Posted on: 23 Juli 2020 Posted by: admin Comments: 0

Daniel 4:28-37

Semuanya itu terjadi atas raja Nebukadnezar; sebab setelah lewat dua belas bulan, ketika ia sedang berjalan-jalan di atas istana raja di Babel, berkatalah raja: “Bukankah itu Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan?” Raja belum habis bicara, ketika suatu suara terdengar dari langit: “Kepadamu dinyatakan, ya raja Nebukadnezar, bahwa kerajaan telah beralih dari padamu; engkau akan dihalau dari antara manusia dan tempat tinggalmu akan ada di antara binatang-binatang di padang; kepadamu akan diberikan makanan rumput seperti kepada lembu; dan demikianlah akan berlaku atasmu sampai tujuh masa berlalu, hingga engkau mengakui, bahwa Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya!” Pada saat itu juga terlaksanalah perkataan itu atas Nebukadnezar, dan ia dihalau dari antara manusia dan makan rumput seperti lembu, dan tubuhnya basah oleh embun dari langit, sampai rambutnya menjadi panjang seperti bulu burung rajawali dan kukunya seperti kuku burung. Tetapi setelah lewat waktu yang ditentukan, aku, Nebukadnezar, menengadah ke langit, dan akal budiku kembali lagi kepadaku. Lalu aku memuji Yang Mahatinggi dan membesarkan dan memuliakan Yang Hidup kekal itu, karena kekuasaan-Nya ialah kekuasaan yang kekal dan kerajaan-Nya turun-temurun. Semua penduduk bumi dianggap remeh; Ia berbuat menurut kehendak-Nya terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi; dan tidak ada seorangpun yang dapat menolak tangan-Nya dengan berkata kepada-Nya: “Apa yang Kaubuat?” Pada waktu akal budiku kembali kepadaku, kembalilah juga kepadaku kebesaran dan kemuliaanku untuk kemasyhuran kerajaanku. Para menteriku dan para pembesarku menjemput aku lagi; aku dikembalikan kepada kerajaanku, bahkan kemuliaan yang lebih besar dari dahulu diberikan kepadaku. Jadi sekarang aku, Nebukadnezar, memuji, meninggikan dan memuliakan Raja Sorga, yang segala perbuatan-Nya adalah benar dan jalan-jalan-Nya adalah adil, dan yang sanggup merendahkan mereka yang berlaku congkak.

Bagian ini menceritakan tentang penghukuman atas Nebukadnezar dan pemulihan dirinya oleh kebaikan Tuhan Allah. Mulai ayat 28, kisah tersebut bukan lagi Nebukadnezar yang menceritakan tetapi oleh narator. Tentu saja dalam keadaan hilang pikiran sehat manusiawi dan berganti dengan pikiran dan perilaku binatang, ia tidak mungkin menjadi narator pengalamannya itu.

Babilonia bukan dibangun oleh Nebukadnezar, sebab Babil sudah dikenal sektiar dua milenia sebelum Nebukadnezar. Paling tidak peradaban di Babil sudah dicatat sedini pasal 1 Kitab Kejadian. Namun demikian, memang benar bahwa Nebukadnezar adalah orangnya yang membangun kembali, meluaskan, membesarkan kuasa Kerajaan Babilonia sampai menjadi kerajaan yang menakutkan dan diperhitungkan oleh kerajaan-kerajaan lain sekitarnya zaman itu. Catatan tentang Zigurat dan bangunan-bangunan lain termasuk yang dikagumi oleh sejarawan Yunani, Herodotus. Gerbang Istar yang dibuat dari batu mulia warna-warni, dan apalagi Taman Gantung yang ia ciptakan untuk istrinya yang berasal dari pegunungan, menjadi salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia.

Nah, kemungkinan besar ketika ia di puncak kejayaannya dan sewaktu berada di taman gantung yang seakan memindahkan kebun dan gunung ke atas atap istananya, sambil mengagumi keindahan dan keluasan seluruh wilayah yang telah ia taklukkan, ia berkata kepada dirinya sendiri: “Bukankah itu Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan?” Ucapan ini menggemakan secara positif dan bukan baru dalam bentuk tekad seperti ucapan mereka yang membangun menara Babil di Sinear (Kejadian 11), pastinya adalah penyangkalan terhadap peringatan Tuhan melalui mimpi dan penjelasan oleh Daniel. Ini adalah ucapan seorang yang meninggikan diri, sombong, seakan menantang Tuhan Allah yang sebelumnya sudah beberapa kali memberikan peringatan dengan berbagau cara, peristiwa dan orang. Maka, Tuhan pun bertindak mewujudkan apa yang sudah diperingatkannya.

Raja belum habis bicara, ketika suatu suara terdengar dari langit: “Kepadamu dinyatakan, ya raja Nebukadnezar, bahwa kerajaan telah beralih dari padamu; engkau akan dihalau dari antara manusia dan tempat tinggalmu akan ada di antara binatang-binatang di padang; kepadamu akan diberikan makanan rumput seperti kepada lembu; dan demikianlah akan berlaku atasmu sampai tujuh masa berlalu, hingga engkau mengakui, bahwa Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya!” Pada saat itu juga terlaksanalah perkataan itu atas Nebukadnezar, dan ia dihalau dari antara manusia dan makan rumput seperti lembu, dan tubuhnya basah oleh embun dari langit, sampai rambutnya menjadi panjang seperti bulu burung rajawali dan kukunya seperti kuku burung.

