harus mengalami berbagai ujian, tekanan, pencobaan hidup dalam lingkup kekuasaan periode Babilonia sampai periode Media-Persia. Dari beberapa peristiwa itu, pasal 3 dan 6 merupakan poin pesan teologis yang kuat yaitu bahwa YHWH adalah yang berdaulat atas segala sesuatu mengatasi berbagai dewa palsu dan berdaulat dalam kancah politik zaman tersebut. Seiring dengan itu YHWH juga mengintervensi dalam bahaya yang mengancam para hamba-Nya yang setia.

3. 6 pasal kedua adalah wahyu: – penyataan, penyingkapan dalam visi / penglihatan, atau biasa disebut sebagai apokaliptik, – dengan ciri seperti yang terdapat dalam Kitab Wahyu. Tetapi dalam Alkitab ada berbagai jenis penyataan atau wahyu, dan yang menjadi ciri Daniel, Wahyu seperti juga Yesaya 24-27, sebagian Zakharia, dan dalam beberapa kitab ekstra kanonik antar-perjanjian (1 Henoh, 4 Ezra, 2 Barukh), adalah apokaliptik yang berbeda dari nubuatan klasik seperti dalam Yeremia. Nubuatan klasik adalah firman dari Tuhan datang kepada para nabi untuk zaman yang bersangkutan dengan tujuan menegakkan perjanjian dalam Taurat supaya bangsa Israel / Yehuda bertobat. Sedanglan apokaliptik yang datang kepada Daniel tidak pernah dalam bentuk firman tetapi dalam bentuk mimpi dan penglihatan. Lalu arti penglihatan itu diberitahukan oleh makhluk surgawi (malaikat) biasanya dengan pesan untuk tidak disebarluaskan oleh Daniel, dan bertujuan untuk menghibur dan menguatkan hati mereka dengan kepastian bahwa YHWH pegang kendali dan akhirnya akan menghukum bangsa dan penguasa lawan-Nya. Jadi bisa dikatakan bahwa nubuatan para nabi adalah kabar buruk (peringatan untuk tobat dan hukuman jika tidak tobat), sedangkan Daniel (juga Wahyu) adalah kabar baik yaitu bahwa YHWH akan berjaya dan memberikan keluputan bagi umat kepunyaan-Nya.

4. Perbedaan lain antara para nabi dan Daniel ialah fokus dan rentang penglihatan mereka. Para nabi lebih ke masa kini dan masa depan dekat mereka, sedangkan Daniel melihat secara teleskopik yaitu beberapa peristiwa di depan dekat-menengah-jauh bertumpang tindih sampai ke zaman akhir. Jadi meski Daniel dan Wahyu juga bicara tentang zaman mereka, namun perhatian utamanya adalah pada kemenangan akhir Tuhan Allah di ujung sejarah dunia ini. Tambahan, meski seluruh Alkitab banyak menggunakan gambaran figuratif (Allah sebagai raja, gembala, pahlawan perang, prajurit mabuk siuman, ibu, elang, pokok anggur, dlsb.) Daniel dan Wahyu memakai figuratif yang khas. Seperti misalnya, gambaran binatang buas yang muncul dari laut, tanduk-tanduk kambing yang tumbuh dan berperang satu sama lain, angka-angka figuratif dan kelipatannya, sosok surgawi dengan tampilan badan yang dahsyat, penjaga / “watcher,” orang bijak yang akan bercahaya seperti bintang di langit, dlsb. Oleh karena gambaran figuratif ini banyak dipakai dalam literatur apokaliptik inter-testamental, maka perlu untuk kita memiliki informasi memadai supaya tidak hanya bingung atau menafsirkan secara “liar.”

5. Gambaran sastra apokaliptik tentang zaman, tempat dan etika sangat dualistik, kontras, hitam dan putih. Tidak ada gambaran abu-abu. Masa lalu dan masa kini dunia adalah gelap, masa depan dalam kedatangan kemenangan Tuhan Allah adalah terang. Bila dilihat dari sudut penghukuman dari Tuhan apokaliptik bisa dianggap negatif, tetapi bila dilihat dari sudut tindakan itu adalah kemenangan Tuhan maka apokaliptik memberikan pesan yang positif.

Dukung pelayanan literasi Yayasan Simpul Berkat | E-mail: simpulberkat@gamil.com |
Bank BCA – No. Rekening: 0953882377 – a.n. Philip H. S
Categories:

Leave a Comment