Posted on: 14 November 2020 Posted by: admin Comments: 0

Media Sepanjang Peradaban

Kini kita beralih ke progres media manusia dalam peradaban. Kita mulai dengan pertanyaan penting: Apa dari diri manusia yang membedakannya dari binatang? Pertama: Bahasa! Kedua: Pembuatan Alat! Kemampuan ber-bahasa pada manusia sudah sejak awal ditanamkan Allah dalam diri manusia. Lalu pembuatan media dalam bentuk alat menyusul. Keduanya dicatat di riwayat awal Penciptaan dan Kejatuhan.

Perhatikanlah narasi penciptaan manusia di Kejadian 1 dan 2. Allah memulai keberadaan manusia dari saling Bicara di antara Pribadi-pribadi Ke-Allah-an-Nya, bertindak mengambil bahan alami, membentuknya, menghembus dengan energi hidup-Nya. Berikutnya Allah kembali Bicara. Tetapi kini bukan lagi Bicara antar Pribadi-pribadi Tritunggal tetapi Ia bicara kepada Media sekunder-Nya – gambar dan rupa-Nya, rekan bicara-Nya dan rekan karya-Nya. Dalam bicara itu Allah menjelaskan potensi dan panggilan manusia untuk menjadi media Allah dalam hubungan spiritual, sosial, dan natural. Allah bicara kepada pihak yang adalah media sekunder diri-Nya yang di dalamya tertanam kapasitas atau potensi untuk mendengar, mencerap dan merespons. Dan itu diwujudkan oleh manusia pertama dengan mendengar Bicara Allah. Sesudah itu manusia bicara memberi nama kepada para binatang di hadirat Allah, dan puncaknya bicara manusia dalam ungkapan kasih perdana antara lelaki dan perempuan: “Inilah tulang dari tulangku, daging dari dagingku.” Menarik bahwa kata yang dipakai untuk Allah berfirman juga dipakai untuk Adam berfirman kepada Hawa dalam syair cinta perdana manusia. Dan kata untuk Allah menamai / menyebut setiap hasil dari tindakan penciptaan-Nya dipakai juga untuk Adam menamai / menyebut binatang-binatang. Tersirat di sini bahwa manusia benar-benar adalah media Allah dan kemediaan manusia itu dinyatakan dalam mendengar Allah – vertikal / spiritual, bicara kepada sesama – sosial, dan bicara menamai binatang – mandat budaya. Allah Bicara dan menamai, media sekunder-Nya juga bicara dan menamai.

Sayangnya, semua potensi harmonis dengan Ia yang Bicara, pembentuk kemampuan bicara manusia itu, menjadi rusak karena manusia menerima bicara dari pihak yang memelintir Bicara Allah. Begitu jatuh Adam membuat media pertama – alat – yaitu cawat dedaunan ara untuk dirinya dan istrinya untuk menutupi aib akibat perginya kemuliaan yang membungkus mereka sebelumnya. (Di sini saya menafsir bahwa sebelum Kejatuhan mereka telanjang terbuka radikal dalam kemuliaan, sesudah Kejatuhan kemuliaan itu meninggalkan mereka mengubah keterbukaan dalam dosa menjadi rasa aib dan salah). Lalu bicara pertama Adam adalah menyalahkan Allah (“perempuan yang Kau tempatkan di sisiku…”) sekaligus melempar tuduhan kepada tulang dari tulangnya daging dari dagingnya (“dialah yang memberi kepadaku lalu kumakan”). Lalu berikutnya pasangan hidup Adam melempar tanggungjawab kepada ular. Ini adalah seluruh bicara pertama manusia pascaKejatuhan, seluruhnya disorientasi, disfungsi, distorsi. Ajaibnya, Allah tidak membiarkan rencana kekal-Nya gagal berantakan. Ia membuatkan karya budaya ilahi penyelamat keaiban manusia – cawat dari kulit binatang, media alat penutup aib dan salah manusia yang dihasilkan dari pengorbanan dan penumpahan darah. Cawat binatang itu bersama dengan janji awal tentang benih perempuan menjadi penunjuk kepada Media-tor yaitu Yesus Kristus. Kemudian Allah mengucapkan lagi Bicara dengan dua sisi – firman-firman penghukuman dan kutuk kepada masing-masing dari semua pihak dalam peristiwa Kejatuhan itu, dan firman janji bahwa akan lahir benih perempuan yang akan meremukkan biang dari segala kekerokan dalam ciptaan-Nya, yaitu si pendusta, pemutarbalik bicara, iblis.

