Posted on: 10 Februari 2020 Posted by: admin Comments: 0

Bi-kultural

Pada waktu itu, ketika Musa telah dewasa, ia keluar mendapatkan saudara-saudaranya untuk melihat kerja paksa mereka; lalu dilihatnyalah seorang Mesir memukul seorang Ibrani, seorang dari saudara-saudaranya itu. Ia menoleh ke sana sini dan ketika dilihatnya tidak ada orang, dibunuhnya orang Mesir itu, dan disembunyikannya mayatnya dalam pasir. Ketika keesokan harinya ia keluar lagi, didapatinya dua orang Ibrani tengah berkelahi. Ia bertanya kepada yang bersalah itu: “Mengapa engkau pukul temanmu?” Tetapi jawabnya: “Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim atas kami? Apakah engkau bermaksud membunuh aku, sama seperti engkau telah membunuh orang Mesir itu?” Musa menjadi takut, sebab pikirnya: “Tentulah perkara itu telah ketahuan.” Ketika Firaun mendengar tentang perkara itu, dicarinya ikhtiar untuk membunuh Musa. Tetapi Musa melarikan diri dari hadapan Firaun dan tiba di tanah Midian, lalu ia duduk-duduk di tepi sebuah sumur. Adapun imam di Midian itu mempunyai tujuh anak perempuan. Mereka datang menimba air dan mengisi palungan-palungan untuk memberi minum kambing domba ayahnya. Maka datanglah gembala-gembala yang mengusir mereka, lalu Musa bangkit menolong mereka dan memberi minum kambing domba mereka. — Keluaran 2:11 dst.
Selama 40 tahun (Kisah Rasul 7:22-23) Musa diasuh, dididik, mengakar, terbentuk¬† dalam dua pengaruh budaya yang kuat — Ibrani dan Mesir. Kemungkinan pembentukan dari keluarga asalnya terjadi pada masa ketika ia disusui ibunya sendiri sampai usia ketika pendidikan dari keluarga angkatnya dimulai. Andai asuhan keluarga asal dan pendidikan dari keluarga angkatnya itu berlangsung terpisah, maka yang pertama relatif jauh lebih singkat dibanding yang kedua. Artinya, wajar bahwa Musa lebih memiliki hikmat, cara berpikir, jatidiri, pola kelakuan seorang Mesir ketimbang sebagai seorang Ibrani. Tetapi nas mengatakan bahwa saat ia meninjau kerja paksa yang Mesir berlakukan kepada orang Ibrani, ia datang kepada saudara-saudaranya. Dengan kata lain, kepekaan, jatidiri, “sense of belonging”-nya bukan dengan Mesir tetapi dengan Ibrani. Ini menurut Ibrani 11:24-27 disebabkan oleh satu faktor yaitu IMAN! Artinya, ketika diasuh oleh keluarga aslinya, ia telah menerima iman Ibrani dan meski masa itu singkat saja, namun itu telah mengakar dan menyatu dengan dirinya.
Sayangnya, dalam episode ini Musa merasa dirinya sudah siap menjadi pembebas Ibrani dengan mengandalkan cara, strategi, kebijakan dan otoritas Mesir. Ternyata bahkan oleh sesama saudaranya Ibrani sendiri pun ia ditolak. Dan peristiwa pembunuhan mandor Mesir dan penolakan oleh pekerja rodi Ibrani ini memaksa dia untuk menyingkir ke padang gurun. Kini mulailah “pengasuhan”, pendidikan, pembentukan fase kedua. Peristiwa pertama mengerjakan bukan saja prakarsa dalam diri Musa tetapi juga kesediaan melakukan pekerjaan penolong — dari biasa memerintah di istana kini melakukan sendiri pekerjaan kasar, manual yang biasanya dilakukan oleh para budak di Mesir.
Proses macam apakah yang Tuhan kerjakan dalam kehidupan orang-orang yang disiapkan menjadi instrumen-Nya? Sebagaimana Musa, semua kita pun mengakar dalam dwi kebudayaan, dwi kewargaan — surgawi-duniawi, Proses pemurnian, “unlearning,” “de-schooling,” re-moulding apa sajakah yang harus kita alami supaya layak berekanan dengan Tuhan dalam karya Kerajaan-Nya? Di dalam pelatihan di STT, pembinaan untuk para aktivis / pegiat gerejawi kita, kebijakan duniawikah, atau hikmat ilahikah yang lebih diutamakan? Pembentukan gaya Mesirkah atau karakter dan sikap hambakah yang dibentukkan ke dalam kita? Sesudah IMAN, penanaman dan pembentukan apa lagi yang perlu kita tempuh?
Mari memberkati sesama melalui pelayanan literasi Yay. Simpul Berkat. Kirim dukungan Anda ke: BCA 0953882377

 

Categories:

Leave a Comment