Posted on: 2 Maret 2020 Posted by: admin Comments: 0

Mengikuti Kemauan Tuhan

Keluaran 4:18-23:
Lalu Musa kembali kepada mertuanya Yitro serta berkata kepadanya: “Izinkanlah kiranya aku kembali kepada saudara-saudaraku, yang ada di Mesir, untuk melihat apakah mereka masih hidup.” Yitro berkata kepada Musa: “Pergilah dengan selamat.”  — Akhirnya Musa taat. Ia langsung pergi meminta izin kepada mertuanya. Meski pergi untuk kemauan ilahi, ia sadar akan kebaikan Yitro yang sejak semula telah menyambut, memberi tumpangan, menjadikannya menantu dan memberi sumber nafkah. Tindakan Musa ini menunjukkan sikap hamba yang tahu menghargai budi orang lain. Namun ia tidak memberitahu bahwa ia pergi dengan mengemban tugas apa yang dimaui Allah, yaitu pembebasan Israel. Hamba Tuhan yang mendapatkan visi-misi besar dari Allah tidak serta merta menyebar-luaskan apa yang ia dapat dari TUHAN kepada orang banyak. Musa di sini adalah hamba Allah yang membayangkan Yesus sang Hamba Allah sejati. Siapa diri-Nya, apa dan bagaimana visi-misi ilahi-Nya akan harus Ia genapkan, butuh bertahun-tahun untuk Yesus membagikan sampai dapat diterima oleh para murid-Nya. Seperti Nehemia ketika berbagi beban kepada raja, Musa hanya memberitahu bahwa ia ingin berjumpa sanak saudaranya di Mesir. Tidak lebih dari itu. Terlalu pagi berbagi visi-misi-strategi panggilan Tuhan, bisa berakibat penolakan atau penerimaan yang mentah dari orang lain.
Adapun TUHAN sudah berfirman kepada Musa di Midian: “Kembalilah ke Mesir, sebab semua orang yang ingin mencabut nyawamu telah mati.” Kemudian Musa mengajak isteri dan anak-anaknya lelaki, lalu menaikkan mereka ke atas keledai dan ia kembali ke tanah Mesir; dan tongkat Allah itu dipegangnya di tangannya. — Dengan bulat hati dan tekad penuh Musa pergi. Ia membawa istri dan anaknya sebab ia pergi untuk menjalani fase kehidupan baru dari Allah untuknya. Maka istri dan anaknya diikutsertakan. Tidak disebutkan bahwa ia membawa banyak harta, bekal. Hanya tongkat gembala yang menjadi instrumen untuk banyak tanda mukjizat dari Allah diwujudkan yang ia bawa. — Apakah hal yang kita perlakukan sebagai yang paling utama dalam kita menjalani hidup ini dan menggenapi panggilan TUHAN untuk kita?
Firman TUHAN kepada Musa: “Pada waktu engkau hendak kembali ini ke Mesir, ingatlah, supaya segala mujizat yang telah Kuserahkan ke dalam tanganmu, kauperbuat di depan Firaun. Tetapi Aku akan mengeraskan hatinya, sehingga ia tidak membiarkan bangsa itu pergi. — Ketika pergi itu apakah Musa membayangkan akan terjadinya perkara-perkara besar tiada duanya dalam sejarah yang akan terjadi dan ia alami dan ia lakukan? Apakah TUHAN memberitahu kepadanya semua yang akan Ia lakukan melalui Musa kelak? — Sepuluh tulah, peluputan semua sulung Israel dari maut yang melumpuhkan Mesir. laut terbelah dan Israel menyeberang dengan selamat sementara pasukan Firaun tenggelam dengan laut menutup kembali, suplai manna dan burung dari TUHAN, pakaian dan kasut tidak rusak meski sudah 40 tahun dipakai, penampakan TUHAN dan pemberian Dasa Titah, pembuatan kemah sembahyang, pengutusan dua belas mata-mata? Semua ini bukan sekaligus dilihat oleh Musa-dibentangkan oleh TUHAN kepadanya, melainkan proses secara progresif. Ketika kita menerima visi-misi awal dari TUHAN, dapatkah kita menghargai itu sebagai benih yang akan tumbuh menjadi pohon besar-tindang-produktif, atau seperti setetes air yang menjadi bagian dari hujan berkat melimpah, mata air menganak-sungai menuju samudera raya?
Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah firman TUHAN: Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung; sebab itu Aku berfirman kepadamu: Biarkanlah anak-Ku itu pergi, supaya ia beribadah kepada-Ku; tetapi jika engkau menolak membiarkannya pergi, maka Aku akan membunuh anakmu, anakmu yang sulung.”  — Menarik bahwa kepada calon umat yang belum lagi bebas dari perbudakan dan masih jauh dari memiliki tanah melimpah susu dan madu dan juga belum ada pengaturan tata cara ibadah ini, TUHAN dua kali memerintahkan Musa memakai sebutan “anak-Ku,” “anak sulung.” Ungkapan ini relevan bagi Firaun yang kepadanya ungkapan itu diperdengarkan, sebab Firaun dianggap anak dewa matahari — Ra. Maka selain menegaskan perbedaan YHWH dari Ra, juga menyatakan kasih sayang YHWH yang khusus ditujukan kepada umat yang diperbudak oleh bangsa yang menyembah berbagai dewa dan yang rajanya adalah anak dewa matahari. Dalam Perjanjian Baru ini menjadi sangat jelas. TUHAN Allah memiliki Anak Tunggal yaitu Yesus Kristus yang melalui inkarnasi dan karya penyelamatan dalam kematian-kebangkitan-Nya menjadi Anak Sulung sebab telah memungkinkan semua yang percaya kepada-Nya menjadi anak-anak angkat TUHAN Allah — “adik-adik” Yesus Kristus.
Mari memberkati sesama melalui pelayanan literasi Yay. Simpul Berkat. Kirim dukungan Anda ke: BCA 0953882377
Categories:

Leave a Comment