Posted on: 22 Juli 2020 Posted by: admin Comments: 0

Daniel 4:19-27

Lalu berdirilah Daniel yang namanya Beltsazar, tercengang beberapa saat, pikiran-pikirannya menggelisahkan dia. Berkatalah raja: “Beltsazar, janganlah mimpi dan maknanya itu menggelisahkan engkau!” Beltsazar menjawab: “Tuanku, biarlah mimpi itu tertimpa atas musuh tuanku dan maknanya atas seteru tuanku! Pohon yang tuanku lihat itu, yang bertambah besar dan kuat, yang tingginya sampai ke langit dan yang terlihat sampai ke seluruh bumi, yang daun-daunnya indah dan buahnya berlimpah-limpah dan padanya ada makanan bagi semua yang hidup, yang di bawahnya ada binatang-binatang di padang dan di dahan-dahannya bersarang burung-burung di udara– tuankulah itu, ya raja, tuanku yang telah bertambah besar dan kuat, yang kebesarannya bertambah sampai ke langit, dan yang kekuasaannya sampai ke ujung bumi! Tentang yang tuanku raja lihat, yakni seorang penjaga, seorang kudus, yang turun dari langit, sambil berkata: Tebanglah pohon ini dan binasakanlah dia, tetapi biarkanlah tunggulnya ada di dalam tanah, terikat dengan rantai dari besi dan tembaga, di rumput muda di padang, dan biarlah ia dibasahi dengan embun dari langit dan mendapat bagiannya bersama-sama dengan binatang-binatang di padang, hingga sudah berlaku yang demikian atasnya sampai tujuh masa berlalu– inilah maknanya, ya raja, dan inilah putusan Yang Mahatinggi mengenai tuanku raja: tuanku akan dihalau dari antara manusia dan tempat tinggal tuanku akan ada di antara binatang-binatang di padang; kepada tuanku akan diberikan makanan rumput, seperti kepada lembu, dan tuanku akan dibasahi dengan embun dari langit; dan demikianlah akan berlaku atas tuanku sampai tujuh masa berlalu, hingga tuanku mengakui, bahwa Yang Mahatinggi berkuasa atas kerajaan manusia dan memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Yang dikatakan tentang membiarkan tunggul pohon itu, berarti: kerajaan tuanku akan kembali tuanku pegang segera sesudah tuanku mengakui, bahwa Sorgalah yang mempunyai kekuasaan. Jadi, ya raja, biarlah nasihatku berkenan pada hati tuanku: lepaskanlah diri tuanku dari pada dosa dengan melakukan keadilan, dan dari pada kesalahan dengan menunjukkan belas kasihan terhadap orang yang tertindas; dengan demikian kebahagiaan tuanku akan dilanjutkan!”

Menimbang respons Daniel ketika mendengarkan paparan isi pikiran dan penglihatan Nebukadnezar dalam mimpinya, tidak dapat kita elakkan kesan adanya sikap hormat dan hubungan cukup dekat antara Daniel dengan Nebukadnezar. Kesan ini kita dapatkan terutama apabila kita bandingkan sikap dan perkataan Daniel kepada Nebukadnezar dengan sikap dan perkataannya kepada Belsyazar di pasal berikut. Pertama, ia sendiri menjadi gelisah. Perhatikan bahwa kegelisahan Daniel ini dipaparkan oleh narator – artinya kesan penutur cerita yang mungkin adalah Nebukadnezar sendiri, melihat gelagat yang diperlihatkan Daniel ketika mendengar paparan Nebukadnezar. Sedemikian gelisahnya sampai perlu Nebukadnezar sendiri memberanikan Daniel untuk bagaimana pun tetap menceritakan artinya. Sekali lagi sikap ragu, hormat dan mungkin dekat dari Daniel kepada Nebukadnezar terdengar dalam ucapannya: “Tuanku, biarlah mimpi itu tertimpa atas musuh tuanku dan maknanya atas seteru tuanku!” Mungkin ini menunjukkan adanya empati dalam diri Daniel. Atau, mungkin ini menyatakan betapa dahsyat implikasi pengertian tentang apa yang Tuhan nyatakan dan akan kerjakan kepada pihak lain dalam jiwa hamba Tuhan sendiri. Atau, bisa juga ia menjadi gelisah karena menduga kemungkinan buruk reaksi Nebukadnezar terhadapnya. Lagi-lagi, kita tidak perlu memutlakkan kesimpulan tentang kegelisahan ini.

