Posted on: 22 November 2019 Posted by: admin Comments: 0

Ada yang Kurang

Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajah daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid. Katanya kepada mereka: “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?” Akan tetapi mereka menjawab dia: “Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus.” Lalu kata Paulus kepada mereka: “Kalau begitu dengan baptisan manakah kamu telah dibaptis?” Jawab mereka: “Dengan baptisan Yohanes.” Kata Paulus: “Baptisan Yohanes adalah pembaptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak, bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus.” Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat. Jumlah mereka adalah kira-kira dua belas orang. — Kisah Para Rasul 19:1-7
Bila kita membaca nas ini bersanding dengan nas tentang Apolos sebelum ini, kita menemukan beberapa kemiripan. Apolos terdidik dalam Perjanjian Lama, sanggup berargumen tentang Mesias, penuh semangat, tetapi hanya mengetahui baptisan Yohanes dan belum sungguh memberitakan Jalan keselamatan dari Allah. Di Efesus — catatan pelayanan kepada mereka sebelum ini adalah pertama, Paulus, kedua Apolos, dan kini Paulus kembali melayani di sana — kita bertemu dengan kelompok orang yang sudah disebut “murid,” “orang percaya,” dan dibaptis (meski ternyata bukan dalam nama Tuhan Yesus tetapi baptisan pertobatan menurut Yohanes Pembaptis), tetapi belum menerima bahkan tidak pernah mendengar tentang Roh Kudus. Padahal, Roh Kudus adalah Roh adopsi menjadi anak-anak Allah, Roh yang mempersaksikan bahwa pemercaya bersangkutan sungguh milik Allah, pewaris janji-janji Bapa, Roh pembaharu hidup.
Apa gerangan menyebabkan Paulus bertanya apakah kelompok di Efesus ini sudah menerima Roh atau belum.  Pertanyaan seperti ini tidak pernah ia tanyakan di tempat lain. Mengingat Roh yang di dalam kehidupan orang mengerjakan pembaruan hidup, membuahkan sifat-sifat Kristus, menghasilkan sifat damai-kasih-sukacita-keyakinan yang teguh, disertai energi rohani yang memampukan yang bersangkutan mengerjakan tanda dan mukjizat, maka kemungkinan kurangnya atau tiadanya tanda-tanda ini membuat Paulus mempertanyakan hal itu. Ternyata, tidak heran, karena mereka hanya dibaptis dalam baptisan pertobatan-penyiapan menyambut Mesias dalam ajaran Yohanes Pembaptis. Berarti memang mereka belum mengalami operasi Roh dalam kehidupan mereka disebabkan belum dibaptis dalam Tuhan Yesus — atau dengan kata lain unsur-unsur pembentuk pemuridan dan kepercayaan mereka masih kurang atau belum sepenuhnya sesuai dengan empat unsur keselamatan dalam Yesus: percaya, tobat, baptis dalam Yesus, dan menerima Roh.
Nas ini menjadi peringatan untuk kita mawas diri. Sudah disebut murid, sudah dianggap pemercaya, sudah terhisab dalam gereja, namun ketika diperiksa lebih dalam ternyata ada yang kurang bahkan cacat sebab satu atau beberapa dari unsur pembentuk keselamatan-pemuridan yang penuh, yaitu: — percaya, — tobat, — dibaptis ke dalam kematian dan kebangkitan Yesus, serta — menerima Roh mendiami dan beroperasi di dalam kehidupan, ternyata kurang.
Kiranya kehidupan Kristen pribadi dan pelayanan kita sepenuhnya menyambut prasyarat anugerah Allah ini.
Mari memberkati sesama di banyak daerah melalui pelayanan literasi Yay. Simpul Berkat. Kirim dukungan Anda ke: BCA 0953882377

 

Categories:

Leave a Comment