Posted on: 15 Juli 2020 Posted by: admin Comments: 0

Daniel 3:19-30:

Maka meluaplah kegeraman Nebukadnezar, air mukanya berubah terhadap Sadrakh, Mesakh dan Abednego; lalu diperintahkannya supaya perapian itu dibuat tujuh kali lebih panas dari yang biasa. Kepada beberapa orang yang sangat kuat dari tentaranya dititahkannya untuk mengikat Sadrakh, Mesakh dan Abednego dan mencampakkan mereka ke dalam perapian yang menyala-nyala itu. Lalu diikatlah ketiga orang itu, dengan jubah, celana, topi dan pakaian-pakaian mereka yang lain, dan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. Karena titah raja itu keras, dipanaskanlah perapian itu dengan luar biasa, sehingga nyala api itu membakar mati orang-orang yang mengangkat Sadrakh, Mesakh dan Abednego itu ke atas. Tetapi ketiga orang itu, yakni Sadrakh, Mesakh dan Abednego, jatuh ke dalam perapian yang menyala-nyala itu dengan terikat. Kemudian terkejutlah raja Nebukadnezar lalu bangun dengan segera; berkatalah ia kepada para menterinya: “Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dengan terikat ke dalam api itu?” Jawab mereka kepada raja: “Benar, ya raja!” Katanya: “Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa!” Lalu Nebukadnezar mendekati pintu perapian yang bernyala-nyala itu; berkatalah ia: “Sadrakh, Mesakh dan Abednego, hamba-hamba Allah yang maha tinggi, keluarlah dan datanglah ke mari!” Lalu keluarlah Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari api itu. Dan para wakil raja, para penguasa, para bupati dan para menteri raja datang berkumpul; mereka melihat, bahwa tubuh orang-orang ini tidak mempan oleh api itu, bahwa rambut di kepala mereka tidak hangus, jubah mereka tidak berubah apa-apa, bahkan bau kebakaranpun tidak ada pada mereka. Berkatalah Nebukadnezar: “Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah manapun kecuali Allah mereka. Sebab itu aku mengeluarkan perintah, bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa manapun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu.” Lalu raja memberikan kedudukan tinggi kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego di wilayah Babel.

Respons ketiga setiawan itu membuat Nebukadnezar murka – itu terlihat dari perubahan paras mukanya yang pasti merah padam mirip kemerahan kobaran api yang menyala-nyala dalam dapur untuk menghukum orang yang menolak pemujaan patung itu. Ia langsung memerintahkan agar api ditingkatkan menjadi tujuh kali lebih panas, sedemikian panasnya sampai para abdi yang menaati dia dan menyembah patung itu sendirinya mati hangus. Sadrakh, Mesakh dan Abednego, dengan seluruh pakaian, ornamen yang ia pakai diikat bersama dan dilemparkan ke dalam dapur tersebut.dengan cara ini jelas api akan membuat mereka terbakar langsung baik dari api dapur itu sendiri, juga melalui api yang menyala dari jubah, topi, celana dan pakaian mereka lainnya, bagaikan menjadikan mereka pepes manusia.

Lalu terjadilah hal yang mustahil. Yang pertama melihat itu adalah Nebukadnezar sendiri. Ia sampai bertanya kepada para menterinya bahwa benar yang dilempar tiga orang tetapi kini ada empat orang. Dan empat sosok itu tidak terikat tetapi berjalan-jalan di dalam dapur api itu (ay. 25). Orang yang keempat tampak seperti “anak dewa” (ay. 25). Dengan keingintahuan dan keheranan besar Nebukadnezar sendiri mendekat ke pintu dapur itu dan memanggil Sadrakh, Mesakh, Abednego untuk keluar. Perhatikan ucapannya: “Sadrakh, Mesakh dan Abednego, hamba-hamba Allah yang Mahatinggi” – bukan lagi hamba dari dewa-dewa yang namanya dikaitkan dengan mereka.

