Posted on: 7 Juli 2020 Posted by: admin Comments: 0

Daniel 2:1-16

Pada tahun yang kedua pemerintahan Nebukadnezar bermimpilah Nebukadnezar; karena itu hatinya gelisah dan ia tidak dapat tidur. Lalu raja menyuruh memanggil orang-orang berilmu, ahli jampi, ahli sihir dan para Kasdim, untuk menerangkan kepadanya tentang mimpinya itu; maka datanglah mereka dan berdiri di hadapan raja. Kata raja kepada mereka: “Aku bermimpi, dan hatiku gelisah, karena ingin mengetahui mimpi itu.” Lalu berkatalah para Kasdim itu kepada raja (dalam bahasa Aram): “Ya raja, kekallah hidupmu! Ceriterakanlah kepada hamba-hambamu mimpi itu, maka kami akan memberitahukan maknanya.” Tetapi raja menjawab para Kasdim itu: “Aku telah mengambil keputusan, yakni jika kamu tidak memberitahukan kepadaku mimpi itu dengan maknanya, maka kamu akan dipenggal-penggal dan rumah-rumahmu akan dirobohkan menjadi timbunan puing; tetapi jika kamu dapat memberitahukan mimpi itu dengan maknanya, maka kamu akan menerima hadiah, pemberian-pemberian dan kehormatan yang besar dari padaku. Oleh sebab itu beritahukanlah kepadaku mimpi itu dengan maknanya!” Mereka menjawab pula: “Silakan tuanku raja menceriterakan mimpi itu kepada hamba-hambanya ini, maka kami akan memberitahukan maknanya.” Jawab raja: “Aku tahu benar-benar, bahwa kamu mencoba mengulur-ulur waktu, karena kamu melihat, bahwa aku telah mengambil keputusan, yakni jika kamu tidak dapat memberitahukan kepadaku mimpi itu, maka kamu akan kena hukuman yang sama; dan aku tahu bahwa kamu telah bermufakat untuk mengatakan kepadaku hal-hal yang bohong dan busuk, sampai keadaan berubah. Oleh sebab itu ceriterakanlah kepadaku mimpi itu, supaya aku tahu, bahwa kamu dapat memberitahukan maknanya juga kepadaku.” Para Kasdim itu menjawab raja: “Tidak ada seorangpun di muka bumi yang dapat memberitahukan apa yang diminta tuanku raja! Dan tidak pernah seorang raja, bagaimanapun agungnya dan besar kuasanya, telah meminta hal sedemikian dari seorang berilmu atau seorang ahli jampi atau seorang Kasdim. Apa yang diminta tuanku raja adalah terlalu berat, dan tidak ada seorangpun yang dapat memberitahukannya kepada tuanku raja, selain dari dewa-dewa yang tidak berdiam di antara manusia.” Maka raja menjadi sangat geram dan murka karena hal itu, lalu dititahkannyalah untuk melenyapkan semua orang bijaksana di Babel. Ketika titah dikeluarkan supaya orang-orang bijaksana dibunuh, maka Daniel dan teman-temannyapun terancam akan dibunuh. Lalu berkatalah Daniel dengan cerdik dan bijaksana kepada Ariokh, pemimpin pengawal raja yang telah pergi untuk membunuh orang-orang bijaksana di Babel itu, katanya kepada Ariokh, pembesar raja itu: “Mengapa titah yang begitu keras ini dikeluarkan oleh raja?” Lalu Ariokh memberitahukan hal itu kepada Daniel. Maka Daniel menghadap raja dan meminta kepadanya, supaya ia diberi waktu untuk memberitahukan makna itu kepada raja.

Pasal ini adalah satu-satunya mimpi dan tafsir mengenai kekuatan-kekuatan militer dan politik zaman Daniel periode Nebukadnezar dan selanjutnya. Karena isu isi dan arti mimpi ini, maka kecenderungan kita adalah memikirkan apa yang disingkapkan dalam mimpi Nebukadnezar itu tentang peristiwa-peristiwa mendatang. Padahal jika kita membaca pasal 2 ini sebagai kelanjutan dari pasal 1 dan ayat yang dipakai untuk penjelasan isi dan mimpi Nebukadnezar dibanding sikap Daniel tentang hal tersebut, maka pesan utama pasal ini bukan pada mimpi tetapi pada keutamaan Allah dan hikmat bijaksana ilahi yang Ia berikan kepada para hamba-Nya yang setia dan berkomitmen sambil memberi teguran kepada Nebukadnezar.

Pasal 1 terutama menekankan bahwa disiplin makan Daniel dkk. yang mungkin mengandung makna moral-spiritual-teologis dan politis membuat mereka unggul secara jasmani terhadap para terdidik Universitas Babilonia lainnya. Kini di pasal 2 datang ujian lain ke hadapan para bijak tersebut: menceritakan isi mimpi Nebukadnezar dan memaparkan arti mimpi tersebut. Ternyata Daniel dkk. unggul lagi. Semua orang pandai dan berhikmat di Babilonia menyerah, Daniel dkk. sesudah berdoa dan mendapat penyingkapan dari Tuhan sanggup melakukan keduanya – menceritakan isi mimpi raja dan menyingkapkan artiannya. Daniel dkk., dengan menempuh disiplin diri tersebut bukan saja tidak mengalami kelemahan jasmani, bahkan kini terbukti bahwa mereka juga lebih unggul secara intelektual atau lebih lagi secara keilmuan Mesopotamia yang mencakup bidang meluas dari anatomi organ tubuh untuk meramal, sampai ramalan perbintangan, dan berbagai kesanggupan adikodrati lainnya.

