Posted on: 1 Agustus 2020 Posted by: admin Comments: 0

Daniel 6:23-29

Lalu sangat sukacitalah raja dan ia memberi perintah, supaya Daniel ditarik dari dalam gua itu. Maka ditariklah Daniel dari dalam gua itu, dan tidak terdapat luka apa-apa padanya, karena ia percaya kepada Allahnya. Raja memberi perintah, lalu diambillah orang-orang yang telah menuduh Daniel dan mereka dilemparkan ke dalam gua singa, baik mereka maupun anak-anak dan isteri-isteri mereka. Belum lagi mereka sampai ke dasar gua itu, singa-singa itu telah menerkam mereka, bahkan meremukkan tulang-tulang mereka. Kemudian raja Darius mengirim surat kepada orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa, yang mendiami seluruh bumi, bunyinya: “Bertambah-tambahlah kiranya kesejahteraanmu! Bersama ini kuberikan perintah, bahwa di seluruh kerajaan yang kukuasai orang harus takut dan gentar kepada Allahnya Daniel, sebab Dialah Allah yang hidup, yang kekal untuk selama-lamanya; pemerintahan-Nya tidak akan binasa dan kekuasaan-Nya tidak akan berakhir. Dia melepaskan dan menolong, dan mengadakan tanda dan mujizat di langit dan di bumi, Dia yang telah melepaskan Daniel dari cengkaman singa-singa.” Dan Daniel ini mempunyai kedudukan tinggi pada zaman pemerintahan Darius dan pada zaman pemerintahan Koresh, orang Persia itu.

Terjemahan harfiah dari sikap raja Darius adalah “besar sukacita”-nya – dalam kebanyakan terjemahan bahasa Inggris dipakai ungkapan “exceedingly glad”, atau terjemahan ISH — “bukan main senang hati raja.” Ini jauh melampaui ungkapan tentang sikap dan perasaan Nebukadnezar ketika melihat tiga setiawan itu sama sekali mulus tanpa luka atau bekas bakar sedikit pun. Nebukadnezar terkejut mungkin juga heran sementara Darius amat gembira atau bersukacita besar. Ini bukan saja menunjukkan perbedaan derajat kedalaman hubungan kedua raja tersebut dengan para hamba Tuhan yang setiawan itu. Nanti kita lihat bahwa ini merupakan cara narator menyisipkan pesan untuk memasuki bagian kedua kitab Daniel.

Maka sebagaimana Nebukadnezar, demikian juga Darius mengeluarkan pengakuan tertulis yang disebarluaskan ke seluruh wilayah kekuasaannya. Namun, sebelum catatan tentang maklumat tersebut, terlebih dulu ia memerintahkan agar semua penyiasat jahat pembuatan hukum yang memerangkap dirinya sampai menindak Daniel kepercayaannya, dihukum lempar ke gua singa itu. Ternyata singa-singa itu bereaksi normal, buas dan langsung menerkam mereka begitu mereka dilempar, bahkan sampai melompat sementara mereka masih di udara dan meremukkan tulang-tulang mereka. Apabila penyiasat itu adalah dua koordinator kepala rekan Daniel ditambah mungkin beberapa dari 120 orang penguasa bawahan mereka dan semua keluarga mereka, maka jumlah mereka paling tidak ada beberapa lusin orang. Jelas di sini bahwa raja menjadi agen dari pembelaan Allah atas Daniel dan penghukuman Allah atas yang membenci Daniel. Sebab ketika terhadap Daniel Allah memerintahkan malaikat untuk menutup mulut singa, kini Ia menarik kembali para malaikat-Nya sehingga singa-singa itu leluasa melahap para pembenci itu. Maka, dalam peristiwa ini bukan saja terjadi pembelaan dan peluputan dari Tuhan Allah atas manusia milik-Nya, tetapi juga terjadi penghukuman atas para lawan dari manusia milik-Nya.

Darius dalam maklumatnya mulai dengan menyampaikan salam sejahtera, “Bertambah-tambahlah kiranya kesejahteraanmu!” Kemudian ia menyatakan perintahnya agar ibadah bukan melalui atau kepada dirinya melainkan kepada Allahnya Daniel, “Bersama ini kuberikan perintah, bahwa di seluruh kerajaan yang kukuasai orang harus takut dan gentar kepada Allahnya Daniel,” ungkapan ini jauh lebih dalam dan positif dibanding maklumat-maklumat Nebukadnezar. Dan ini pun dengan alasan teologis bersumber dari pengalaman terkininya, “sebab Dialah Allah yang hidup, yang kekal untuk selama-lamanya”; bahkan Darius mengakui bahwa “pemerintahan-Nya (Allah. Bukan pemerintahan Media-Persia) tidak akan binasa dan kekuasaan-Nya tidak akan berakhir. Dia melepaskan dan menolong, dan mengadakan tanda dan mujizat di langit dan di bumi, Dia yang telah melepaskan Daniel dari cengkaman singa-singa.” Jelas isi maklumat ini jauh lebih dalam muatan kebenarannya dibanding ketika Nebukadnezar mengeluarkan maklumat sesudah peristiwa dapur api dan Hananya, Misael, Azarya. Membandingkan respons Nebukadnezar dan Darius menyadarkan kita bahwa narator sedang menyisipkan pesan bahwa kesadaran akan kesejatian Ke-Allah-an orang Yehuda, kedaulatdan Allah, pemerintahan kekal-Nya menjadi semakin dalam dan jelas di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah itu. Jadi isu utamanya bukan sekadar soal Nebukadnezar dan Darius sudah bertobat atau belum, tetapi bahwa melalui peristiwa demi peristiwa Allah membuat para penguasa dunia sadar akan kesejatian Allah dan Kerajaan-Nya.

