Posted on: 24 April 2020 Posted by: admin Comments: 0

ORA et LABORA

Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya. TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.” Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Mengapakah engkau berseru-seru demikian kepada-Ku? Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka berangkat. Dan engkau, angkatlah tongkatmu dan ulurkanlah tanganmu ke atas laut dan belahlah airnya, sehingga orang Israel akan berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering. Tetapi sungguh Aku akan mengeraskan hati orang Mesir, sehingga mereka menyusul orang Israel, dan terhadap Firaun dan seluruh pasukannya, keretanya dan orangnya yang berkuda, Aku akan menyatakan kemuliaan-Ku. Maka orang Mesir akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, apabila Aku memperlihatkan kemuliaan-Ku terhadap Firaun, keretanya dan orangnya yang berkuda.” — Keluaran 14:13-18

Apakah semua seru doa sungguh ditujukan kepada Tuhan dan keluar dari iman yang mengakar dalam relasi yang benar dengan Tuhan? Ternyata tidak. Dalam kondisi terjepit. dengan menyadari kenyataan yang secara kasat mata dan akal sehat tidak berpengharapan, Israel berseru-seru kepada Tuhan dalam keadaan panik, bukan iman. Makin nyata ketiadaan iman mereka itu dari lampiasan kekesalan bahkan kemarahan besar mereka kepada Musa. Mereka menuduh Musa memimpin mereka untuk dibunuh pasukan Firaun di posisi terjepit itu. Lalu bagaimana reaksi Musa? Dan, bagaimana respons Tuhan sendiri?

Reaksi Musa memperlihatkan kualitas relasinya dengan Tuhan Allah dan karakter serta kepemimpinannya. Musa tidak bereaksi negatif terhadap kepanikan dan ketiadaan iman Israel. Musa bicara dengan sabar dan lemah lembut. Meredakan kepanikan dan ketakutan mereka. Musa mengingatkan mereka untuk teguh dalam posisi sebagai umat yang telah bertubi-tubi mengalami kuat kuasa kasih penyelamatan TUHAN Allah — “berdirilah tetap!” Dan, terlebih penting Musa mendesak mereka untuk memiliki iman aktif — “lihatlah” — yaitu lihat “keselamatan dari TUHAN,” yang akan mereka alami, dan: lihat juga pelenyapan pasukan Mesir yang mengejar mereka itu untuk selama-lamanya. Israel hanya melihat sikon kasat mata dan perhitungan akal sehat terbatas dan temporer, Musa menggali lebih dalam dan melihat lebih tajam ke panggilan, janji, karya Allah di masa lampau, dan kenyataan penyertaan kehadiran Allah di kekinian. Dua penglihatan, dua jenis pertimbangan, dua macam perspektif ini — yang manakah yang kita tumbuh-kembangkan dalam sikap dan doa kita mengarungi angin dan gelombang dunia nyata?

Sampai di situ benar semua ucapan dan sikap Musa. Namun, kelanjutan ucapan Musa mendapatkan teguran atau dorongan beda dari Tuhan. Memiliki perspektif rohani yang benar, beriman dan berdoa tidak berhenti sampai di situ. Kelanjutan dari perspektif iman dan doa dalam relasi yang benar dengan Tuhan adalah bertindak, berbuat, berjalan maju mengikuti panggilan, janji, perintah dan pimpinan nyata Tuhan. Ucapan Musa sebelumnya sangat sering kita dengar: “Berdiam diri dan lihat saja,” tetapi, tanpa melangkah, bertindak, berbuat serasi dengan iman pada janji, penyertaan dan perintah Tuhan, kita tidak akan mengalami kemajuan berlanjut dalam proses penyelamatan yang Tuhan anugerahkan. Doa yang benar adalah yang melahirkan Kerja yang giat; Giat Kerja yang benar adalah yang lahir dari Doa-doa Iman — Ora et Labora!

 

Mari memberkati sesama melalui pelayanan literasi Yay. Simpul Berkat. Kirim dukungan Anda ke: BCA 0953882377

Categories:

Leave a Comment