Posted on: 2 Juli 2020 Posted by: admin Comments: 0

Daniel 1:3-7

2. Lalu raja bertitah kepada Aspenas, kepala istananya, untuk membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan, yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim. Dan raja menetapkan bagi mereka pelabur setiap hari dari santapan raja dan dari anggur yang biasa diminumnya. Mereka harus dididik selama tiga tahun, dan sesudah itu mereka harus bekerja pada raja. Di antara mereka itu ada juga beberapa orang Yehuda, yakni Daniel, Hananya, Misael dan Azarya. Pemimpin pegawai istana itu memberi nama lain kepada mereka: Daniel dinamainya Beltsazar, Hananya dinamainya Sadrakh, Misael dinamainya Mesakh dan Azarya dinamainya Abednego. (Daniel 1:3-7)

Kelaziman waktu itu adalah kerajaan yang ditaklukkan dijadikan bawahan kerajaan yang menang dan dituntut membayar upeti. Juga kerajaan yang menang akan meminta yang kalah mengirim SDM mereka untuk dijadikan pegawai dengan tujuan memantapkan cengkeraman penjajahan. Supaya tujuan itu tercapai SDM tersebut harus melalui pendidikan berbagai aspek kebudayaan kerajaan penakluk supaya SDM tersebut menjadi serasi dengan pola budaya penakluk dan melaksanakan kepentingan penakluk atas bangsa asalnya (yang takluk). Pada waktu itu mungkin lebih dari empat orang Yehuda yang dikirim ke Babilonia, tetapi hanya Daniel (Allah Hakimku), Hananya (Allah penuh rahmat), Misael (siapa seperti Allah), dan Azarya (Allah pertolonganku). Tindakan pertama “cuci otak” itu adalah nama mereka diganti menjadi Beltsazar (Baal melindungi), Sadrakh (hamba Sin – dewa bulan), Mesakh (bayangan pangeran), Abednego (hamba Ishtar / Nabu). Meski nama-nama baru itu mengandung unsur kepercayaan kepada berhala namun sepertinya tidak ada penolakan dari pihak Daniel dkk. Tetapi tidak berarti bahwa Daniel dkk. menerima saja penggantian jatidiri dengan konsep berhala asing, sebab di bagian berikutnya nama asli mereka yang tetap disebut. Di pasal 3 memang nama baru atas tiga sekawan yang dipakai. Tetapi penyebutan nama-nama tersebut dikaitkan dengan ucapan para Kasdim. Ini berarti bahwa jatidiri Daniel, Hananya, Misael dan Azarya tetap dalam perspektif keumatan, meski ada upaya dari kekuatan Babil yang ingin mengubah itu. Artinya, sejauh pemanggilan nama masing-masing, mereka belum merasa perlu membuat garis pemisah jatidiri mereka dari kebudayaan yang tidak percaya TUHAN Allah.

Tidak dijelaskan berapa usia mereka waktu itu. Yeladim bisa berarti remaja atau bahkan teruna. Merujuk bahwa Daniel masih berperan penting sampai tahun ke-3 Koresy (536 SK) maka waktu ia dkk. diangkut (606 SK), kemungkinan masih berusia 12-16 tahun.

Empat sekawan itu memenuhi kriteria istana: “orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja, supaya mereka diajarkan tulisan dan bahasa orang Kasdim (ay. 4). Istana mementingkan baik tampilan jasmani maupun kemampuan jiwani. Untuk kepentingan peluasan pengaruh kerajaan Babilonia, Nebukadnezar memasukkan mereka ke proses pendidikan “Universitas Babilonia” untuk diajar “tulisan (literatur atau sastra) dan bahasa orang Kasdim.” Zaman itu, Aramaik adalah bahasa percakapan sedangkan bahasa sastra dan literatur adalah Akadian. Bukan saja Akadian adalah bahasa yang sangat sukar, isi sastra dan literatur yang harus mereka pelajari sangat berbahaya dan dapat meracuni iman kepercayaan mereka yang bersumber dalam firman-firman yang diwahyukan Tuhan Allah. Misalnya, mereka pasti harus membaca beragam mitos dan epik dari Mesopotamia, termasuk Enuma Elis dan Atrahasis. Ini adalah kisah penciptaan dunia dan manusia versi Babilonia dimana dikisahkan Marduk si dewa kepala mencipta melalui peperangan antar para dewa. Juga mereka pasti mendapat masukan tentang Epik Gilgames, mitos air bah yang melibatkan ketegangan dan tipu daya para dewa Enlil, Ea, dan Utnapistim. Dengan kata lain kurikulum Universitas Babilonia itu bisa meracuni iman percaya mereka akan YHWH satu-satunya Allah yang benar dan sejati.

Itu masih belum apa-apa dibanding hal lain yang harus mereka pelajari yaitu perklenikan atau perdukunan Babilonia. Dari literatur Babilonia yang ditemukan oleh arkeologi kita dapatkan praktik bedah hati binatang dan menafsirkan kondisinya, menafsir nasib melalui perbintangan, dan dalam konteks kitab Daniel ilmu menafsirkan mimpi menjadi bagian penting dalam perklenikan Babilonia. Sekali lagi, pendidikan yang harus dilalui oleh Daniel dkk. berbahaya karena memercayai ilah-ilah palsu yang dapat mengacaukan iman kepada TUHAN Allah, dan mempelajari metode pedukunan yang dilarang oleh Hukum Taurat.

Mengingat pada zaman itu kelaziman untuk para pegawai ring inti istana untuk dikebiri (Aspenas dalam bahasa asli disebut kepala sida-sida / pegawai istana yang dikebiri), maka sangat mungkin Daniel dkk. pun harus dikebiri. Dan bila memang demikian, melalui proses ini di samping penggantian nama, pun mereka masih tidak menunjukkan keberatan atau penolakan.

Pelajaran untuk masa kini:

1) Ada masa ketika orang percaya mau tidak mau terpaksa belajar tentang apa yang diajarkan, diyakini, dipraktikkan oleh kebudayaan yang bertentangan dengan kebenaran Alkitab. Proses tersebut membutuhkan keber-akar-an yang dalam dan kokoh orang percaya di dalam Alkitab dan aliran penguatan tanpa putus dari Roh Allah.

2) Proses belajar hal yang dari dunia ini dapat dipakai Tuhan untuk membuat kita lebih tajam beda dari hikmat dunia, bahkan sampai mengalahkan para berhikmat menurut dunia ini.

3) Memang orang percaya harus berani bukan saja tampil beda melainkan berani berbeda dalam akar-akar kepercayaan, namun kapan dan tentang apa beda itu perlu kepekaan bersumber Alkitab dalam hikmat Roh Kudus.

Dukung pelayanan literasi Yayasan Simpul Berkat | E-mail: simpulberkat@gamil.com |
Bank BCA – No. Rekening: 0953882377 – a.n. Philip H. S
Categories:

Leave a Comment