Mengingat pesan utama kitab Daniel adalah kedaulatan Tuhan Allah atas sejarah, dan penghiburan serta penguatan bahwa umat-Nya yang tertindas pasti akan dapat menyintas, maka kisah Darius ini bisa dilihat sebagai klimaks. Klimaks dari dua pesan itu yang tertampung di sepanjang bagian pertama Daniel, dan ini mempersiapkan kita untuk memasuki bagian kedua kitab Daniel yang penuh dengan berbagai pengalaman dan penglihatan bahkan penjelasan yang misterius, yang makin menegaskan dua pokok teologis penting itu: Allah berdaulat, umat-Nya pasti dapat melalui semua tekanan sampai masuk ke dalam Kerajaan-Nya. Dari pasal 1, ke pasal 2, ke 3 dst sampai ke 6, kita melihat makin jelas bagaimana Tuhan Allah bukan saja terlibat dalam sejarah dan panggung politik, keilmuan, pemerintahan, keseharian, Ia bahkan membuat itu semakin nyata dan semakin jelas bagi umat yang sedang dibuang dan ditindas era pembuangan. Dan dengan sendirinya, itu menjadi penguatan bahwa mereka pasti akan dapat melalui semua penderitaan tersebut apabila setia mengakui secara konkrit kepada Raja atas segala raja, Pemerintah yang kekal, Allah Tuhan yang sejati. Dengan kata lain, peristiwa demi peristiwa, plot demi plot dari pasal 1 sampai pasal 6, pokok kedaulatdan Tuhan Allah atas sejarah, keterlibatan-Nya penuh memelihara umat-Nya, dan penyintasan umat karena pertolongan-Nya menjadi makin nyata, makin kuat, makin mewujud. Dan ini mempersiapkan bagian kedua yang bicara tentang panggung sejarah lebih luas, tokoh anti Tuhan lebih buas, situasi-kondisi makin tidak menjanjikan, namun Tuhan Allah yang berdaulat akan memungkinkan umat-Nya untuk selamat sampai Kerajaan-Nya benar-benar mewujud di bumi ini.

Pelajaran untuk masa kini:

1) Tuhan yang membuang umat-Nya sebagai tindakan disiplin adalah juga Tuhan yang menyertai, memelihara, memberkati umat-Nya itu apabila anugerah-Nya yang melimpah itu direspons dengan sikap-sikap yang benar – percaya teguh, komitmen, setia, tunduk dan mengasihi.

2) Tuhan yang mengizinkan berbagai pengalaman ujian, pencobaan, tekanan, ejekan, aniaya dari pihak yang tidak mengenal Dia kepada umat milik-Nya, akan membela secara nyata. Ia memelihara, memberkati, melindungi, memberi hikmat kepada manusia-manusia-Nya sambil juga Ia menindak mereka yang tidak berpihak setimpal perbuatan, respons dan kenyataan sikap mereka.

3) Kedaulatan Allah, penyertaan-Nya untuk umat-Nya sanggup bertahan di zaman sukar dulu, menjadi penyiap dan pelajaran fondasional untuk juga umat-umat di masa-masa berikutnya bahkan sampai ke akhir-akhir zaman sebagaimana dibentangkan di beberapa penglihatan Daniel sendiri dalam enam pasal selanjutnya.

4) Meski dunia makin gelap, jahat dan menakutkan orang percaya harus menyadari tanda-tanda kehadiran Kerajaan Allah melalui Yesus Kristus di sini dan kini, turut berperan aktif “menegakkan Kerajaan Allah dibumi ini,” sambil menatap jauh ke depan ke kesempurnaan pewujudan Kerajaan Allah dalam langit baru dan bumi baru kelak. Maranatha, segeralah ya Tuhan Yesus Kristus. Amin.

Dukung pelayanan literasi Yayasan Simpul Berkat | E-mail: simpulberkat@gamil.com |
Bank BCA – No. Rekening: 0953882377 – a.n. Philip H. S
Categories:

Leave a Comment