Posted on: 21 Juli 2020 Posted by: admin Comments: 0

Daniel 4:8-18

Pada akhirnya Daniel datang menghadap aku, yakni Daniel yang dinamai Beltsazar menurut nama dewaku, dan yang penuh dengan roh para dewa yang kudus. Lalu kuceritakan kepadanya mimpi itu: Hai Beltsazar, kepala orang-orang berilmu! Aku tahu, bahwa engkau penuh dengan roh para dewa yang kudus, dan bahwa tidak ada rahasia yang sukar bagimu! Sebab itu inilah riwayat penglihatan mimpi yang kudapat, maka ceritakanlah kepadaku maknanya. Adapun penglihatan yang kudapat di tempat tidurku itu, demikian: di tengah-tengah bumi ada sebatang pohon yang sangat tinggi; pohon itu bertambah besar dan kuat, tingginya sampai ke langit, dan dapat dilihat sampai ke ujung seluruh bumi. Daun-daunnya indah, buahnya berlimpah-limpah, padanya ada makanan bagi semua yang hidup; di bawahnya binatang-binatang di padang mencari tempat bernaung dan di dahan-dahannya bersarang burung-burung di udara, dan segala makhluk mendapat makanan dari padanya. Kemudian dalam penglihatan yang kudapat di tempat tidurku itu tampak seorang penjaga, seorang kudus, turun dari langit; ia berseru dengan nyaring, demikian katanya: Tebanglah pohon itu dan potonglah dahan-dahannya, gugurkanlah daun-daunnya dan hamburkanlah buah-buahnya! Biarlah binatang-binatang lari dari bawahnya dan burung-burung dari dahan-dahannya! Tetapi biarkanlah tunggulnya tinggal di dalam tanah, terikat dengan rantai dari besi dan tembaga, di rumput muda di padang; biarlah ia dibasahi dengan embun dari langit dan bersama-sama dengan binatang-binatang mendapat bagiannya dari rumput di bumi! Biarlah hati manusianya berubah dan diberikan kepadanya hati binatang. Demikianlah berlaku atasnya sampai tujuh masa berlalu. Titah ini adalah menurut putusan para penjaga dan hal ini menurut perkataan orang-orang kudus, supaya orang-orang yang hidup tahu, bahwa Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, bahkan orang yang paling kecil sekalipun dapat diangkat-Nya untuk kedudukan itu. Itulah mimpi yang telah kudapat, aku, raja Nebukadnezar; sekarang engkau, Beltsazar, katakanlah kepadaku maknanya, sebab semua orang bijaksana dari kerajaanku tidak dapat memberitahukan maknanya kepadaku; tetapi engkaulah yang sanggup, karena engkau penuh dengan roh para dewa yang kudus!”

Alangkah beda narasi Nebukadnezar yang hanya 4 ayat untuk kembali gagalnya para orang berilmu, ahli jampi, orang Kasdim, ahli nujum mengartikan makna mimpi dan penglihatannya, dibanding ketika ia menarasikan interaksinya dengan Daniel. Pertama, tentang interaksinya dengan para ahli klenik Babil, Nebukadmezar tidak menarasikan bagaimana ia memaparkan isi mimpi dan penglihatannya. Ini menyiratkan bahwa ada semacam pengakuan bahwa ia tidak mendapatkan hikmat, petunjuk atau manfaat apa pun dari interaksi dengan para ahli klenik budayanya sendiri. Kedua, ketika menyebut tentang Daniel ia menggabungkan dua hal. Kesatu, ia masih menyebut Daniel dengan Beltsazar, nama yang ia berikan kepada Daniel dalam rangka mengubah jatidiri Daniel. Bahkan, dalam narasi ini ia menegaskan bahwa Beltsazar itu adalah nama “menurut nama dewaku,” – sambil mengakui bahwa dalam diri Daniel yang melalui fakta-fakta sebelumnya sampai diangkat menjadi “kepala orang berhikmat” terbukti bahwa ia penuh dengan “roh para dewa yang kudus.” Pengakuan lainnya dari lidah Nebukanezar ialah, “aku tahu… bahwa tidak ada rahasia yang sukar bagimu.” Luar biasa! Raja yang sombong, sewenang-wenang, kini meninggikan seorang buangan yang bahkan dengan cara apa pun tidak dapat ia cuci otak, ubah pendirian dan keyakinannya. Dan ucapan kesadaran dan pengakuan itu, wajar bila menimbulkan gelitik pertanyaan di pembaca nas ini. Apakah Nebukadnezar sampai di titik tersebut telah mengalami perubahan kepercayaan? Pasal 4 ini memperlihatkan ada semacam progres dalam diri Nebukadnezar tentang kesadaran dan sikapnya kepada Allah Daniel, Hananya, Misael dan Azarya, Tuhan Allah para buangan asal Yehuda. Sesudah mengalami isi mimpinya dan artinya disingkapkan, lalu melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Allah menyelamatkan Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari dapur api buatannya, kini ia sedang mengalami gumulan hebat bukan saja tentang dirinya, kuasanya, kerajaannya, tetapi lebih penting dan dalam lagi dari semua itu adalah tentang Yang Mahatinggi sesembahan para buangan Yehuda itu. Perlu kita ingat bahwa pujian di awal pasal ini adalah akibat ia sudah melalui pengalaman dahsyat di seluruh pasal 4 ini. Maka, ucapan tentang “roh para dewa yang kudus” ini masih memperlihatkan proses gumulan keyakinan dan kepercayaan Nebukadnezar – yang berarti masih bersifat politeistis meski dalam kondisi yang makin goyah.