Ada perbedaan tentang bagaimana Daniel memaparkan arti mimpi kedua Nebukadnezar dari ketika ia menghadapi kasus mimpi pertama Nebukadnezar. Di pasal 2 Daniel dkk. berdoa meminta penyingkapan dari Tuhan, di peristiwa ini tidak disebutkan secara harfiah. Di pasal 2 mulai dengan Daniel meninggikan Tuhan dan kedaulatan serta kemampuan-Nya, di peristiwa ini lagi-lagi itu tidak dicatat. Apakah ini berarti Daniel sudah menjadi “mahir” dan terbuai dengan posisi “kepala orang berhikmat” dan yang “tidak ada rahasia yang sukar”? Dari membandingkan dengan sikap Daniel di pasal 5, maka kesimpulan bahwa Daniel lupa berdoa dan terbuai posisi serta merasa sudah mahir menjadi ahli melihat dan menafsir mimpi itu, terlalu jauh untuk dapat kita terima. Lebih tepat tidak dimuatnya hal itu adalah karena narasi ini ditulis oleh naratornya yaitu Nebukadnezar sendiri yang belum dalam keadaan sungguh memperhitungkan riilnya hubungan Daniel dengan Tuhan Allah dan dampaknya pada kemampuan Daniel.

Lalu sesudah mengucapkan harapan bahwa arti mimpi itu bukan terjadi pada Nebukadnezar tetapi pada orang lain, Daniel menjelaskan artinya. Pohon itu menggambarkan Nebukadnezar sendiri yang kuasa dan pengaruhnya telah sedemikian besar dan luas sampai ke seluruh dunia, paling tidak yang dikenal dalam konteks sejarah waktu itu. Apabila kita melihat peta dunia Perjanjian Lama, kerajaan Babilonia membentang dari Tigris sampai ke perbatasan Mesir – maka meski ucapan Daniel itu semacam hiperbola namun memang saat itu Nebukadnezar dan Babilonianya sungguh kerajaan adidaya. Tetapi meski sedemikian besar kekuasaan dan kemakmurannya, ternyata baik Babilonia maupun Nebukadnezar tidak bisa langgeng. Ada batasnya. Penguasa sehebat sekejam apa pun bisa terpuruk bahkan pasti akan mati, entah secara alami, atau kena penyakit atau dalam kancah politik masa itu mati dibunuh. Kerajaan sekuat semakmur apa pun sudah terbukti sepanjang sejarah dunia ini, pasti akan silih ganti. Negara, sistem pemerintahan, kekuatan sos-ek-mil-pol tidak ada yang kekal.

Bagaikan pohon yang ditebang dengan disisakan tunggul saja, Nebukadnezar akan dihukum oleh Allah dengan dijadikan gila. Kegilaan yang membuat dia selama 7 masa (simbol dari rentang waktu cukup lama dan sempurna untuk tujuan hukuman dan pelajarannya bagi Nabukadnezar) akan kehilangan akal budi manusianya dan berubah menjadi berkelakuan seperti binatang. Ia akan diusir dari istananya, dibiarkan menggelandang di padang rumput seperti binatang pemakan rumput lain. Karena sedemikian ngeri dan teramat merendah-hinakan prospek itu, Daniel sekali lagi menyampaikan harapan agar hal tersebut tidak terjadi dan Nebukadnezar perlu bertobat. Yaitu dengan berubah menjadi raja yang bertindak adil dan memperlakukan orang lain dengan belas kasihan.

Sayang, nasihat Daniel tidak didengar. Maka kesempatan Tuhan untuk ia bertobat diabaikan, dan akibatnya penyingkapan tentang prospek penghukuman yang merendah-hinakan diri Nebukadnezar itu, harus benar-benar ia alami.

Pelajaran untuk masa kini:

1) Tuhan Allah bukan saja mampu dan berhak menyatakan kehendak dan kebenaran-Nya kepada umat-Nya, Ia juga mampu dan berhak berbuat itu kepada orang yang tidak kenal Dia bahkan yang menyembah sesembahan palsu sekali pun.

2) Dalam teologi kita kenal penyataan umum – contohnya orang majus melihat, mengikuti bintang menuju tempat lahir Mesias, tetapi perlu penjelasan kitab suci (nubuat nabi, yaitu penyataan khusus) untuk kejelasan lanjut pengetahuan yang didapatnya dari bintang itu. Demikian juga dalam kehidupan kita keduanya – penyataan umum dan khusus – perlu kita manfaatkan dan kenali benar.

3) Tuhan luar biasa sabar tanpa kurang tegas dalam perlakuan-Nya kepada para penguasa yang tidak kenal dan tidak takut Dia. Kita perlu banyak berdoa agar para “musuh iman” baik yang berpengaruh kecil atau besar menerima berbagai perlakuan sabar dan “usikan / gangguan” Tuhan itu dan kita boleh berperan menjadi pemaparan arti dan sikap Tuhan Allah itu kepada mereka.

4) Orang percaya harus seimbang menginginkan kesejahteraan orang lain termasuk para musuh iman, sambil tidak kompromi menyatakan kekudusan, keadilan, kebenaran Tuhan Allah sebagai Raja atas segala raja.

Dukung pelayanan literasi Yayasan Simpul Berkat | E-mail: simpulberkat@gamil.com |
Bank BCA – No. Rekening: 0953882377 – a.n. Philip H. S
Categories:

Leave a Comment