Maka pasal 2 ini seolah panggung pertandingan dua kelompok orang berhikmat. Di satu sisi semua orang Kasdim – Kasdim biasanya dipakai untuk seluruh bangsa Babilonia termasuk Nebukadnezar, tetapi di sini dipakai untuk semua orang cerdik pandai dan berhikmat, yaitu para astrolog, ahli nujum, pelihat, peramal, (sekarang dalam koteks kita di sini dikenal sebagai paranormal, ahli Feng Shui, dukun, orang pintar, ahli mantra, ahli totok aura, guru semedi, pelihat, indigo, dan semacam itu), termasuk Daniel dkk. yang juga sudah diajar dan membaca banyak buku perklenikan Babilonia dan Mesopotamia. Di sisi lain panggung adalah 4 sekawan itu, yang hanyalah orang buangan Yahudi (istilah itu dipakai oleh Ariokh: “orang-orang buangan Yehuda” (ay. 25), yang ternyata sanggup melakukan apa yang diminta raja Nebukadnezar. Dan ini terjadi karena Allah yang mengendalikan panggung sejarah dunia juga melihat sampai ke kedalaman rahasia hati, bawah sadar manusia. Malah mungkin dalam konteks ini, mimpi yang sejatinya adalah apokalip (penyingkapan) tersebut memang dimunculkan oleh Tuhan Allah ke dalam kerumitan kejiwaan Nebukadnezar.

Nebukadnezar bermimpi. Entah ia benar-benar lupa isi mimpinya, atau ia hanya ingin menguji para berhikmat di sekitar dia, kita tidak diberitahu. Ia memanggil semua mereka dan meminta mereka memberitahu isi dan arti mimpinya. Sampai dua kali para berhikmat itu meminta raja menceritakan isi mimpinya dan mengakui bahwa, 1) tidak ada siapa pun di antara para cerdik pandai dapat melihat ke isi mimpi orang lain, 2) tidak ada raja mana pun pernah memberi tugas seberat itu, dan 3) hanya para dewa memiliki kemampuan yang diminta raja.

Dua kali juga Nebukadnezar menjadi marah – marah pertama meningkat menjadi marah besar kali keduanya. Baik janji pahala maupun ancaman akan dibunuh tidak dapat mengubah fakta bahwa semua para berhikmat tidak memiliki kemampuan itu. Di Babel ada cara penyiksaan dimana tangan-kaki orang diikat ke batang pohon, pucuk pohon diikat, lalu sesudah tertarik ketat, ikatan tali dipotong, sehingga pohon2 akan menarik tubuh terikat itu tercabik 4. Meski dengan ancaman itu pun mereka memang tidak bisa berbuat apa2. Hanya para dewa yang bisa. Dalam frustrasi dan marahnya raja memutuskan memusnahkan mereka semua.

Karena Daniel dkk. juga termasuk yang dididik untuk berhikmat Babilonia, ia dkk juga terancam akan dibunuh. Tetapi tanpa ada kesan panik, egois dlsb., dengan bijak dan cerdik ia bertanya kepada Ariokh, “mengapa perintah yang keras itu dikeluarkan oleh raja.” Lalu terjadilah penundaan terhadap pembantaian besar-besaran atas semua orang cerdik pandai.

Situasi Daniel mirip situasi Ester, berdiam diri bukan selamat tetapi akan mati, berusaha sesuatu salah-salah akan mati juga. Bila di pasal 1 Daniel meminta kepada Aspenas agar dibolehkan berganti menu, kini “dengan cerdik dan bijaksana” Daniel menghadap Ariokh dan bertanya. Betapa penting bertanya, mengerti masalah / fakta sebelum bicara / bertindak! Apa tindakan Daniel? 1) menghadap raja dan meminta diberi waktu untuk memberitahukan mimpi & maknanya. Maksudnya Daniel ingin menanyakan Tuhan sendiri; 2) berbagi beban doa kepada tiga sahabatnya.

Pelajaran untuk masa kini:

1) Perjalanan hidup adalah rangkaian komitmen, ujian dan makin bersandar kepada Tuhan, dst. Peristiwa yang menguji itu bisa: 1) menjadi kesempatan untuk berperan lebih besar bisa juga terhenti total, 2) bentuknya kini adalah kontes yang berimplikasi konflik dengan kelompok yang mengandalkan kuasa gelap dan kuasa lain yang bukan dari Tuhan.

2) Dekat Tuhan membuat hamba-Nya tidak panik dalam situasi krisis tetapi pikiran, perasaan, pertimbangan dan tindakan ditandai ketenangan, sikap bijak dalam relasi, pengendalian diri, rendah hati, dan selalu mencari hadirat Allah. Meski pandai dan berilmu menurut kriteria Universitas Babilonia, mereka tetap mengandalkan Tuhan.

3) Catatan: John Calvin dalam tafsirannya menyalahkan Daniel yang meminta supaya perintah raja ditunda. Menurut dia sebaiknya perintah itu dibiarkan dulu terjadi supaya semua para astrolog, praktisi klenik Babil dilenyapkan. Bagaimana komentar Anda?

Dukung pelayanan literasi Yayasan Simpul Berkat | E-mail: simpulberkat@gamil.com |
Bank BCA – No. Rekening: 0953882377 – a.n. Philip H. S
Categories:

Leave a Comment