Tiba-tiba Nebukadnezar menjadi gila. Ia merasa dirinya seakan lembu atau domba atau kambing – binatang pemakan rumput. Raja yang sedemikian besar kuasanya yang meninggikan diri sampai setara sesembahan dengan membangun patung dirinya untuk disembah, tiba-tiba kini direndahkan dan menghinakan diri sendiri dengan merasa, berpikir, berkesadaran dan berkelakuan binatang. Dalam psikiatri ini disebut sebagai “boanthropy” yaitu beranggapan dan berkelakuan seperti binatang pemakan rumout, yang bisa terjadi disebabkan oleh hipotisme, sugesti (atau sugesti diri), mimpi, dll. (Sila cek Wikipedia tentang boanthropy). Apa pun sebab persis kejiwaannya, nas ini mengatakan bahwa suara dari surga yang memerintahkan itu terjadi atas diri Nebukadnezar.

Sedemikian parahnya penyakit Nebukadnezar. Tetapi, obat dan jalan keluar dari kegilaan itu sederhana sekali. Hanya dengan menengadah ke langit – yang artinya ini merupakan gestur dari ungkapan kesadaran diri dan pengakuan akan kedaulatan dan kemuliaan Tuhan Allah, lalu tiba-tiba Nebukadnezar sembuh, waras, bahkan dipulihkan ke kekuasaannya semula sebagai raja agung Babilonia.

Lalu Nebukadnezar “memuji Yang Mahatinggi dan membesarkan dan memuliakan Yang Hidup kekal itu, karena kekuasaan-Nya ialah kekuasaan yang kekal dan kerajaan-Nya turun-temurun. Semua penduduk bumi dianggap remeh; Ia berbuat menurut kehendak-Nya terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi; dan tidak ada seorangpun yang dapat menolak tangan-Nya dengan berkata kepada-Nya: “Apa yang Kaubuat?” Pada waktu akal budiku kembali kepadaku, kembalilah juga kepadaku kebesaran dan kemuliaanku untuk kemasyhuran kerajaanku. Para menteriku dan para pembesarku menjemput aku lagi; aku dikembalikan kepada kerajaanku, bahkan kemuliaan yang lebih besar dari dahulu diberikan kepadaku. Jadi sekarang aku, Nebukadnezar, memuji, meninggikan dan memuliakan Raja Sorga, yang segala perbuatan-Nya adalah benar dan jalan-jalan-Nya adalah adil, dan yang sanggup merendahkan mereka yang berlaku congkak.”

Beberapa poin menarik di akhir kisah ini. Seluruh kisah ini adalah sebab dari pembukaan mengherankan di awal pasal ini, yang dibuat oleh Nebukadnezar sendiri. Di akhir pengalaman membesarkan diri dan direndahkan, memuliakan diri lalu dihinakan ke taraf binatang, Nebukadnezar membuat beberapa pengakuan penting: memuji, membesarkan, memuliakan Tuhan Allah. Menyebut Allah dengan sebutan “Yang Hidup kekal” – mengakui Allah saja yang kekal, semua lainnya fana. Mengakui kekuasaan dan pemerintahan Allah kekal dan yang sejatinya memerintah atas generasi-ke-generasi manusia, yang semua lainnya di bumi tidak mungkin dibandingkan apalagi disetarakan dengan Dia, dan yang memegang kedaulatan penuh atas kuat kuasa surga dan seluruh isi ciptaan.

Sesudah pemulihan dirinya, Nebukadnezar mengeluarkan kalimat peringatan tegas: “Raja sorga yang perbuatan-Nya benar dan jalan-jalan-Nya adil itu, “sanggup merendahkan mereka yang berlaku congkak!”

Pelajaran untuk masa kini:

1) Bahkan atas kekuasaan dan penguasa yang sehebat apa pun yang membuat umat seolah hidup di bawah injakan telapak kakinya, Allah dapat memutarbalikkan sampai orang nomor satu dari kekuasaan itu direndah-hinakan sampai batas kekuasaan dan kemuliaan Allah diakuinya (mereka).

2) Peringatan Tuhan berulang kali sampai batas kesabaran-Nya lalu tindakan penghukuman-Nya akan datang, Tetapi, ajaibnya sifat kemurahan Tuhan yang segera memulihkan orang yang bertobat dari dosa-dosanya.

3) Apakah sampai di akhir kisah ini Nebukadnezar berubah menjadi penganut monoteisme Yahudi, kita tidak bisa mutlak dan hanya bisa menduga atau mungkin berharap demikian. Bagaimana pun yang terjadi, hiburan, harapan, penguatan yang datang dari kisah ini kepada umat yang dalam penindasan, inilah pesan utama kisah ini.

4) Pertanyaan relevan untuk pelayanan PI dan penggembalaan: Harus bagaimana mengerti dan menghadapi orang yang sudah berulangkali menerima firman kebenaran dan perjumpaan dengan manifestasi tanda ajaib Tuhan, tetapi tetap keras hati?

Dukung pelayanan literasi Yayasan Simpul Berkat | E-mail: simpulberkat@gamil.com |
Bank BCA – No. Rekening: 0953882377 – a.n. Philip H. S
Categories:

Leave a Comment