Lalu Nebukadnezar menceritakan kepada Daniel “pikirannya di pembaringan dan penglihatan-penglihatannya” yang menggelisahkan hatinya. Ia melihat sebuah pohon tinggi sampai ke langit di pusat bumi, sedemikian tingginya sampai terlihat dari seluruh bumi. Daunnya indah, buahnya berlimpah sampai mencukupi kebutuhan makanan semua makluk hidup di naungannya. Bahkan kerindangannya menjadi tempat binatang bernaung dan burung bersarang. Kemudian ia melihat seorang penjaga, seorang kudus turun dari langit. Penjaga memerintahkan agar pohon itu ditebang sampai semua dahan dan daunnya serta buahnya berhamburan sampai semua binatang dan unggas lari darinya. Tetapi masih disisakan tunggul pohon itu dalam keadaan terikat dengan rantai besi dan tembaga, serendah tanah dan dibasahi embun dari langit sambil ia mengambil bagian dengan rumput di bumi. Anehnya, dari suara penjaga itu keluar pernyataan bahwa pohon itu adalah pribadi manusia, sebab dikatakan “sampai hati manusianya berubah menjadi hati binatang” dan kejadian itu akan berlangsung selama tujuh masa. Lalu penegasan bahwa kejadian itu adalah keputusan “penjaga dan orang kudus” dengan tujuan agar Yang Mahatinggi diakui sebagai yang berkuasa atas kerajaan manusia dan mengendali penuh jatuh bangun kerajaan dan siapa yang diangkatnya ke posisi kekuasaan tanpa memandang besar atau kecil asal orang itu.

Sebenarnya cukup dengan akal sehat sudah terkesan bahwa ada kemiripan antara mimpi Nebukadnezar pertama dan kedua ini. Juga ada tekanan yang mirip dengan fakta kegagalannya untuk mengendali apalagi memaksa para sahabat Daniel untuk menuruti perintahnya tentang pemujaan patung. Semua ini menyiratkan bahwa ia tidak mahakuasa, ia terbatas, ia tidak punya kendali. Andai saja Nebukadnezar mengizinkan akal sehatnya bekerja melampaui kehausannya akan kuasa dan kemuliaan fana, ia paling tidak sanggup menangkap pesan minimal dari mimpi keduanya ini. Tetapi, butuh seorang Daniel untuk dengan berani memaparkan pesan dan keputusan ilahi itu kepada Nebukadnezar.

Pelajaran untuk masa kini:

1) Pesan utama dari pasal ini dapat kita tangkap dengan menempatkan diri kita sebagai Daniel dkk., dan semua orang buangan Yehuda. Bayangkan bagaimana hati mereka yang dalam tekanan penjajah dan penaluk mendengar pengakuan demi pengakuan dan pujian tentang Allah yang Mahatinggi. Juga, bagaimana pemikiran dan hati orang Yehuda menangkap bagaimana YHWH mereka memperlakukan bangsa dan raja penakluk, jumawa dan sewenang-wenang itu.

2) Harapan di balik kenyataan yang seolah tanpa harapan, bisa kita dapatkan dan hayati apabila kita melihat ke balik kenyataan kasat mata ke kenyataan yang hanya dapat dilihat oleh mata rohani beriman dan setia.

3) Kesadaran dan mungkin proses pertobatan di kalangan para penguasa yang tidak kenal dan takut Tuhan, terjadi melalui perjumpaan dan interaksi riil dengan kehidupan dan peran nyata para manusia ilahi. Kiranya kita menyadari dan melakukan panggilan bersaksi dan memuridkan itu dengan tekun, setia dan berani yang juga sabar serta berhikmat.

4) Dari perspektif doktrin, Nebukadnezar dan orang lain mana pun punya “terang batin” yaitu penyataan umum yang membuat mereka tidak dapat memberi alasan di hadapan penghakiman Tuhan. Tetapi, penyataan umum saja tidak cukup untuk menghasilkan iman dan pertobatan sejati, perlu penyataan khusus yaitu terang firman dan pertolongan Roh yang menginsyafkan dan memimpin orang ke dalam kebenaran yang menyelamatkan. Inilah pentingnya kesaksian dan pemuridan.

Dukung pelayanan literasi Yayasan Simpul Berkat | E-mail: simpulberkat@gamil.com |
Bank BCA – No. Rekening: 0953882377 – a.n. Philip H. S
Categories:

Leave a Comment