Posted on: 25 Juli 2020 Posted by: admin Comments: 0

Daniel 5:1-12

Pengantar:

Tahun 563 Nebukadnezar dibunuh oleh Evil Marodakh, putranya yang kemudian dibunuh lagi oleh iparnya Jenderal Neriglissar di tahun 561. Jenderal ini dibunuh 4 tahun kemudian diganti putranya Labashi-marduk yang juga dibunuh 9 bulan kemudian (556). Latar peristiwa untuk pasal 5 (yang akan kita bahas nanti) adalah Nabonidus yang membunuh Labashi-marduk. Nabonidus bukan berasal dari garis dinasti Nebukadnezar tetapi menikahi putri Nebukadnezar. Ia berasal dari keturunan saudagar, semasa pemerintahannya fokus menaklukkan Arabia dan Edom yang ia taklukkan tahun 552. karena ia lebih berkonsentrasi ke urusan peluasan wilayah, pemerintahan dalam negeri praktis di tangan putranya, Belsyazar. Nabonidus karena konsentrasi pada peluasan wilayah bermarkas di Taima, yang kini termasuk wilayah Arab. Nabonidus menyerang Koresh raja Persia di Opis yang terletak sektiar 80 km utara Babilonia. Bisa jadi latar peristiwa Daniel 5 ini adalah Nabonidus sudah mengalami kekalahan sehingga Babilonia dalam posisi terancam serangan. Pada September 539 Belssazhar mengadakan pesta orgi alkohol, mungkin juga sex, dengan menodai benda-benda kudus Bait Allah karena itu adalah pesta penyembahan berhala. Malam itu juga serangan Darius raja orang Media terjadi, berakhirlah Babel besar itu. Rentang waktu pelayanan Daniel dalam 3 kasus besar ini adalah 2, 4, 60 tahun sesudah pasal 1 ketika ia berketetapan hati mengutamakan relasinya dengan YHWH.

Raja Belsyazar mengadakan perjamuan yang besar untuk para pembesarnya, seribu orang jumlahnya; dan di hadapan seribu orang itu ia minum-minum anggur. Dalam kemabukan anggur, Belsyazar menitahkan orang membawa perkakas dari emas dan perak yang telah diambil oleh Nebukadnezar, ayahnya, dari dalam Bait Suci di Yerusalem, supaya raja dan para pembesarnya, para isteri dan para gundik mereka minum dari perkakas itu. Kemudian dibawalah perkakas dari emas dan perak itu, yang diambil dari dalam Bait Suci, Rumah Allah di Yerusalem, lalu raja dan para pembesarnya, para isteri dan para gundik mereka minum dari perkakas itu; mereka minum anggur dan memuji-muji dewa-dewa dari emas dan perak, tembaga, besi, kayu dan batu. Pada waktu itu juga tampaklah jari-jari tangan manusia menulis pada kapur dinding istana raja, di depan kaki dian, dan raja melihat punggung tangan yang sedang menulis itu. Lalu raja menjadi pucat, dan pikiran-pikirannya menggelisahkan dia; sendi-sendi pangkal pahanya menjadi lemas dan lututnya berantukan. Kemudian berserulah raja dengan keras, supaya para ahli jampi, para Kasdim dan para ahli nujum dibawa menghadap. Berkatalah raja kepada para orang bijaksana di Babel itu: “Setiap orang yang dapat membaca tulisan ini dan dapat memberitahukan maknanya kepadaku, kepadanya akan dikenakan pakaian dari kain ungu, dan lehernya akan dikalungkan rantai emas, dan di dalam kerajaanku ia akan mempunyai kekuasaan sebagai orang ketiga.” Tetapi semua orang bijaksana dari raja, yang telah datang menghadap, tidak sanggup membaca tulisan itu dan tidak sanggup memberitahukan maknanya kepada raja. Sesudah itu sangatlah cemas hati raja Belsyazar dan ia menjadi pucat; juga para pembesarnya terperanjat. Karena perkataan raja dan para pembesarnya itu masuklah permaisuri ke dalam ruang perjamuan; berkatalah ia: “Ya raja, kekallah hidup tuanku! Janganlah pikiran-pikiran tuanku menggelisahkan tuanku dan janganlah menjadi pucat; sebab dalam kerajaan tuanku ada seorang yang penuh dengan roh para dewa yang kudus! Dalam zaman ayah tuanku ada terdapat pada orang itu kecerahan, akal budi dan hikmat yang seperti hikmat para dewa. Ia telah diangkat oleh raja Nebukadnezar, ayah tuanku menjadi kepala orang-orang berilmu, para ahli jampi, para Kasdim dan para ahli nujum, karena pada orang itu terdapat roh yang luar biasa dan pengetahuan dan akal budi, sehingga dapat menerangkan mimpi, menyingkapkan hal-hal yang tersembunyi dan menguraikan kekusutan, yakni pada Daniel yang dinamai Beltsazar oleh raja. Baiklah sekarang Daniel dipanggil dan ia akan memberitahukan maknanya!”

