Posted on: 21 Juli 2020 Posted by: admin Comments: 0

Daniel 4:1-9

Dari raja Nebukadnezar kepada orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa, yang diam di seluruh bumi:

“Bertambah-tambahlah kiranya kesejahteraanmu!

Aku berkenan memaklumkan tanda-tanda dan mujizat-mujizat yang telah dilakukan Allah yang maha tinggi kepadaku. Betapa besarnya tanda-tanda-Nya dan betapa hebatnya mujizat-mujizat-Nya! Kerajaan-Nya adalah kerajaan yang kekal dan pemerintahan-Nya turun-temurun!

Aku, Nebukadnezar, diam dalam rumahku dengan tenang dan hidup dengan senang dalam istanaku; lalu aku mendapat mimpi yang mengejutkan aku, dan khayalanku di tempat tidurku serta penglihatan-penglihatan yang kulihat menggelisahkan aku. Maka aku mengeluarkan titah, bahwa semua orang bijaksana di Babel harus dibawa menghadap aku, supaya mereka memberitahukan kepadaku makna mimpi itu. Kemudian orang-orang berilmu, ahli jampi, para Kasdim dan ahli nujum datang menghadap dan aku menceritakan kepada mereka mimpi itu, tetapi mereka tidak dapat memberitahukan maknanya kepadaku. Pada akhirnya Daniel datang menghadap aku, yakni Daniel yang dinamai Beltsazar menurut nama dewaku, dan yang penuh dengan roh para dewa yang kudus. Lalu kuceritakan kepadanya mimpi itu: Hai Beltsazar, kepala orang-orang berilmu! Aku tahu, bahwa engkau penuh dengan roh para dewa yang kudus, dan bahwa tidak ada rahasia yang sukar bagimu! Sebab itu inilah riwayat penglihatan mimpi yang kudapat, maka ceritakanlah kepadaku maknanya.

Pengantar:

Kisah di pasal 2 terjadi sekitar dua tahun sesudah pengujian Daniel dkk., yaitu sekitar April 603 – Maret 602. Kisah di pasal 4 ini terjadi sesudah Babel mengalahkan Mesir (588-7) dan Yerusalem (587-6) saat Nebukadnezar sedang di puncak kekuasaan. Maka serangan gilanya terjadi antara 582-575. Pasal 2 dan 4 ini memiliki kemiripan yaitu keduanya menceritakan tentang mimpi Nebukadnezar dan pemaparan tentang artinya oleh Daniel. Perbedaannya adalah dalam mimpi pertama Nebukadnezar lupa isi mimpinya sedangkan yang kedua ia masih ingat. Persamaannya semua orang bijak Babilonia tidak sanggup – bukan saja ketika isi mimpi tidak diceritakan, bahkan mimpi kedua yang isinya sudah diceritakan Nebukadnezar pun, mereka tidak sanggup mengartikannya. Hanya orang yang kepadanya Allah berkenan, yang sejak awal berketetapan untuk setia kepada Tuhan, yang sepanjang kehidupannya mengandalkan pertolongan Tuhan dan memuliakan Dia, yang sanggup berperan dan membawa dampak nyata.

Hal menarik dari pasal ini ialah pendahuluannya dan penulisnya. Ini adalah satu-satunya pasal dalam Kitab Daniel yang tokohnya sendiri menceritakan pengalamannya – bukan melalui pengisahan narator. Di bagian lain yang mengisahkan penglihatan Daniel ada sekali-sekali pemakaian kata ganti orang pertama sebagai penutur pengalamannya, yaitu Daniel. Tetapi hanya pasal 4 ini tokoh sentral kisah ini menjadi narator untuk pengalamanannya sendiri. Pendahuluannya adalah sebuah pujian syukur yang pastinya lahir sesudah ia selesai mengalami peristiwa dahsyat yang akan diceritakan berikutnya. Bayangkan, kita adalah para buangan Yehuda di Babilonia. membaca pujian Nebukadnezar ini ditujukan kepada seluruh suku, bangsa dan bahasa taklukkannya, menyampaikan salam sejahtera, mengakui sampai dua kali tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat yang telah Allah buat, menyebut Allah sebagai yang Mahatinggi dan yang kerajaannya kekal dan pemerintahannya turun temurun – bayangkan dampak dari membaca semua pernyataan ini pada orang buangan Yehuda itu! Paling tidak ini menggelitik rasa ingin tahu orang-orang buangan itu, apa penyebab si raja lalim dan pembangun kekuasaan dengan memperalat agama ini menjadi seperti itu. Dan, untuk kita paling tidak perasaan heran betapa luar biasa bahwa dalam Kitab Suci umat Allah, kanon yang menjadi norma untuk iman dan etika, ternyata Tuhan Allah juga memberikan penyataan-Nya kepada seorang raja kafir tersebut. Ini menjadi dasar tentang yang dalam teologi disebut sebagai penyataan organis – wahyu bukan seperti kitab turun dari langit tetapi bekerja di dalam dan melalui seluruh keberadaan manusia yang digerakkan oleh-Nya.

