Posted on: 7 Mei 2020 Posted by: admin Comments: 0

Masa dan Meriba

Kemudian berangkatlah segenap jemaah Israel dari padang gurun Sin, berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, sesuai dengan titah TUHAN, lalu berkemahlah mereka di Rafidim, tetapi di sana tidak ada air untuk diminum bangsa itu. Jadi mulailah mereka itu bertengkar dengan Musa, kata mereka: “Berikanlah air kepada kami, supaya kami dapat minum.” Tetapi Musa berkata kepada mereka: “Mengapakah kamu bertengkar dengan aku? Mengapakah kamu mencobai TUHAN?” Hauslah bangsa itu akan air di sana; bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata: “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?” Lalu berseru-serulah Musa kepada TUHAN, katanya: “Apakah yang akan kulakukan kepada bangsa ini? Sebentar lagi mereka akan melempari aku dengan batu!” Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Berjalanlah di depan bangsa itu dan bawalah beserta engkau beberapa orang dari antara para tua-tua Israel; bawalah juga di tanganmu tongkatmu yang kaupakai memukul sungai Nil dan pergilah. Maka Aku akan berdiri di sana di depanmu di atas gunung batu di Horeb; haruslah kaupukul gunung batu itu dan dari dalamnya akan keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum.” Demikianlah diperbuat Musa di depan mata tua-tua Israel. Dinamailah tempat itu Masa dan Meriba, oleh karena orang Israel telah bertengkar dan oleh karena mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan: “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?”  — Keluaran 17:1-7
Janganlah keraskan hatimu seperti di Meriba, seperti pada hari di Masa di padang gurun, — Mazmur 95:8
Mereka menggusarkan Dia dekat air Meriba, sehingga Musa kena celaka karena mereka; — Mazmur 106:32
Nas ini mulai dengan ringkasan “mereka berjalan sesuai dengan titah Tuhan,” Nyatanya mengikuti titah Tuhan tidak selalu berarti mudah dan nyaman, Di Refidim mereka tidak mendapatkan air lalu mereka mulai bersungut-sungut dan menyalahkan Musa lagi. Kembali sikap tidak bersyukur dari akar sifat tidak percaya tampil dalam sungutan umat Israel.
Musa pemimpin luar biasa. Dengar-dengaran suara Tuhan, sabar dan lembut terhadap umat yang degil. Ia menegur umat yang telah secara kurang ajar “bertengkar” melawan dia, dan menegur lebih dalam bahwa mereka “telah mencobai” Tuhan. Musa tidak saja mengurus masalah di tataran manusia. Ia juga tahu bahwa hanya datang kepada Tuhan, membukakan masalah kepada-Nya dan jujur akan situasinya yang terancam “sebentar lagi mereka akan melempari aku dengan batu,” adalah prinsiip kepemimpinan yang terpenting yang harus ia lakukan, terutama sebagai pemimpin rohani.
Tuhan kemudian bertindak demikian: 1) Mengingatkan Musa untuk menggunakan tongkat yang menjadi tanda panggilan dan karunia kepemimpinan yang Tuhan percayakan kepadanya. Ia harus memukul gunung batu di Horeb supaya air dari Tuhan memancar, 2) ia harus membawa beberapa tua-tua Israel untuk menyaksikan tindakan kepemimpinan dan karunia air dari Tuhan, dan 3) mukjizat air di Horeb itu terjadi dengan Tuhan berdiri di hadapan Musa. Pribadi berdiri berhadap-hadapan pribadi lain menyiratkan kedekatan dan kesetaraan. Maka Tuhan di sini merendahkan diri-Nya ke tingkatan Musa bukan saja untuk memimpin dan menguatkan Musa, tetapi juga untuk menyatakan perkenan-Nya atas Musa di hadapan para tua-tua Israel. Hal itu tentu supaya diceritakan kepada semua mereka yang sebelumnya telah bertengkar melawan Musa.
Tempat itu disebut “melawan dan mencobai” — Masa dan Meriba. Kehausan jasmani dan kehausan rohani seringkali menjadi pendorong kuat untuk orang mencari kepuasan yang salah atau bersungut-sungut dan mencobai Tuhan. Syukur bahwa kita tidak perlu terus hidup dengan hati yang tidak percaya dan mulut yang selalu loncer bersungut-sungut jika kita telah minum dari Air Hidup yang terpancar dari dalam sang Batu Karang Kehidupan, Yesus Kristus.
Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal. — Yohanes 4:14 (juga Yohanes 7:38)

Mari memberkati sesama melalui pelayanan literasi Yay. Simpul Berkat. Kirim dukungan Anda ke: BCA 0953882377

Categories:

Leave a Comment