Dari catatan purba tentang raja-raja wilayah tersebut kita temukan kebiasaan mengadakan pesta sebelum mereka maju berperang. Tujuannya adalah untuk membangun semangat sambil memperoleh penguatan dari berhala mereka. Jadi, menurut sejarawan Yunani Herodotus, Ahasyweros mengadakan pesta yang dicatat di kitab Ester, adalah untuk mengawali serangan terhadap Yunani. Apabila Nabonidus ayah Belsyazar sudah mengalami kekalahan terhadap Persia, maka pesta yang diadakan Belsyazar ini adalah pesta dengan kesadaran bahwa ia menghadapi perang dalam posisi sudah di ujung tanduk. Maka dalam keadaan mabuk berat dan pesta seks, ia mengeluarkan semua perabot mulia yang diangkut Nebukadnezar dari Bait Allah. Mungkin dengan maksud mencampurkan semua pesta penyembahan berhala itu untuk mendapatkan kekuatan perang yang akan dihadapinya. Atau untuk mengharapkan agar kemenangan Nebukadnezar yang gemilang terjadi lagi. Semua berhala dari emas, perak, tembaga, besi, kayu dan batu dikerahkan dalam pesta itu (ay. 4). Sungguh sikap dan tindakan yang bodoh seperti yang dicanangkan dalam Yesaya 44 dan Yeremia 10.

Upaya Belsyazar untuk membangun semangat dan keberanian itu tiba-tiba sirna ketika muncul tangan manusia menulis di dinding ruang istana, di depan kaki dian dan raja melihat punggung tangan yang sedang menulis itu. Segera saat itu juga Belsyazar “menjadi pucat, pikiran-pikirannya menggelisahkan dia, sendi-sendi pangkal pahanya menjadi lemas, dan lututnya berantukan” (ay. 6). Tampaknya untuk Beklsyazar penampakan tangan dan tulisan itu merupakan pertanda buruk sampai ia seperti kehilangan nyali saat itu juga.

Seperti tindakan Nebukadnezar di pasal 2 dan 4, Belsyazar juga memanggil para dukun Babilonia. Hanya bedanya ia tidak mengancam melainkan menjanjikan akan mengaruniakan kehormatan, kekayaan dan posisi menjadi orang ketiga di kerajaannya – maksudnya, sesudah Nabonidus dan Belsyazar sendiri. Tetapi sebagaimana dalam kisah adu hikmat sebelum ini, semua cerdik pandai itu tidak sanggup mengartikan tulisan tersebut.

Dalam situasi buntu tersebut permaisuri atau mungkin tepatnya adalah ratu atau ibu suri yang dalam peradaban kerajaan-kerajaan kuno selalu memainkan peran sangat besar, datang dan memberitahu Belsyazar tentang Daniel. Rupanya informasi tentang Daniel tidak diketahui oleh Belsyazar, berarti dalam masa kepemimpinan Belsyazar di Babilonia ia tidak menghiraukan semua yang telah dibangun oleh Nebukadnezar. Ibu suri ini membahasakan kembali siapa Daniel sebagaimana yang diucapkan dalam berulang kali pengakuan Neb ukadnezar: “seorang yang penuh dengan roh para dewa yang kudus!… terdapat pada orang itu kecerahan, akal budi dan hikmat yang seperti hikmat para dewa. Ia telah diangkat oleh raja Nebukadnezar, ayah tuanku menjadi kepala orang-orang berilmu, para ahli jampi, para Kasdim dan para ahli nujum, karena pada orang itu terdapat roh yang luar biasa dan pengetahuan dan akal budi, sehingga dapat menerangkan mimpi, menyingkapkan hal-hal yang tersembunyi dan menguraikan kekusutan” (ay. 11-12).

Penguasa dan sistem kekuasaan boleh berganti, memori tentang tokoh dan peran orang diurapi Tuhan pun seakan menjadi sirna, namun ternyata Tuhan masih menginginkan peran berlanjut dan lebih besar bagi Daniel. Seorang ratu suri dipakai Tuhan untuk akhirnya mengembalikan Daniel ke panggung peran penyataan kedaulatan Allah dalam lingkup politis.

Pelajaran untuk masa kini:

1. Kedaulatan dan kendali Tuhan bisa terjadi bahkan ketika dalam hitungan logika sikon nyatanya seakan mustahil. Jangankan masih berperan sebagai kepala orang berhikmat, bahkan memori tentang Daniel sudah lenyap di era Nabonidus dan Belsyasar. Tetapi dalam kedaulatan dan kendali Tuhan Daniel dimunculkan lagi ke dalam peran penting zaman itu melalui memori ibu suri.

2. Di panggung kekuasaan dan penguasa dunia ini, kecenderungannya adalah yang jahat akan diganti dengan yang sama bahkan lebih jahat lagi, yang bebal diganti oleh yang sama bahkan lebih bebal lagi, yang fasik berganti dengan yang sama fasiknya bahkan lebih. Ini membuat kita waspada agar di samping perlu berperan dalam lingkup kehidupan bermasyarakat secara luas, secara bersamaan tidak menaruh harap berlebihan kepada sistem dan penguasa dunia setara kepada Allah.

3. Untuk orang Yehuda di pembuangan, mungkin dengan makin buas dan tak terkendalinya moral dan kesesatan pemikiran Belsyazar, mereka pun makin tipis harap untuk memperoleh kebebasan kembali. Tuhan mengirimkan tanda yang membuat pengharapan mereka tidak sirna tuntas.

4. Apakah tanda-tanda kedaulatan dan kendali Tuhan Allah untuk Gereja-Nya masa kini, khususnya di Indonesia? Bagaimana orang percaya dapat lebih tajam melihat tanda-tanda Kerajaan di balik dan melebihi fenomena kasat mata panggung sos-ek-bud-pol semata?

Dukung pelayanan literasi Yayasan Simpul Berkat | E-mail: simpulberkat@gamil.com |
Bank BCA – No. Rekening: 0953882377 – a.n. Philip H. S
Categories:

Leave a Comment