Posted on: 2 Juli 2020 Posted by: admin Comments: 0

Daniel 1:8-15

Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya. Maka Allah mengaruniakan kepada Daniel kasih dan sayang dari pemimpin pegawai istana itu; tetapi berkatalah pemimpin pegawai istana itu kepada Daniel: “Aku takut, kalau-kalau tuanku raja, yang telah menetapkan makanan dan minumanmu, berpendapat bahwa kamu kelihatan kurang sehat dari pada orang-orang muda lain yang sebaya dengan kamu, sehingga karena kamu aku dianggap bersalah oleh raja.” Kemudian berkatalah Daniel kepada penjenang yang telah diangkat oleh pemimpin pegawai istana untuk mengawasi Daniel, Hananya, Misael dan Azarya: “Adakanlah percobaan dengan hamba-hambamu ini selama sepuluh hari dan biarlah kami diberikan sayur untuk dimakan dan air untuk diminum; sesudah itu bandingkanlah perawakan kami dengan perawakan orang-orang muda yang makan dari santapan raja, kemudian perlakukanlah hamba-hambamu ini sesuai dengan pendapatmu.” Didengarkannyalah permintaan mereka itu, lalu diadakanlah percobaan dengan mereka selama sepuluh hari. Setelah lewat sepuluh hari, ternyata perawakan mereka lebih baik dan mereka kelihatan lebih gemuk dari pada semua orang muda yang telah makan dari santapan raja.

Bagian ini menarik. Karena sesudah “menerima” penggantian nama dan (mungkin juga) pengebirian, kini Daniel dkk. meminta izin untuk tidak memakan diet yang ditentukan raja. Raja jelas menetapkan diet mereka adalah “santapan raja dan anggur minuman raja.” Perhatikan bagaimana ayat 1-7 dengan singkat, cepat menarasikan tentang kejatuhan Yerusalem, pembuangan Daniel dkk. ke Babilonia, penggantian nama mereka, sementara untuk resolusi dan permintaan dan hasil dari menu beda dari hidangan raja butuh lebih banyak ayat. Ini menyiratkan bahwa ada perenungan mendalam dan gumulan cukup lama / sukar sebelum mereka bulat dengan keputusan itu dan akhirnya memetik hasil yang mengherankan. Dan di balik semua itu ada perkenan dan belas kasih Tuhan untuk mereka.

Mereka tidak menolak begitu saja atau melakukan mogok makan – intinya mereka tidak menunjukkan sikap dan tindakan frontal gegabah atau tergesa untuk menentang dan menolak makanan dan minuman itu. Melainkan, sesudah perenungan mendalam baru mereka mengajukan usul atau permintaan agar diet tersebut diganti dengan sayuran dan air minum biasa. Aspenas tidak berani mengabulkan permohonan tersebut, karena khawatir kalau sampai “kamu kelihatan kurang sehat” dibanding para kaum muda terdidik lainnya yang menyantap makanan dan minuman raja.

Daniel dkk. kemudian memohon agar dibuat uji-coba selama sepuluh hari. Dan karena terbukti bahwa tampilan jasmani mereka sehat, bahkan “perawakan mereka lebih baik dan lebih gemuk daripada semua orang muda yang makan dari santapan raja,” maka Aspenas mengabulkan permintaan mereka. Rupanya diet makan sayuran dan minum air biasa itu berlanjut selama tiga tahun pendidikan Universitas Babilonia.

Pertanyaan yang menggelitik ialah, mengapa ganti nama dan belajar ilmu klenik serta dikebiri tidak mereka tolak, sedangkan makan santapan raja mereka tolak? Jawaban pastinya mungkin hanya pembaca masa itu yang tahu dan kita di zaman kini tidak tahu persis. Namun ada beberapa pertimbangan yang bisa dijadikan kemungkinan. Pertama, peraturan santapan (Imamat 11) tentang yang dibolehkan dan yang dilarang (kosher dan non-kosher, istilah sekarang halal dan haram), termasuk bersantap dengan siapa saja yang dibolehkan dan dilarang. Tetapi, dalam peraturan tersebut tidak ada larangan minum anggur dan harus minum air biasa saja. Atau kedua, bisa jadi di kalangan bangsa-bangsa yang tidak mengenal YHWH ada kebiasaan mempersembahkan makanan dan minuman kepada dewa-dewa mereka. Tetapi, tidak seperti di Korintus yang hanya mempersembahkan daging, di Babilonia sayur pun dipersembahkan kepada berhala.