Selanjutnya dalam catatan tentang pembuatan media-media sekunder – alat-alat perpanjangan diri manusia – kita lihat perkembangan peradaban pembuatan alat dirintis oleh generasi manusia yang berontak melawan Allah. Kemungkinan masih di zaman batu, Kain menggunakan batu menghantam dan membunuh adiknya, Habil. Lalu dengan cepat berkembang teknologi awal – mendirikan kota, dan pertukangan logam. Di sini kita bertemu dengan rangkaian perkembangan media dalam peradaban yang berlangsung dalam generasi yang berontak melawan Allah yang memuncak pada pendirian menara Babil. (Mengingat pendahuluan Kejadian 11 mengatakan bahwa sebelum menara Babil bahasa manusia hanya satu, sedang dalam catatan generasi anak-anak Nuh dikatakan masing-masing keturunan dengan tanah, bahasa dan kerajaannya sendiri, maka peristiwa Babil terjadi dan dilakukan di antara generasi kawin campur manusia Allah dan manusia bumi di pasal 6 dan air bah).

Namun di dalam generasi manusia yang diperkenan Allah pun berkembang peradaban pengembangan media-media. Catatan paling awal tentang teknologi di antara generasi yang diperkenan Allah adalah Nuh yang membangun bahtera penyelamat dari air bah murka Allah. Sayangnya segera sesudah itu teknologi fermentasi disalahgunakan oleh Nuh membuatnya mabuk. Generasi manusia dari ketiga anak Nuh juga menghasilkan peradaban antara lain yang dicatat adalah berburu dan yang terkait dengan penegakan kekuasaan dan pembentukan kerajaan (Kejadian 9). Penting untuk kita simak petunjuk dalam catatan Alkitab selanjutnya bahwa di dalam peradaban generasi yang diperkenan Tuhan sering terjadi paradoks. Musa yang sudah melalui proses pelucutan kepiawaian budaya di Mesir justru dipakai Tuhan untuk memimpin, tongkat Musa menjadi media manifestasi kelimpahan kuasa Allah, tiupan zofar dan sorak sesudah mengitari tembok Yerikho di hari ketujuh itu menjadi alat Allah meruntuhkan tembok tersebut, lima batu menjadi media perang Daud untuk mengalahkan Goliat raksasa yang bersenjata lengkap, air sungai Yordan yang dangkal dan keruh menjadi media medis penyembuhan Allah untuk Jenderal Naaman, dst. Dan puncaknya, sang Media Allah sejati yang menjadi media sekunder sejati – Yesus Kristus – berulangkali mewujudkan berbagai perkara ajaib hanya dengan media-media bersahaja. Air untuk basuhan kaki diubah-Nya menjadi air anggur terbaik di pesta di Kana, lima roti dan dua ikan hanya dengan ucapan / Bicara syukur Ia berkati sampai mencukupi dengan berlebihan kebutuhan makan 5,000 orang lebih. Dari contoh-contoh terakhir ini kita simpulkan bahwa di dalam media-media sederhana justru kemediaan manusia dan kesanggupannya untuk me-media-si presensi dan aksi-aksi Allah beroperasi dengan kekuatan penuh pesona.

