Posted on: 14 November 2020 Posted by: admin Comments: 0

Dampak Tulisan Media Cetak (bagian 2)

Kedua, media cetak menyebabkan pementingan objektivitas dan kenormatifan. Salah satu argumen yang sering dikemukakan tentang kebenaran Alkitab adalah bahwa dituliskannya Alkitab membuat firman Tuhan menjadi objektif, normatif, dan otoritatif. Bagaikan dalam transaksi hukum ada hitam atas putih yang tidak mudah diubah disangkali atau dilanggar seenaknya. Dampak berikut dari media cetak adalah objektivitas. “Ada tertulis!” Jika hanya “ada dikatakan” atau “ada diceritakan” akan terasa kurang objektif sebab memori dan tafsir tiap orang akan sangat subjektif dan menjadi relatif.

Pola pikir kebudayaan modern sangat gemar akan objektivitas dan bukti. Kebenaran, kepercayaan bahkan pengalaman inginnya dilihat dalam fondasi objektivitas. Tulisan dan cetakan memungkinkan individu mengambil jarak dari hal yang tertulis dan tercetak. Kebenaran dan kepercayaan harus didasarkan atas fondasi yang objektif. Subjektivitas cenderung dianggap kelemahan dan rentan keliru. Pemisahan dan pembedaan antara subjek dan objek ini tidak dikenal dalam budaya primitif. Hampir tidak mungkin menemukan dalam kebudayaan pramodern orang mempelajari kebenaran sebagai objek tanpa subjek yang mempelajarinya terlibat penuh dan kebenaran itu menjadi subjektif juga.

Objektivitas tentu tidak sama sekali salah. Objektivitas kebenaran iman memungkinkan kita memiliki keamanan dan jaminan bahwa kita tidak memegang sesuatu yang berasal dari diri sendiri. Menarik diri untuk dapat melihat dan menilai sesuatu (masalah, konflik, dll.) dengan objektif juga hal yang baik. Namun demikian apabila objektivitas ditarik ke ekstrim menjadi objektivisme itu bisa menjadi hal yang tidak sehat. Iman dan kerohanian bukan hanya sesuatu yang perlu objektif dan bisa tanpa keterlibatan subjek ybs. Isi Alkitab bukan sekadar berisi proposisi-proposisi tanpa narasi subjektif sarat di dalamnya. Belum lagi nas-nas yang memang sifatnya naratif, puitis, hikmat, dan apokaliptik yang sangat bersifat atau lahir dari keterlibatan subjektif penulisnya, pembaca pertamanya dan dimaksudkan untuk melibatkan Roh Penginspirasi juga Pengaplikasi menciptakan interaksi subjektif mulai dari penulis asal, ke para pembaca berikut dari zaman ke zaman. Tambahan kesan yang ditimbulkan dari merasa tahu tafsir objektif dari nas Alkitab rentan arogansi rohani. Kita tahu objektif, percaya objektif. Ini bukan saja mengandung kekuatan pemecah-belah dalam Tubuh Kristus, juga mendukakan Roh Kudus sebab seolah tidak memberi tempat bagi karya pengaplikasian Roh untuk mensubjektifkan nas Alkitab ke pembaca masa kini. Lebih-lebih objektivisme akan menghasilkan orang Kristen yang mementingkan “tahu” mereduksi pengalaman, perasaan, afeksi, dst.

Jikalau ada dua macam perspektif melihat kisah para raja PL (Raja-raja dan Tawarikh), serta ada empat pengisahan unik tentang narasi Yesus Kristus, khotbah, perbuatan-Nya (Matius, Markus, Lukas, Yohanes), mengapa kita harus memaksakan hanya satu penghayatan iman, satu tafsiran Injil, satu praxis keumatan Gereja? Jikalau Paulus yang paling terkenal linear dan objektif memaparkan tentang keselamatan sendirinya memakai banyak formula tentang apa itu keselamatan yang masing-masingnya sarat konteks budaya masa itu, mengapa kita harus memaksakan semua paparan itu – pembenaran, pengampunan, pengangkatan anak, pembaruan, pendamaian, pengudusan, oamuliaan – harus sebagai Ordo Salutis yang linear? Jikalau sepanjang Alkitab sendiri dan sejarah gereja ada nuansa-nuansa kaya tentang arti salib Yesus Kristus yang menghasilkan keselamatan, mengapa kita hanya mengutamakan penjelasan penggantian dan mengabaikan misalnya pengertian tentang perang rohani (Christus Victor)? Poin saya di sini, objektivitas media cetak bisa ke ekstrim memiskinkan kekayaan kebenaran dan perbuatan Allah.

Justru subjektivitas dalam mengerti nas Alkitab dan menghayati Kekristenan adalah keindahan, kekayaan dan bagian dari misteri Allah. Padahal bukan saja rasio dan objektivitas menjadi jendela terang dan karya Allah memasuki kehidupan kita. Emosi, pengalaman, pencerapan, pengalaman indra, dan banyak lagi lainnya juga adalah pintu-atau-jendela masuknya kebenaran dan karya Tuhan dalam diri kita. Dan kalau ini kita terima maka iman, Injil, pemuridan, penataan ibadah, dlsb. juga akan wajarnya menjadi lebih semarak dan lebih ilahi-manusiawi secara simultan.

Categories:

Leave a Comment