Kemungkinan lain, merujuk ke 10:3, rupanya sesudah tiga tahun masa pendidikan oleh dekrit Nebukadnezar itu, Daniel juga menyantap daging dan anggur. Karena, dikatakan bahwa ketika ia menetapkan untuk berkabung dalam puasa, ia tidak makan daging dan minum anggur. Dengan kata lain, diet Daniel dkk. sesudah masa tiga tahun pendidikan itu kembali seperti biasa meski mengikuti aturan Imamat Lewi 11. Maka, kemungkinan politis bisa dijadikan pertimbangan sebagai alasan mengapa Daniel dkk. menolak ikut makan diet raja. Rupanya makan hidangan raja bukan sekadar isu moral, spiritual dan teologis tetapi isu loyalitas dan ketundukan kepada raja. (Lihat 2 Raja-raja 25:29.) Bisa jadi menolak makanan dan minuman raja adalah pembahasaan “kami menolak untuk tunduk menjadi alat raja” – dan ini mungkin maksud dari mereka tidak mau “menajiskan diri” yaitu dalam arti menundukkan diri menjadi hamba dari raja yang kejam dan fasik dan tidak mengenal YHWH.

Pertimbangan Nebukadnezar untuk orang berhikmat yang ia inginkan adalah tampak sehat. Dari gambaran zaman itu, para penguasa digambarkan berotot, sementara para berhikmat digambarkan berkepala botak, mata besar, dan gemuk. Jadi isu persisnya apa kita tidak bisa mutlak, meski alasan politis itu bisa jadi pertimbangan cukup penting.

Isu yang terpenting adalah, TUHAN Allah berkenan pada keputusan tersebut dan memberkati empat sekawan itu dengan kasih sayang kepala istana, kesehatan dan kebijaksanaan. Pasal ini mulai dari Tuhan Allah yang kudus, berdaulat, mengatur panggung politik dunia, menyiapkan Daniel dkk. memasuki posisi berpengaruh di dalam kerajaan adidaya, dan beroleh kasih karunia Allah untuk berdiri sebagai hamba YHWH dan bukan hamba Nebukadnezar.

Kepada keempat orang muda itu Allah memberikan pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai-bagai tulisan dan hikmat, sedang Daniel juga mempunyai pengertian tentang berbagai-bagai penglihatan dan mimpi. Setelah lewat waktu yang ditetapkan raja, mereka sekalian dibawa Aspenas untuk menghadap Nebukadnezar. Raja bercakap-cakap dengan mereka; dan di antara mereka sekalian itu tidak didapati yang setara dengan Daniel, Hananya, Misael dan Azarya; maka bekerjalah mereka itu pada raja. Dalam tiap-tiap hal yang memerlukan kebijaksanaan dan pengertian, yang ditanyakan raja kepada mereka, didapatinya bahwa mereka sepuluh kali lebih cerdas dari pada semua orang berilmu dan semua ahli jampi di seluruh kerajaannya. (ay 16-20)

Apa artinya ini? Mereka menguasai ilmu bedah liver untuk prediksi sikon, mereka menguasai ilmu perbintangan, mereka tahu semua mitos dan epik penciptaan, air bah, dlsb., mereka unggul melebihi semua para bijak lainnya. Semua akibat kesetiaan dan komitmen mereka kepada TUHAN Allah dan Tuhan memberkati mereka dengan hikmat dan kepandaian.

Pelajaran untuk masa kini:

1) Kita perlu memiliki kesetiaan dan komitmen kepada Tuhan sedini mungkin, agar dapat membedakan sejauh mana kita dapat dan boleh berinteraksi dan belajar dari kebudayaan luas, pada isu apa kita harus mengambil garis pisah yang jelas dan tegas. Keputusan awal ini pasti berpengaruh pada keputusan dan kemampuan lain sesudahnya, seperti pada peristiwa dapur api, gua singa, kemampuan melihat mimpi raja dan menafsirkannya.

2) Ada hal yang kadang kita anggap besar (ganti nama, dikebiri dll.) untuk Daniel dkk. zaman itu) mereka anggap masih bisa dijalani, ada hal kecil (untuk kita mungkin, yaitu kuliner dan sikap politis) yang ternyata justru mereka sikapi dengan tegas. Bagaimana kita dapat memiliki kepekaan seperti mereka? Kita perlu memiliki tidak saja moral-spiritual yang lurus tetapi juga dalam seluruh aspek kehidupan luas termasuk aspek sosial-ekonomi-politik.

3) Di akhir pasal ini Nebukadnezar harus menyadari bahwa ia tidak berkuasa atas Daniel dkk. dan yang ia atur tidak menentukan kondisi Daniel dkk. melainkan perkenan Tuhan Allah yang menentukan kondisi Daniel dkk. Bagaimana realitas ini boleh kita pupuk dalam interaksi sosial-ekonomi-politik kita masa kini?

Dukung pelayanan literasi Yayasan Simpul Berkat | E-mail: simpulberkat@gamil.com |
Bank BCA – No. Rekening: 0953882377 – a.n. Philip H. S
Categories:

Leave a Comment