Perhatikan di bagian awal Nebukadnezar menegaskan bahwa ia dalam keadaan tenang dan senang, hidup dalam istananya di kerajaannya yang adidaya. Agak mirip seperti perumpamaan Tuhan Yesus tentang orang kaya yang mengumpulkan dan menimbun hartanya lalu berpikir bahwa kini ia tenang dan aman tentang kehidupannya masa itu dan berikutnya. Dalam keadaan situasi dan kondisi ekonomi, sosial, politik dan budaya semua “aman terkendali” bagaimana mungkin ia kehilangan suasana hati tenang dan senang itu? Bagaimana mungkin ia mengalami goncangan jiwa dahsyat apabila ia ada di puncak dan segala sesuatu terkesan ada di bawah kendalinya penuh?

Ternyata, ia mendapatkan mimpi lagi. Dan kali ini, seperti halnya mimpi pertama yang ia dapatkan, ia kembali mengalami keterkejutan dan kegelisahan hebat. Apa yang dilihatnya dalam mimpi itu menjadi sebab ia mengalami kejutan hebat. Hanya saja kali itu isi mimpi tersebut masih diingatnya.

Apabila kita kembali kepada teori bahwa mimpin bisa jadi disebabkan oleh: 1) endapan gumulan jiwa sendiri yang muncul dari bawah sadar ke permukaan sadar melalui mimpi, atau 2) Tuhan Allah membangkitkan apa yang ada dalam gumulan sadar atau tidak sadar jiwa ke permukaan untuk menjadi instrumen penyampaian pesan-Nya kepada yang bersangkutan, atau 3) aktivitas dunia gelap di dalam kejiwaan manusia, atau 4) mimpi hanya sekadar bunga-bunga dalam tidur manusia; maka yang dialami Nebukadnezar ini adalah alternatif 1) dan 2) di atas. Artinya, meski di kesadaran dan pengalaman kasat matanya ia merasa tenang dan senang, bisa jadi di lubuk hati terdalamnya ia mengalami rasa bersalah, gelisah, tidak aman, inferior, dlsb. Dan, di puncaknya Tuhan Allah sendiri mengangkat apa yang menjadi kegelisahan bawah sadar itu menjadi alat penyataan Tuhan Allah kepada diri Nebukadnezar.

Sekali lagi semua para berhikmat Babilonia tidak sanggup memenuhi permintaan raja untuk menafsirkan mimpinya. Kegagalan mereka kini lebih hebat daripada di pasal 2, sebab kini isi mimpi telah diberitahu kepada mereka tetapi tetap saja mereka tidak mampu. Ini sekali lagi menunjukkan kesia-siaan kepercayaan kepada klenik, mistik, nujum, dlsb., dan untuk kedua kali hamba Tuhan yang sepenuh hati mengandalkan kuasa dan hikmat Tuhan yang sanggup.

Nebukadnezar kembali mengakui keunggulan Daniel waktu meminta Daniel dihadapkan kepadanya. “Daniel yang dinamakan Beltsazar menurut nama dewaku, dan yang penuh denganj roh para dewa yang kudus.” Demikian Nebukadnezar memaparkan latarbelakang penyingkapan mimpi keduanya dan artinya serta pengalaman dahsyat yang menjadi sebab ia membuka pasal ini dengan salam sejahtera, pengakuan tentang Allah sumber tanda dan mukjizat, serta pemerintahan kerajaan Allah yang kekal,

Pelajaran untuk masa kini:

1) Berharaplah akan kejutan yang mungkin saja Tuhan Allah buat dan izinkan: penguatan, hiburan, pengakuan tentang kedaulatan Tuhan Allah keluar dari orang yang tidak kita sangka-sangka.

2) Jangan pernah mengandalkan sikon makmur, aman, sukses diri sendiri, sikon sos-ek-bud-pol dunia ini, atau bahkan juga keadaan sehat lahir-batin kita sendiri. Kita tidak dapat mengendali penuh semua itu, bahkan listrik, syaraf, kelenjar, molekul, energi yang berlangsung dalam seluruh sistem tubuh-jiwa-roh diri kita bisa saja tiba-tiba “korsleting” dan dunia kita jungkir balik. Hanya Tuhan saja andalan terpercaya kita.

3) Perbuatan dan pengaruh orang setiawan tidak dapat terlupakan dan terhapuskan begitu saja. Memori tentang Daniel masih melekat di Nebukadnezar sehingga langsung ia memanggil Daniel begitu para berhikmatnya gagal.

Dukung pelayanan literasi Yayasan Simpul Berkat | E-mail: simpulberkat@gamil.com |
Bank BCA – No. Rekening: 0953882377 – a.n. Philip H. S
Categories:

Leave a Comment