Posted on: 30 April 2020 Posted by: admin Comments: 0

Dari Mara ke Elim

Musa menyuruh orang Israel berangkat dari Laut Teberau, lalu mereka pergi ke padang gurun Syur; tiga hari lamanya mereka berjalan di padang gurun itu dengan tidak mendapat air. Sampailah mereka ke Mara, tetapi mereka tidak dapat meminum air yang di Mara itu, karena pahit rasanya. Itulah sebabnya dinamai orang tempat itu Mara. Lalu bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa, kata mereka: “Apakah yang akan kami minum?” Musa berseru-seru kepada TUHAN, dan TUHAN menunjukkan kepadanya sepotong kayu; Musa melemparkan kayu itu ke dalam air; lalu air itu menjadi manis. Di sanalah diberikan TUHAN ketetapan-ketetapan dan peraturan-peraturan kepada mereka dan di sanalah TUHAN mencoba mereka, firman-Nya: “Jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan apa yang benar di mata-Nya, dan memasang telingamu kepada perintah-perintah-Nya dan tetap mengikuti segala ketetapan-Nya, maka Aku tidak akan menimpakan kepadamu penyakit manapun, yang telah Kutimpakan kepada orang Mesir; sebab Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau.” Sesudah itu sampailah mereka di Elim; di sana ada dua belas mata air dan tujuh puluh pohon korma, lalu berkemahlah mereka di sana di tepi air itu. — Keluaran 15:22-27
Musa memimpin — tentunya karena mengikuti gerak tiang awan-api TUHAN — umat Israel menuju ke padang gurun Shur, bagian dari padang gurun Arabia. Pimpinan Tuhan sebagaimana yang sebelum ini memimpin mereka berputar dari Etam menuju tepi Laut Merah di arah tenggara, ternyata bukan pimpinan ke sikon aman dan nyaman. Kini pimpinan itu membawa mereka berjalan selama tiga hari tanpa ada lagi cadangan air dan tanpa menemukan sumber air yang dapat diminum. Dan, seperti ktra Martin Luther, “ketika sumber-sumber kita merosot, merosot jugalah iman.” Demikianlah natur manusia berdosa, kendati mereka telah berulang-ulang kali mengalami campur tangan dan karya ajaib Tuhan, tetap saja keluar lagi keluh kesah dan sungutan. {adahal baru tiga hari sebelumnya mereka menaikkan puji sembah kepada TUHAN Allah atas banyak kisah ajaib-Nya. Seolah  semua nada indah dan kata-kata pujian hebat itu hilang bobotnya begitu mereka mengalami kekeringan.
Memang secara manusiawi dapat dimengerti betapa beratnya penderitaan kehausan itu, apalagi bila itu dialami bukan oleh seorang atau sekeluarga tetapi oleh 12 suku Israel total 2,000,000 jiwa. Tetapi termyata Tuhan berencana memperlihatkan lagi bukan saja kuasa ajaib-Nya tetapi juga manis cinta kasih-Nya kepada umat tebusan-Nya ini. Mereka menemukan Mara tetapi air di sana pahit, tidak dapat diminum. Musa sang pemimpin, berseru-seru kepada sang Penebus-Pemimpin Agung, dan Tuhan menunjukkan kepadanya sebatang kayu — mungkin dahan pohon — untuk dilemparkan ke air pahit Mara itu. Lalu air pahit tak dapat diminum itu itu berubah menjadi air manis yang dapat diminum untuk menyegarkan, memulihkan tenaga bahkan menyeharkan mereka kembali. Beberapa arkeolog dan teolog berpendapat bahwa air Mara itu pahit karena banyaj mengandung berbagai mineral yag sebagian diserap oleh dahan kayu itu sehingga tersisa air mineral menyehatkan. Air itu berfungsi semacam detoksifikasi membersihkan system pencernaan Israel dari kebiasaan makan buruk mereka di Mesir.
Pengalaman Mara ini oleh Tuhan dijadikan pelajaran untuk disimak dan ditaati yaitu dengan tidak mengikuti pola makan dan pola hidup orang Mesir maka umat Tuhan akan diluputkan dari penyakit-penyakit yang biasa dialami oleh bangsa-bangsa lain. Kemudian hari dalam berbagai aturan tentang makanan, pembasuhan, isolasi / karantina orang yang mengidap penyakit menular, dlsb. kita temukan kehendak TUHAN bagi umat-Nya agar hidup beda yang sehat, tahir, kudus dalam lingkuo pemeliharaan, pengaturan dan berkat-berkat Tuhan.
Sesudah pelajaran Mara, Tuhan membawa mereka ke Elim. Di sana tersedia satu sumber air untuk tiap suku Israel — total 12 sumber, dan 70 pohon kurma — kemungkinan besar melambangkan kesempurnaan suplai Tuhan untuk kebutuhan fisik mereka,
Tuhan memimpin umat-Nya ke sikon sulit bukan untuk menyengsarakan tetapi untuk mendidik, memurnikan, membentuk dari masa lalu yang tidak sehat untuk masa depan yang baik.
Mari memberkati sesama melalui pelayanan literasi Yay. Simpul Berkat. Kirim dukungan Anda ke: BCA 0953882377
Categories:

Leave a Comment