Posted on: 28 Mei 2020 Posted by: admin Comments: 0

Berpegang pada Perjanjian Tuhan

Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. — Keluaran 19:5-6
Yesus adalah jaminan dari suatu perjanjian yang lebih kuat. .. Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka — Ibrani 7:22, 25
Ia telah mendapat suatu pelayanan yang jauh lebih agung, karena Ia menjadi Pengantara dari perjanjian yang lebih mulia, yang didasarkan atas janji yang lebih tinggi. Sebab, sekiranya perjanjian yang pertama itu tidak bercacat, tidak akan dicari lagi tempat untuk yang kedua. Sebab Ia menegor mereka ketika Ia berkata: “Sesungguhnya, akan datang waktunya,” demikianlah firman Tuhan, “Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan dengan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka, pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Sebab mereka tidak setia kepada perjanjian-Ku, dan Aku menolak mereka,” demikian firman Tuhan. “Maka inilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu,” demikianlah firman Tuhan. “Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan mereka tidak akan mengajar lagi sesama warganya, atau sesama saudaranya dengan mengatakan: Kenallah Tuhan! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku. Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka.” Oleh karena Ia berkata-kata tentang perjanjian yang baru, Ia menyatakan yang pertama sebagai perjanjian yang telah menjadi tua. Dan apa yang telah menjadi tua dan usang, telah dekat kepada kemusnahannya.  — Ibrani 7:6-13
Apa maksud dari “perjanjian” sebagaimana dipakai dalam Alkitab?
1. Perjanjian terkait dengan beberapa konsep, antara lain: 1) pernyataan persetujuan dua pihak tentang berbagai pokok, 2) tindakan angkat sumpah yaitu ikrar mengikat diri ke dalam janji yang sangat serius, 3) pernyataan akibat dari melaksanakan atau melanggar sumpah tersebut, dan 4) upacara yang diadakan untuk melambangkan semua unsur tersebut. Biasanya itu diadakan antara pribadi dengan pribadi atau pribadi dengan suku bangsa atau suku bangsa dengan suku bangsa, yaitu dalam bentuk mengeluarkan darah dari tubuh dan masing-masing meminum darah pihak yang dengannya ia angkat sumpaj perjanjian. Dalam bentuk yang kemudian berkembang upacara diadakan dalam tindakan makan bersama darah / daging korban sembelihan.
2. Dalam Kitab Kejadian konsep perjanjian seperti ini dilakukan oleh Tuhan Allah sebagai pihak yang lebih mulia dan berotoritas kedudukannya yang berinisiatif memberikan perjanjian dan mengikat diri dalam janji setia dengan, misalnya: 1) Nuh, 2) Abraham, 3) keturunan Abraham, dan kini dalam Keluaran dengan anak-anak Yakub, Israel.
3. Meski seluruh konsep perjanjian bersumber dan bergantung pada inisiatif dan kesetiaan sang pemrakarsa — Tuhan Allah merencanakan untuk menjadikan Israel imamat berkerajaan, umat yang kudus — dan Ia menjamin untuk setia menggenapi rencana-Nya, namun ada konsekuensi atau respons aktif umat berpegang pada perjanjian itu dan melaksanakannya. Hanya dengan penggenapan respons taat aktif ini perjanjian Allah akan teralami, mewujud dalam kehidupan umat.
4. Perjanjian Allah bukan saja pemberian sepuluh hukum yang mengatur pengenalan teologis, perilaku spiritual, moral dan sosial. Juga termasuk dalam Perjanjian Lama semua aturan upacara ibadah, korban-korban, dan penegasan tentang konsekuensi taat atau tidak taat.
5. Perjanjian Lama adalah bayang-bayang dari Perjanjian Baru. Perjanjian Baru dipaparkan dalam Kitab Ibrani sebagai perjanjian lebih agung, lebih mulia, lebih tinggi, lebih kuat. Terutama karena tindakan di pihak Allah adalah ketaatan dan korban Yesus Kristus, dan lebih dalam dampaknya karena mengakibatkan firman-firman Allah bukan dituliskan di loh batu teetapi di akal budi dan hati umat.
Karena Perjanjian Baru semulia, sedahsyat, sedalam itu, maka logisnya dampak, tuntutan, akibatnya pada umat yang masuk ke dalam ikatan perjanjian kekal itu dalam tindakan iman, akan jauh lebih riil, signifikan ke dalam kehidupan keseharian kita, kehidupan pribadi, keluarga, ibadah komunitas, ibadah sosial-ekonomi-budaya-politis, dst. Intinya Perjanjian Baru bukan menggampangkan akibat-akibat perjanjian dalam kehidupan umat, melainkan meradikalkan dan mensubstansialkan dampak perjanjian ke seluruh aspek kemanusiaan kita. Dan ini dimungkinkan karena hidup-mati-bangkit-naik Yesus Kristus mengerjakan demi-untuk kita semua yang berikutnya kita kerjakan sebagai tindakan buah iman dan tindakan peniruan pemuridan dalam hubungan menyatu dengan sang Penggenap Perjanjian.

Mari memberkati sesama melalui pelayanan literasi Yay. Simpul Berkat. Kirim dukungan/persembahan kasih Anda ke: BCA 0953882377

 

 

Categories:

Leave a Comment