Posted on: 14 Mei 2020 Posted by: admin Comments: 0

Komunikasi Berujung Komuni

Lalu keluarlah Musa menyongsong mertuanya itu, sujudlah ia kepadanya dan menciumnya; mereka menanyakan keselamatan masing-masing, lalu masuk ke dalam kemah. Sesudah itu Musa menceritakan kepada mertuanya segala yang dilakukan TUHAN kepada Firaun dan kepada orang Mesir karena Israel dan segala kesusahan yang mereka alami di jalan dan bagaimana TUHAN menyelamatkan mereka. Bersukacitalah Yitro tentang segala kebaikan, yang dilakukan TUHAN kepada orang Israel, bahwa Ia telah menyelamatkan mereka dari tangan orang Mesir. Lalu kata Yitro: “Terpujilah TUHAN, yang telah menyelamatkan kamu dari tangan orang Mesir dan dari tangan Firaun. Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN lebih besar dari segala allah; sebab Ia telah menyelamatkan bangsa ini dari tangan orang Mesir, karena memang orang-orang ini telah bertindak angkuh terhadap mereka.” Dan Yitro, mertua Musa, mempersembahkan korban bakaran dan beberapa korban sembelihan bagi Allah; lalu Harun dan semua tua-tua Israel datang untuk makan bersama-sama dengan mertua Musa di hadapan Allah. — Keluatan 18:7-12
Baik sekali jika kita menjadikan unsur-unsur dalam komuni Musa dan Yitro ini menjadi semacam kerangka acuan untuk persekutuan, komunikasi, relasi kita juga sebagai umat Tuhan baik dalam keluarga hubungan darah maupun dalam keluarga karena darah Yesus Kristus.
1. Yitro mencari Musa menyambut. Tepat disimpulkan bahwa di dalam tindakan cari-sambut-peluk-sujud ini tersirat kerinduan, keakraban dan penghormatan seorang kepada yang lain. Kiranya kehangatan dan kasih riil seperti itu juga berkobar dalam hubungan-hubungan iman kita.
2. Saling bertanya “shalom” masing-masing. Shalom adalah kondisi sejahtera lahir dan batin, menghidupi dan mengalami keberadaan dan kepribadian yang utuh, serasi, mencakup berbagai segi kehidupan secara menyeluruh, Kita biasa mengucapkan “shalom” sebagai basa-basi rohani. Sejatinya bukan demikian. Ini adalah kata yang sarat makna yang merupakan ungkapan kehendak Allah agar kehidupan kita bertumbuh sehat secara komprehensif dan holistik. Kiranya dalam komunikasi kita sarat pemaknaan dan tidak hanya berkisar di kata-kata klise dan mereduksi apalagi menyimpangkan kata-kata yang seharusnya penuh makna.
3. Berbagi kisah perbuatan Allah. Musa kemudian menceritakan semua pengalaman dahsyat kepemimpinan ilahi yang telah membebaskan, memimpin, menyertai, memelihara dan memberi kemenangan kepada Israel. Fase ini cenderung luput dalam percakapan yang hanya berkisar di hal-hal lahiriah semata. Percakapan yang berarti memang harus melewati dulu fase penghangatan yaitu bicara hal-hal keseharian dan sedikit basa-basi. Tetapi itu harus berkembang menjadi percakapan yang lebih mendalam. Hal yang paling dalam sesudah klise, keseharian, hal-hal lahiriah adalah hal-hal pikiran, perasaan, pengalaman yang berasal dari Tuhan.
4. Berbagi sukacita, mengucapkan pengakuan dan menyembah TUHAN,. Merespons semua kesaksian Musa tentang perbuatan besar Allah, Yitro yang adalah imam di Midian bersukacita, mengucapkan pengakuan bahwa YHWH adalah Allah atas segala allah, Allah sesungguhnya, sejatinya. Juga ia mendukung tindakan Tuhan terhadap bangsa-bangsa yang jahat dan angkuh tersebut. Yitro lalu mempersembahkan korban bakaran dan korban persembahan lainnya.
5. Makan Bersama di hadapan TUHAN. Makan bersama dalam tradisi alkitabiah bukan sekadar untuk memuaskan kebutuhan jasmani. Makan bersama mencakup banyak aspek spiritual dan teologis bermakna. Dalam perumpamaan Yesus tentang Bapa yang kehilangan dua anak, makan bersama adalah ungkapan pengampunan, penerimaan, pemulihan-pembaruan-penyegaran hubungan. Ada makna yang lengkap mendalam di dalam perjamuan makan bersama. Lebih lagi, perhatikan ungkapan penting dan menarik ini: makan bersama di hadapan Tuhan. “Berikanlah kami hari ini makanan kami yang berkelanjutan…” ini terwujud dalam makan bersama (kami) yang dirayakan dalam rangkyaian permohonan sebelumnya — “dikuduskanlah Nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu,” dan selanjutnya– “ampunilah kami atas segala kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami, dan janganlah bawa kami ke dalam pencobaan melainkan lepaskanlah kami dari yang jahat…” Makan bersama adalah makan, bersekutu, diperbarui kekuatan dan keintiman satu sama lain, di dalam dan oleh karena Tuhan perjamuan itu sendiri.
Ya Tuhan, tolonglah kami memiliki pola informasi-komunikasi-relasi seperti ini: mencari-menyambut, salng mengusahakan shalom, berbagi kisah perbuatan besar Allah, berbagi sukacita, mengakui dan menyembah Tuhan, dan mengalami perjamuan kasih-ilahi di hadapan-Mu. Karena Engkaulah yang empunya kerajaan, kuasa dan kemuliaan di sini dan kini selamanya, Amin.

Mari memberkati sesama melalui pelayanan literasi Yay. Simpul Berkat. Kirim dukungan/persembahan kasih Anda ke: BCA 0953882377

Categories:

Leave a Comment