Posted on: 25 Januari 2020 Posted by: admin Comments: 0

Berlayar ke Roma

Setelah diputuskan, bahwa kami akan berlayar ke Italia, maka Paulus dan beberapa orang tahanan lain diserahkan kepada seorang perwira yang bernama Yulius dari pasukan Kaisar. Kami naik ke sebuah kapal dari Adramitium yang akan berangkat ke pelabuhan-pelabuhan di sepanjang pantai Asia, lalu kami bertolak. Aristarkhus, seorang Makedonia dari Tesalonika, menyertai kami. Pada keesokan harinya kami singgah di Sidon. Yulius memperlakukan Paulus dengan ramah dan memperbolehkannya mengunjungi sahabat-sahabatnya, supaya mereka melengkapkan keperluannya. Oleh karena angin sakal kami berlayar dari situ menyusur pantai Siprus. Dan setelah mengarungi laut di depan Kilikia dan Pamfilia, sampailah kami di Mira, di daerah Likia. Di situ perwira kami menemukan sebuah kapal dari Aleksandria yang hendak berlayar ke Italia. Ia memindahkan kami ke kapal itu. Selama beberapa hari berlayar, kami hampir-hampir tidak maju dan dengan susah payah kami mendekati Knidus. Karena angin tetap tidak baik, kami menyusur pantai Kreta melewati tanjung Salmone. Sesudah kami dengan susah payah melewati tanjung itu, sampailah kami di sebuah tempat bernama Pelabuhan Indah, dekat kota Lasea. Sementara itu sudah banyak waktu yang hilang. Waktu puasa sudah lampau dan sudah berbahaya untuk melanjutkan pelayaran. Sebab itu Paulus memperingatkan mereka, katanya: “Saudara-saudara, aku lihat, bahwa pelayaran kita akan mendatangkan kesukaran-kesukaran dan kerugian besar, bukan saja bagi muatan dan kapal, tetapi juga bagi nyawa kita.” Tetapi perwira itu lebih percaya kepada jurumudi dan nakhoda dari pada kepada perkataan Paulus. Karena pelabuhan itu tidak baik untuk tinggal di situ selama musim dingin, maka kebanyakan dari mereka lebih setuju untuk berlayar terus dan mencoba mencapai kota Feniks untuk tinggal di situ selama musim dingin. Kota Feniks adalah sebuah pelabuhan pulau Kreta, yang terbuka ke arah barat daya dan ke arah barat laut. — Kisah Para Rasul 27:1-12

Aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma. — Roma 1:15

Kerinduan Paulus untuk pergi ke Roma baik untuk berbagi penguatan iman dengan orang percaya di sana maupun untuk berbagi Injil kepada penduduk Roma yang belum percaya, akhirnya terpenuhi. Namun, penggenapan kerinduannya itu mungkin berbeda jauh dari yang ia bayangkan sebelumnya. Ia bukan ke Roma atas usahanya sendiri melainkan atas pengaturan pemerintah Roma; bukan sebagai orang bebas tetapi sebagai tawanan namun dengan kawalan ketat.

Dalam sepanjang perjalanan pelayaran ke Roma itu ia mengalami baik suka mauoun duka, kemudahan maupun kesukaran, penyertaan Tuhan yang nyata maupun berbagai ancaman terutama dari unsur alam. Di awal pelayaran itu ada pertemanan yang pasti sangat berarti dan menguatkan dia — dari Lukas karena sebagai penulis kitab ini ia memakai kata “kami,” juga dari Aristarkhus yang sejak keonaran di Efesus [19:29; 20:4] ikut serta dalam rombongan Paulus dan dalam salam di surat Paulus [Kol. 4:10; Flm. 1:24] selalu disebut sebagai teman dan anggota tim pelayanan Paulus. Bahkan dari Yulius, kepala pasukan yang ditugasi membawa Paulus ke Roma, yang memperlakukan Paulus dengan ramah, sehingga di beberapa tempat yang mereka singgahi Paulus dibolehkan memperbarui persekutuan dengan jemaat setempat.

Dalam perikop ini kita belajar bahwa bahkan sebagai tahanan Paulus menunjukkan prakarsa dan kerelaan memberikan nasihat kepada pihak yang wajarnya lebih berotoritas ketimbang dirinya, Paulus jelas belajar dari berbagai pelayaran misi sebelumnya bahwa masa itu sedang memasuki musim yang berbahaya di laut sehingga kapal tidak berlayar di musim itu. Sayangnya peringatan Paulus tidak didengar, dan pendapat jurumudi dan nakhoda kapal yang lebih didengar.

Baik atau tidak baik masanya tetap “ready” menyatakan firman, bahkan juga berbagi pengetahuan umum yang bijak tentang kehidupan.

Mari memberkati sesama melalui pelayanan literasi Yay. Simpul Berkat. Kirim dukungan Anda ke: BCA 0953882377
Categories:

Leave a Comment