Maka dalam perspektif alkitabiah tentang peradaban manusia kita melihat rangkaian Bicara Allah, bicara manusia, bicara iblis; media asali dari Allah, media upaya manusia untuk menutupi kecemaran dosa, media dari Allah penyiap pemulihan manusia. Dengan mempercepat kilas wawasan alkitabiah tentang kedua hal ini, kita bersyukur bahwa itu berlanjut dengan anugerah Allah mengerjakan pemeliharaan (anugerah umum), pembaruan dan pemulihan (anugerah khusus) pada keduanya. Berulang kali dan dalam beragam cara Allah Bicara sampai datang Sang Bicara yang pada puncaknya (telos) nanti menghasilkan generasi yang bahasa dan bicaranya sepenuhnya serasi dan sarat dengan pujian sembah kepada Allah Pencipta dan Penebus (Wahyu 4, 5). Demikian juga dengan pembuatan dan penggunaan media alat yang di samping terjadi konflik antara sejati dan palsu, benar dan salah, karya anugerah umum Allah tetap hadir dan pemberdayaan serta pemeliharaan Roh tetap bekerja. Dan di puncaknya nanti, di pewujudan langit baru dan bumi baru, Yesaya 60 dan Wahyu 20-21 membentangkan visi tentang prosesi beragam media dari kebudayaan manusia – kapal Tarsis, alat logam emas, perak, tembaga, dan banyak lagi manifestasi media budaya yang telah melalui proses pemurnian dilayakkan menjadi persembahan yang memuliakan Allah.

Beberapa poin prinsipil dapat kita tarik dari pembahasan di atas:

1) Bahasa, bicara dan pembuatan media alat adalah manifestasi dari ke-media-an manusia sebagai gambar rupa Allah.

2) Baik bahasa, bicara maupun media alat perlu serasi dengan sumbernya yaitu Allah, sifat, rencana, cara kerja dan maksud-maksud-Nya.

3) Kejatuhan membuat bahasa, bicara dan kapasitas membuat serta menggunakan media alat manusia tercemar dosa. Baik manusia maupun media yang dihasilkan dan digunakannya selalu butuh untuk diserasikan, dimurnikan, di-re-orientasi ulang, difungsikan ulang sesuai gelombangnya Allah.

4) Bersyukur baik untuk anugerah umum dalam manusia dan alam terlebih untuk anugerah khusus dalam Yesus Kristus. Kedua kebenaran teologis ini boleh menjadi prinsip untuk sikap positif namun kritis dalam manifestasi manusia ber-bahasa / bicara maupun dalam manifestasi manusia menghasilkan dan memakai media-media alat.

5) Orang percaya jangan terlalu terpukau dan mengandalkan berbagai media alat yang dicipta dalam peradaban manusia baik primitif, modern maupun pascamodern. Karena, Alkitab menyingkapkan paradoks ajaib bahwa kemuliaan Allah dan keber-daya-an manusia sering lebih nyata dan kuat dalam media yang bersahaja. Mengatakan ini tidak berarti kita harus memutar balik jarum jam zaman. Semua prinsip di atas harus menjadi filter dalam kita berbahasa / bicara, mencipta dan menggunakan media apa pun.

6) Dalam perkembangan kebudayaan kita menyaksikan gerak sebagai berikut: dari era manusia sendiri sebagai media lebih terlibat penuh dan media alat masih lebih sedikit (primitif), ke era ketika penciptaan media makin canggih namun keterlibatan manusianya justru makin berkurang (era modern), ke era ketika keterlibatan manusia dan pengaruh media sama-sama kuat (era pascamodern yang mengandung ciri kesamaan dengan era primitif). Hal ini nanti akan kita kaji lebih detail di analisis berbagai sifat media dan dampaknya. Sebelum itu ada baiknya kita tinjau dulu bagaimana seharusnya bermedia dari perspektif Bahasa dan Bicara.

7) Hal lain yang cenderung dilupakan dalam percakapan tentang media baik bahasa / bicara maupun media alat ialah Roh / roh apa yang bekerja di dalamnya dan bagaimana operasi Roh / roh tersebut.

Categories:

Leave a Comment