Lalu ketika tiga setiawan itu keluar, di hadapan semua unsur kekuasaan Babilonia – “para wakil raja, para penguasa, para bupati dan para menteri raja datang berkumpul; mereka melihat, bahwa tubuh orang-orang ini tidak mempan oleh api itu, bahwa rambut di kepala mereka tidak hangus, jubah mereka tidak berubah apa-apa, bahkan bau kebakaranpun tidak ada pada mereka” (ay. 27).

Tidak dapat mengelak dari kenyataan, Nebukadnezar sendiri langsung tahu dan sadar bahwa keajaiban itu hanya bisa terjadi karena ada intervensi dari pihak Allahnya ketiga setiawan itu. Maka ketika memanggil mereka keluar dari dapur api, ia menyebut mereka “hamba-hamba Allah yang Mahatinggi” (ay. 26), padahal sebelumnya di ayat 15 Nebukadnezar dengan sombong dan mengejek, berkata “Allah mana dapat melepaskan kamu dari tanganku.” Kini ia tahu bahwa Allah tiga setiawan itu sungguh dapat, dan “mengutus malaikat-Nya dan telah melepaskan hamba-hamba-Nya yang menaruh percaya kepada-Nya” (ay. 28). Ia bukan saja membuat pengakuan itu, pengakuan itu dibuatnya dalam pujian. Dan, pujian itu ditempatkannya sebagai dasar untuk membuat sebuah perintah baru: “aku mengeluarkan perintah, bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa manapun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu” (ay. 29). Di akhir, Nebukadnezar memberi kedudukan tinggi kepada tiga setiawan itu di Babil.

Apakah Nebukadnezar sudah berubah makin jauh ke dalam kepercayaan kepada Tuhan Allah yang Esa? Apakah Nebukadnezar telah berubah menjadi raja yang rendah hati, menjalankan kuasa demi kesejahteraan rakyatnya? Dapat ditarik kesimpulan sendiri dari dua petunjuk ini: 1) ia menyebut anak dewa dalam bentuk jamak indefinit. Artinya konsep politeisme masih sangat mendarah-daging dalam penghayatan Nebukadnezar. 2) perintahnya menunjukkan pemaksaan, kesewenangan dan kekejaman. Bahkan sesudah mengalami peristiwa sedemikian dahsyat, tidak mudah bagi seorang Nebukadnezar untuk benar-benar berubah pemahaman, sikap, karakter dan kebijakannya. Namun, proses penyataan Tuhan Allah melalui para hamba-Nya yang setia masih berlangsung ke pasal berikutnya.

Pelajaran untuk masa kini:

1. Kehidupan para pemercaya bisa mengalami pencobaan, ujian, paksaan, ajakan, ancaman, konflik, dlsb. Dalam semua ini kita meyakini bahwa Tuhan Allah pegang kendali penuh.

2. Komitmen iman orang percaya dapat membawa ke dalam sikon yang mengancam kelangsungan hidup, penyelenggaraan Tuhan yang bijak dan baik akan memungkinkan kesaksian tentang kemuliaan-Nya menjadi nyata bagi semua pihak – entah itu melalui intervensi peluputan seperti dalam peristiwa ini, atau dalam “setia sampai mati” seperti yang dialami oleh banyak para nabi dan rasul sepanjang sejarah Alkitab.

3. Di sini kita melihat bukan saja konflik antara tiga setiawan dan Nebukadnezar, tetapi juga konflik antara Tuhan Allah Hananya, Misael dan Azarya terhadap kepercayaan politeistis Nebukadnezar dengan segala dampak buruknya seperti kesewenangan, gila kuasa, kekejaman, penyembahan diri, dlsb. Dengan alat anugerah apa sajakah kita boleh sungguh mengakar dalam kebenaran, bertahan dan menang dalam peperangan rohani ini?

Dukung pelayanan literasi Yayasan Simpul Berkat | E-mail: simpulberkat@gamil.com |
Bank BCA – No. Rekening: 0953882377 – a.n. Philip H. S
Categories:

Leave a Comment